Catatan (alm) KH. Rahmat Abdullah: Ghirah dan Gairah

Ghirah dan Gairah

Sebuah rumah tangga yang baik ditandai dengan kehormatan dan harga diri warganya. Seorang bapak yang menjual kehormatan anak atau istrinya dengan gemerlap perangkat rumah tangga dan harta melimpah, sama sekali tidak berhak menyandang kehormatan anak seorang manusia sebatas manusia, jangan lagi dalam ukuran hamba beriman.

Para pengambil keputusan di setiap bangsa dengan orientasi dunia dan hidup tanpa aqidah wajar-wajar saja membuka hubungan dengan bangsa predator dan aggressor yang menzalimi sesama bangsa. Mereka tidak perlu mempertimbangkan harga diri dan kehormatan.

Tetapi bangsa beraqidah mempunyai nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai angka rupiah atau dolar. Mereka pasti akan malu kepada hewan yang umumnya punya rasa cemburu dan harga diri.

rahmat-abdullahLihatlah kemarahan harimau atas hilangnya anak tersayang. Atau ingatan yang amat kuat pada seekor gajah sirkus yang merasakan pedihnya kehilangan seorang teman yang mati dubunuh pemburu di hutan. Ingatan itu muncul kembali saat
sang pemburu menonton sirukus beberapa tahun kemudian.

Hanya babi yang tak punya rasa cemburu. Seekor babi jantan baru saja menggauli betinanya lalu dengan dungunya menonton anak kandungnya menggauli sang betina. Itulah toleransi dan hidup damai yang diimpikan pemimpin bermental babi.

Ia tak terusik oleh kekejaman umat lain terhadap umatnya. Ia hanya berfikir bagaimana bangsanya bisa dapat banyak uang dan selamat dari laparnya jasad.

Tentu saja kita tak boleh hidup seperti Yahudi yang setiap datang hari jadi PBB selalu mengelabui kalangan awam untuk menonton film-film perang dunia (baca perang Nazi terhadap Yahudi) untuk menguras air mata pemirsa.

Atau ketika dunia marah lantaran mereka menembaki ibu-ibu, kakek-kakek, dan nenek-nenek serta menjaring bocah-bocah intifadha dengan heli dan menjatuhkannya dari ketinggian!

Jangan ajarkan umat untuk bertoleransi dan melindungi kaum minoritas, karena mereka keturunan leluhur yang telah menjadi guru dunia tentang hak asasi dan toleransi.

Apakah kutukan Allah yang mengubah manusia jadi kera hanya berlaku bagi Bani Israil? Sebenarnya kedewasaan iman dan kematangan akhlaq seorang Muslim tidak perlu merisaukan perubahan itu jasaidah atau ruhaniah.

Apalah artinya kecantikan rupa bila watak dan perilaku telah berubah menjadi rakus, licik, kikir, peniru tanpa pertimbangan, pengimpor kerusakan, dan dekaden. Mengapa masih banyak orang berlapang hati bahwa yang dikutuk jadi kera itu orang dulu, padahal dirinya sendiri telah menjadi kera dan babi.

(K.H Rahmat Abdullah, Warisan Sang Murabbi: Pilar-Pilar Asasi, hlm. 37, Fitrah dan Kejujuran Cinta)

(ts/wa)