Ayat-Ayat Cinta

Tak terhitung sudah Allah SWT berfirman lewat ayat-ayat ‘kauniah’-Nya. Dalam beberapa tahun terahir ini, serasa tak mampu kami menghitung berapa kali kejadian alam yang terjadi di dunia ini, termasuk di Indonesia. Dari angin ribut, tanah longsor banjir, kebakaran hutan, gunung meletus, gempa biasa, sampai gempa di dasar laut sana yang disertai dengan gelombang tsunami.

Adakah yang perlu disalahkan dalam musibah ini? Adakah yang perlu di-kambing hitamkan-kan dalam kejadian yang tak diinginkan ini? Tentu tidak ada. Tidak pak lurah, camat, bupati gubernur, presiden dan tidak juga para insinyur giologi dan pakar gempa yang belum bisa mengantisipasi lebih cepat tentang akan adanya gempa atau musibah lainnya.

Jika sudah sampai ke batas itu, maka tak mungkin ada kesia-siaan dari segala kejadian yang menimpa kita, walaupaun pada dasarnya betapa sulitnya kita menafsiri apa di balik kejadian itu semua, karena betapa minimnya ilmu kita.

Orang-orang mengucap istighfar, termasuk yang sedang terlupa. Orang-orang menunduk untuk sementar waktu, karena Allah sedang berfirman lewat alam. Dan jika Sang Pencipta sudah berfirman dengan alam semesta ini, tak ada satu mahlukpun di dunia ini yang tidak tercengang. Maka sudah selayaknyalah kita cepat-cepat untuk mengagungkan-Nya. Jangan sampai kita pelit untuk membaca takbir, tahmid dan tahlil.

Sekedar sebuah ‘ibrah’, barangkali bisa menjadi sebuah cermin bagi kita. Ada sebuah cerita yang saya temukan di sebuah pagi. Saya mendapati tetangga saya, baru saja memberi pelajaran kepada anaknya. Anak yang baru kelas dua itu menangis di sudut kamarnya. Saya melihat tangannya kebiruan karena ditampar dengan sandal. Dan katanya ia juga baru saja di masukan dalam bak karena malas mandi.

Tak lama kemudian, ayahnya bicara dengan saya, bahwa ia sudah berkali-kali menyuruhnya untuk pergi ngaji, berbagai kata-kata serapah sering ia keluarkan demi kebaikan sang anak. Namun kata-kata dari ayahnya tidak pernah diindahkan. Ahirnya ia terpaksa, demi kasih sayangnya kepada sang anak, ia bertindak lebih keras. Karena dengan cara lemah lembut sudah tidak dihiraukan lagi. Tujuannya satu, supaya tak selamanya sang anak menjadi pemalas.

“Ini terpaksa saya lakukan Mas. Kalau tidak dengan cara demikian, ia tak mau berangkat ngaji.” komentar bapaknya.

Saya tak bermaksud menyamakan bentuk kasih sayang Allah dengan kasih sayang mahluk-Nya. Sama sekali tidak! Tapi apa yang dilakukan seorang bapak terhadap anaknya itu, sedikit memberi gambaran, bahwa, jangan-jangan kitapun sedang berbuat mundur seperti anak kecil. Yang sudah berkali-kali diingatkan dengan Al-Qur’an, tapi betapa jauhnya kami dengan Al-Qur’an itu sendiri.

Kita sering sekali –meminjam istilah orang Jawa- berebut “balung tanpo isi”. Merebut sesuatu yang sama sekali tak ada gunanya. Virus “takabbur” atau kesombongan seolah sudah menjangkiti otak-otak kita. Sehingga permasalahan sangat kecilpun tak mampu kita selesaikan, karena selalu mengedepankan egonya sendiri-sendiri. Dan hasilnya adalah kebrutalan, kejahatan dan banyak sekali perbuatan yang anarkhis, hanya karena persoalan yang sangat remeh temeh. Itu semua bisa kita lihat dalam tayangan kriminal di seluruh stasiun tv di Indonesia

Semoga semakin hari kita semakin dewasa. Semakin bisa membaca sekaligus men –tadabbur-i ayat-ayat Allah yang disampaikan dengan media alam dan kejadian-kejadian di sekitar kita. Sebab tak mustahil, ternyata apa yang menimpa kita ternyata merupakan bentuk cinta-Nya kepada kita semua. Wallahua’lam.

***
Purwokerto, 06 <[email protected]>