Walau Dekat dan Sebentar

Salah kostum, bisa dikatakan demikian. Salah tingkah, itu yang perempuan itu rasakan. Susah payah ia berusaha agar tak (terlalu) kelihatan. Tapi sayang, penampilan anehnya terlanjur ‘menarik’ perhatian.

***

Ahmad baru saja pulang tadarus di mushola ketika tak sengaja ia melihat seorang perempuan dengan penampilan aneh di warung Bu Siti. Jelas perempuan itu tidak sedang ngelindur, tapi mengapa pergi ke warung dengan pakaian tidur? Bukan saja minimnya pakaian yang membuat Ahmad terkejut, tapi karena Ahmad mengenal siapa pemakainya. Selama ini Ahmad mengenalnya sebagai salah satu tetangga yang selalu menjaga cara berpakaian, kecuali malam itu, di warung itu.

Hanya dekat, cuma sebentar. Kurang lebih begitu alasan mengapa sang perempuan ‘nekat’ ke warung dengan pakaian ala kadarnya. Seolah terlupa bahwa warung yang ia datangi adalah salah satu tempat umum. Siapapun bisa datang, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa.

Awalnya memang hanya dia, satu-satunya calon pembeli di warung Bu Siti. Entah apa yang ia butuhkan, tapi satu kesalahan fatal telah ia lakukan. Semestinya pakaian itu ia kenakan di dalam kamar, dan hanya sang suami yang berhak melihatnya.

Tak ada jalan bagi Ahmad untuk menghindar, kecuali mempercepat langkah, menundukan pandangan dan membaca istighfar. Di waktu yang hampir bersamaan, Pak Sholeh yang hendak ke warung terpaksa balik kanan, memilih pulang meskipun kopi belum ia dapatkan. Di seberang jalan, dua orang pemuda terlihat tenang, bahkan terkesan menikmati pemandangan. Astaghfirulloh!

Walau dekat, meski sebentar, jangan pernah berfikir untuk keluar rumah dengan aurat yang terbuka, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing memiliki batas aurat yang berbeda. Jika laki-laki mulai perut (pusar) hingga lutut, maka aurat perempuan adalah seluruh anggota badan, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Tak pernah jauh, syetan selalu berusaha mendekati manusia, menggoda dan menjerumuskan dengan segala tipu dayanya. Syetan selalu berusaha mengikuti apapun yang manusia lakukkan, tak akan tinggal diam hingga manusia mengikuti kemauannya. Tak butuh waktu lama, setiap detik syetan selalu mencari cara, celah untuk mencelakakan manusia. Seperti yang malam itu ia bisikan kepada sang perempuan.

Tak ada orang yang melihat, hanya sebentar dan jaraknyapun cukup dekat. Begitu syetan memasang perangkap. Sayang, sang perempuan terburu mempercayainya. Tak ia perhitungkan akan ada banyak orang yang mungkin ia temui di warung Bu Siti. Dan ketika ia sadar, semua sudah terlambat. Ada laki-laki selain sang suami yang melihat auratnya. Tak bisa ia menyalahkan, bila ada orang yang berusaha mengambil keuntungan dari setiap kesempatan. Menganggap apa yang terlihat mata adalah rejeki yang tak boleh dilewatkan. Astaghfirulloh! Dan syetanpun bertepuk tangan.

Sedekat dan sebentar apapun, tetaplah menjaga adab berpakaian saat keluar rumah. Jangan ciptakan celah sedikitpun bagi syetan untuk mengajak orang berzina pandangan. Kenakan pakaian yang menutupi aurat dengan benar, walau dekat dan sebentar.

http://www.abisabila.com