Belajar Menjadi ‘Bapak’

Saya sedang mengalami ‘episode’ kehidupan yang cukup menarik. Paling tidak menarik bagi diri saya sendiri. Dan saya percaya belum tentu menarik bagi orang lain. Sebuah kisah yang runtut, dengan alur cerita yang tidak meloncaat-loncat. Dan alhamdulillah diahiri juga dengan ‘ending’ yang tak kalah menariknya.

Saya ingin sekali menceritakannya kepada orang lain. Atau lebih tepatnya ingin berbagi cerita dengan siapa saja seperti saudara-saudara saya, handai taulan, sahabat, tetangga dan lain sebagainya. Tak ada maksud apapun, kecuali berangkat dari sebuah keyakinan, bahwa setiap jejak langkah manusia, baik yang mengandung tangis atau tawa, manis atau getir, selalu menyimpan hikmah. Walaupun hikmah itu hanya sebesar biji sawi.

Awalnya, beberapa hari menjelang lebaran , seorang sahabat di Jakarta, mengirim artikel pendek kepada saya. Artikel itu mengisahkan tentang salah satu cara Rasulullah berlebaran. Ditulis oleh Bayu Gawtama, sorang penulis yang tulisannya sering saya baca di sebuah situs Islam. Dalam artikel itu ada dialog yang sangat menyentuh antara seorang anak gadis dengan Rasulullah SAW.

“Apakah gerangan yang membuatmu menangis, anakku?” Tanya Nabi. Rasulullah mendekap anak gadis itu. Ternyata ia menangis karena tidak ada yang membelikan baju baru untuk berlebaran.

“Ayahku mati syahid dalam peperangan bersama Rasulullah.” katanya.

“Maukah kamu jika Rasulullah menjadi bapakmu, Aisyah menjadi ibumu, Fatimah sebagai bibimu, Ali menjadi pamanmu serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Ujar Rasulullah SAW.

Anak gadis itu mendongak. Dan ia baru tahu bahwa yang mendekapnya ternyata adalah Rasulullah SAW, bapaknya anak yatim.

Setelah membaca dialog itu saya jadi berpikir. Seandainya yang menemukan anak gadis itu adalah saya, sanggupkah saya dengan serta-merta dan spontanitas bertindak seperti Rasulullah? Yang menawarkan diri untuk menjadi bapaknya? Berhari-hari saya berpikir tentang itu semua.

Masih ada kemiripan dengan cerita tadi, tapi dalam nuansa yang berbeda. Beberapa hari setelah lebaran, ketika saya mau berangkat tidur, tiba-tiba seorang kawan memanggil-manggil saya. Katanya, ada sinetron bagus produksi Indonesia yang ditayangkan TV Brunei. Saya bergegas untuk ikut menontonnya. Ternyata, cerita sinetron itu diambil dari novel ‘Pada-Mu Aku Bersimpuh’ karya Gola Gong. Penulis yang pernah melahirkan novel berseri ‘Ballada Si Roy’ yang populer di tahun 90-an.

Dalam tayangan sinetron yang diproduksi tahun 2001 itu, ada juga sesuatu yang membuat saya sempat tidak bisa melupakannya. Yaitu tentang komentar H . Budiman, tokoh dalam cerita itu, terhadap anak pungutnya yang bernama Ana. Kata H. Budiman, “Ini adalah anugrah yang di kirim Allah kepada saya. Saya harus menjalankan amanah ini baik-baik.”

Saya terus mengikuti sinetron yang ditayangkan setiap malam Jum’at itu. Dan saya menangkap dengan gamblang, bahwa H. Budiman telah membuktikan kata-katanya. Ia telah bertanggung jawab betul-betul kepada anak pungutnya itu. Mendidik, mengarahkan dan juga memberi fasilitas ke jalan lurus berdasarkan syariat-Nya. Dan ia tak pernah membedakan antara anak pungut dengan anak yang dilahirkannya sendiri.

Masih dalam bulan Syawal, juga masih berkisah tentang seorang bapak, tepatnya pada tanggal 17, saya selalu ingat acara rutin tahunan yang selalu diselenggarakan oleh pesantren tempat dulu saya ‘numpang tidur’ beberapa lama. Acara tahunan itu berlabel ‘tasyakur lil ikhtitam’. Sebuah acara syukuran atas berhasilnya para santri menempuh pelajaran dalam waktu satu tahun. Biasanya kami berkumpul bersama. Baik yang masih menempuh pelajaran di pesanten itu, maupun yang sudah jadi alumni.

