Ada Apa dengan Yogya?

Belum ada sebulan yang lalu, ketika saya pulang dari Brunei, saya memilih bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebagai tempat landing saya. Alasannya, bukan hanya karena lebih tenang, tapi karena saya mempunyai sejarah sendiri dengan kota itu. Dan di atas DIY, pesawat yang saya tumpangi terbang begitu lama. Sampai-sampai saya sempat berpikir, ada apa di bandara Adi Sucipti itu?

Kebetulan saya duduk persis di dekat jendela. Sehingga dengan leluasa saya dapat melihat pemandangan di luar dengan jelas. Sejak memasuki pulau Jawa, pesawat yang kami tumpangi, terbang begitu rendah. Sehingga saya dengan leluasa bisa menikmati daratan dari atas.

Seorang penumpang di belakang saya, menunjukan tentang posisi gunung merapi yang sedang aktif, pantai Prangtitis yang kebiriuan, pusat kota Yogya yang begitu padat dengan jejeran rumah-rumah, sawah di daerah Sleman yang hijau membentang, dan tak ketinggalan juga Bantul, salah satu kabupaten di DIY yang paling parah akibat gempa tektonik yang berkekuatan 5,9 skala Richter tersebut.

Tak ada satu mahlukpun di dunia ini yang mengira, bahwa keindahan itu akan luluh lantah oleh dahsyatnya gempa hanya dalam hitungan detik. Termasuk saya dan para penumpang pesawat yang pada waktu itu menikmati kecerahan Yogya, tak pernah sedikitpun berpikir akan ada ribuan orang yang melayang nyawanya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin bernostalgia kembali ke kota gudeg itu, setelah sekian lama merantau keluar dari pulau Jawa. Ingin jalan-jalan lagi di Malioboro tempat dulu saya menjual koran. Ingin kembali duduk santai di stasiun kereta api Tugu, tempat saya dulu melepas lelah setelah berjualan. Dan ingin menikmati lagi ‘sega’ kucing di depan kraton.

Tak hanya itu, saya juga ingin bertemu kembali dengan penjual baju bekas yang mirip seorang Sufi di depan hotel Garuda. Ingin berjumpa lagi dengn pemuda asal Bantul yang memberi saya pekerjaan saat saya jadi gelandangan di Malioboro. Dan ingin ngobrol dengan kawan-kawan para komunitas seni yang berpangkalan di daerah Bantul.

Dulu, orang tua saya, pernah mengatakan, jika saya bisa kuliah, kuliahlah di Yogya. Saya tidak tahu alasan bapak saya mengatakan seperti itu. Tapi yang jelas, ketika saya bisa tinggal agak lama di Yogya, dan sempat “kuliah” di Malioboro, pasar Bringharjo dan stasiun kereta api Tugu,, banyak sekali ilmu yang saya dapat.

Dan sejak itu saya nyaris selalu jatuh cinta dengan Yogya. Maka kalau ada kesempatan ke kota itu, biasanya saya menyempatkan untuk nginep, walaupun satu malam. Nongkrong sebentar di kawasan bekas “almamater” saya, Malioboro. Melihat aktifitas bermacam-macam jenis orang. Dari pengemis jalanan, pedagang kaki lima, para turis mancanegara, orang-orang berduit yang berbelanja, sampai para seniman jalanan.

Saya menjadi ingat seorang teman di Jakarta yang setahun lalu mengirim e-mail kepada saya, dan mengomentari tentang Yogya dan orang-orang yang pernah tinggal di kota itu.

Entah kenapa, saya sejak dulu jatuh cinta dengan Yogya. Saya lolos UMPTN ke UGM, walau tidak jadi kuliah di sana. Dan kemudian nyaris selalu “jatuh cinta” pada orang-orang dan alumni Yogya.

Orang-orang dan teman-teman yang saya kenal, danpernah kuliah atau “kuliah” di Yogya adalah selalu sosok-sosok yang luar biasa. Luar biasa jalan hidupnya, cara berpikirnya dan cara bersikapnya. Ada apa dengan Yogya sehingga menghasilkan sosok-sosok seperti itu? Wallahua’lam.

Tanpa bermaksud mengagung-agungkan Yogya, dan terlepas dari ‘luar biasa’ nya orang-orang yang pernah menempa diri di kota itu, yang jelas Yogya adalah kota pendidikan. Ini diakui oleh siapa saja. Karena di sini berserakan banyak sekali perguruan tinggi. Yang ‘nota bene’ nya adalah gudangnya ilmu.

Jika pada saat ini gempa bumi terjadi di daerah Yogya dan sekitarnya, barangkali sang Pencipta sedang memberi kembali gudang ilmu kepada kami semua. Karena ilmu secara tekstual yang kita dapat seringkali baru sebatas kita hapal, belum bisa sepenuhnya kita aplikasikan dalam aturan syariat-Nya dalam kehidupan keseharian.

Sehingga dengan bencana ini, kita disuruh kembali untuk meng-iqra diri kita sendiri. Biar lebih cerdas dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan. Sebab betapa rawannya saat ini, hanya karena sepatah kata, kita bisa berbuat anarkis kepada siapa saja. Apa lagi kalau sudah sampai kepada taraf pro kontra UU. Seolah permasalahan hidup berbangsa ini tak kan pernah menemui titik penyelesaian. Dan bencana Yogya, tak hanya sebatas bencana, namun perlu kita renungi bersama. Walaupun rahasia Allah selalu tidak bisa dijangkau dengan akal manusia.

*****
Purwokerto, Mei 06. <[email protected]>