Belajar dari Jogja

“Alhamdulillah Nduk, Ibu tidak apa-apa, Cuma genting-genting rumah kita saja ada beberapa yang berjatuhan”, begitu jawab Ibu ketika saya menanyakan kabar beliau.

Pagi itu saya langsung menelepon ke kampung halaman ketika dikagetkan dengan kabar bahwa gempa dengan kekuatan 5,9 skala Richter baru saja terjadi di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya di Jawa Tengah. Tapi berkali-kali saya telepon, tak juga ada yang mengangkat. Di antara perasaan cemas, alhamdulillah saya bisa mendapatkan kabar dari tetangga bahwa warga kampung itu semua selamat. Akhirnya selepas Ashar,saya bisa menghubungi Ibu, setelah menunggu kira-kira 9 jam. Rupanya Ibu tak berani masuk rumah karena khawatir akan terjadi gempa susulan.

Saya sempat mengkhawatirkan keselamatan Ibu yang tinggal sebatang kara di rumah itu. Apalagi tayangan di televisi memberitakan bahwa Kabupaten Klaten adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah dan banyak korban jiwa berjatuhan. Belakangan saya mengetahui bahwa di seluruh kecamatan tempat Ibu tinggal -yang letaknya di wilayah utara Kabupaten Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali- relatif tidak terjadi kerusakan parah dan tidak terdapat korban jiwa.

Melihat berbagai peristiwa di muka bumi yang menyayat-nyayat hati, seolah-olah saya kembali diingatkan oleh Sang Maha Kuasa akan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya. Sekaya apapun, sepintar apapun, sesehat apapun, dan sekuat apapun, kita tak akan kuasa menandingi-Nya. Sungguh, ketika Allah menghendaki segala sesuatu tinggal berkata, “kun fayakuun” maka terjadilah apa yang dikehendaki Sang Pemilik Jagad Raya.

Kehendak-Nya tak bisa ditunda. Kehendak-Nya bisa membuat manusia tertawa riang atau menangis pilu. Namun yang pasti, kita harus bersikap positip terhadap segala kejadian itu. Rasulullah SAW bersabda,” Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan ia memuji Allah dan bersyukur. bila ditimba musibah, ia memuji Allah dan bersabar…” (HR Imam Ahmad).

Semua peristiwa ada hikmahnya. Dengannya, Allah mengingatkan manusia agar tak bersikap ujub dan takabur. Dengannya, Allah mengingatkan manusia untuk senantiasa bersiap-siap menanti ajalnya. Dengannya pula, Allah mengingatkan manusia untuk senantiasa menyiapkan bekal yang harus dibawa menghadap-Nya. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.