Saya, biasanya menyempatkan diri untuk datang dalam acara tersebut, kecuali saat ini, sebab saya sedang merantau di luar negri. Bertemu kembali dengan guru, ustaz sekaligus kyai saya, Bapak Abil Abbas. Sosok agamawan yang maih muda. Yang tak pernah mau disebut guru, ustadz maupun kyai. Beliau hanya mau disebut Bapak. Tak lebih dari itu. Sehingga kami para santri, tak pernah satu kalipun memanggil beliau dengan sebutan Kyai. Ini memang tak lazim. Sebab di pesantren-pesantren tradisional lainnya, guru mereka pasti di panggil Kyai, atau bahkan Romo Kyai. sebuah sebutan yang sudah tidak asing lagi dalam komunitas Islam tradisional di pulau Jawa.

Pada awalnya saya juga heran, kepada guru kami itu. Namun pada masa berikutnya saya menemukan jawaban. Bahwa, katanya, hubungan antara bapak dan anak itu, sepanjang masa, bahkan sampai akhirat. Sedang hubungan antara guru dan murid atau santri, pada suatu saat bisa saja terputus ketika kita sudah tidak belajar lagi di tempat yang bersangkutan. Dan ini tercermin pada sikap pak Abil Abbas kepada kami para santrinya. Beliau menganggap kami sebagai anak. Maka kamipun menganggap beliau sebagai bapak kami. Hubungan itupun ahirnya sangat mesra dan erat.

Dan suatu malam, setelah menyaksikan tayangan “Pada-Mu Aku Bersimpuh” di TV Brunei itu, saya menjadi ingat Sang Bapak, di pesantren Al-Hikmah, Baturraden, Purwokerto. Sebuah kenangan yang telah menjadi ‘prasasti’ di kalbu saya.

***

Di ahir bulan Syawal, istri saya di kampung memberi kabar kepada saya. Bahwa ia baru saja menyaksikan seorang bayi laki-laki yang baru lahir dari sepasang keluarga muda. Istri saya sangat iba karena si ibu bayi itu nampak sangat kerepotan dalam mengurusnya, karena kakak bayi itu belum genap satu tahun dan suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Lagi pula bayi itu memang tidak dikehendaki lahir oleh orang tuanya, namun Allah bertindak lain. Kata ibu si bayi, program KB yang ia ikuti tidak berhasil, sehingga terjadi hamil lagi. Dan lahirlah bayi itu.

Ahirnya suatu hari istri saya memberi tawaran, “Bagaimana jika anak itu kita ambil dan kita jadikan anak kami untuk menemani Damar?” Katanya kepada saya lewat SMS-nya.

Saya tertegun sejenak membaca pesan singkat istri saya itu. Tapi berbekal referensi dari Rasulullah yang diceritakan dalam tulisan Bayu Gawtama, dan keseriusan Haji Budiman, yang dikisahkan dalam novel Gola Gong, serta pengalaman hidup dengan ‘bapak’ saya di pesantren Al-Hikmah, dengan mantap saya menyetujui usul istri saya.

Maka mulai hari itu, saya bertekad untuk belajar menjadi seorang ‘bapak’. Bapak dalam arti sangat luas. Yang tidak hanya memberi pendidikan, arahan dan fasilitas bagi anak yang lahir secara ‘genetical’ dari rahim istri saya saja, tapi bagi anak siapa saja yang karena sesuatu hal tidak bisa dipelihara langsung oleh kedua orang tuanya, atau malah memang tidak dikehendaki lahir oleh ibu bapaknya.

Dan ternyata sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang bernasib seperti itu di sekeliling kita. Yang amat sangat membutuhkan uluran tangan serius dari sosok seorang ‘bapak’. Apalagi jika kita mau meluangkan waktu untuk berlama-lama di stasiun, terminal atau tempat-tempat kumuh di kota kita masing-masing. Maka kita akan banyak bertemu dengan anak-anak yang bernasib kurang beruntung. Yang tentunya menunggu sentuhan mesra seorang ‘bapak’.

***

# Terima kasih kepada Mbak Azimah Rahayu, Mas Bayu Gawtama, Mas Gola Gong dan Sang ‘Bapak’ di pesantren Al-Hikmah, Baturraden, Purwokerto.#

Brunei,  <[email protected]>