Dengan Lima Ribu Rupiah, Anda Bebas Marah?

uangOleh Abi Sabila 

Angkutan umum jurusan Depok – Pasar Minggu ini hanya membawa lima penumpang, satu duduk di depan, empat lainnya di belakang, dan tetap demikian hingga kami sampai di tujuan. Maklum saja, jam tiga pagi, siapa pula yang rela memutus mimpi, meninggalkan selimut hangatnya kecuali orang-orang yang karena kebutuhan, pekerjaan atau terpaksa oleh keadaan.

Duduk di hadapanku dua perempuan setengah baya yang kalau dilihat dari tas plastik yang dibawanya, aku berkesimpulan keduanya hendak ke pasar, berbelanja sayuran dan aneka kebutuhan rumah tangga lainnya. Entah apa yang terjadi sebelum meninggalkan rumah, sepanjang perjalanan salah satu dari mereka terlihat kesal dan sebal. Beberapa kali ia mengumpat ketika sang sopir melajukan mobilnya dengan perlahan, berhenti di depan gang, menunggu calon penumpang.

“Mobil kok kayak siput!”, itu yang pertama ku dengar. Tapi tak lama kemudian, sang perempuan meralat ucapannya. “Mobil kok kaya undur-undur, jalannya maju mundur!”. Perempuan setengah baya itu  terus saja menggerutu, menularkan ketidaknyamanan pada empat penumpang lainnya. Entah dengan sang sopir, apakah ia juga mendengar atau menganggapnya biasa-biasa saja, salah satu resiko dari pekerjaannya.

Aku dan istriku saling berpandangan, menahan senyum, enggan berkomentar. Sebenarnya kegelisahan sang perempuan akibat sang sopir yang melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah juga kami rasakan. Kami harus tiba di terminal Pasar Minggu sebelum jam tiga lewat tiga puluh atau kami harus menunggu bus Damri setengah jam lagi dengan resiko istriku akan telat sampai di bandara, ketinggalan pesawat yang akan menerbangkannya ke Bengkulu. Tapi kesal dan marah-marah tidaklah menyelesaikan masalah. Naik angkutan ini adalah pilihan kami, bukan paksaan sang sopir, ia hanya berhenti menawarkan jasa, lantas kami  naik ke dalam mobilnya. Sebelumnya, lebih dari sepuluh menit kami mengunggu tak ada satupun taksi yang melintas, maka kami putuskan untuk ikut mobil bernomor trayek 04 yang oleh sang perempuan di juluki siput dan undur-undur.

Jujur, laju mobil carry yang kami naiki memang tidak segesit ketika siang hari. Tapi bisa kami maklumi, sang sopir bukan sedang bermalas-malasan, tapi ia berhitung dengan jumlah setoran yang harus dikumpulkan. Jika ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, manalah penumpang yang akan dibawanya, masih jam tiga pagi, hari belum sepenuhnya dimulai. Bisa dimengerti ketika sesekali sang sopir berhenti di depan gang, menunggu  dan melajukan kembali mobilnya, atau terkadang berhenti memundurkan mobilnya ketika sekilas ia melihat ada orang berjalan dari dalam gang, walaupun kenyataannya pil pahit harus kembali ia telan, sejak kami naik jumlah penumpangnya tidak berubah, tidak berkurang tidak juga bertambah. Menurut penilaianku, apa yang dilakukan sang sopir wajar dan biasa, sebagaimana angkutan umum lainnya.

Jika cepat sampai tujuan plus rasa nyaman yang diinginkan, tentunya bukan jenis angkutan umum ini yang harus kami naiki. Apa daya, belum ada kendaraan pribadi, taksi yang ditunggupun tak satupun yang melintas selama sepuluh menit kami berdiri. Benar bahwa naik angkutan umum ini tidak gratis, tapi sejumlah rupiah yang dibayarkan pada sopir, bukan membolehkan kita untuk marah-marah. Masih ada cara yang lebih baik dan santun untuk mengingatkan agar sopir jangan terlalu sering berhenti, terlalu lama menunggu  karena jika ia butuh uang setoran, maka sebagai penumpang kita juga butuh waktu. Pernah dalam satu kesempatan aku terpaksa menegur sopir yang terlalu lama berhenti menunggu calon penumpang hingga membuat penumpang yang ada di dalam mobilnya menjadi gelisah. Tanpa emosi dan amarah, aku hanya bertanya apakah ia masih akan berhenti lama, tapi sang sopir segera paham dengan pertanyaan yang kuajukan. Tak ingin ada lagi penumpang yang turun dan berpindah ke mobil lain, akhirnya ia melajukan mobilnya dan alhamdulillah, baik sang sopir maupun penumpang lainnya sama-sama lega, tak ada marah-marah.

Maka, jika ada yang beranggapan bahwa dengan membayar sejumlah rupiah, lantas kita boleh dan bebas marah-marah, menurutku itu salah. Sejumlah rupiah yang kita berikan adalah pengganti jasa  bagi sang sopir yang telah mengantarkan kita dengan selamat sampai tujuan. Kalaupun kadangkala ada sopir-sopir yang kurang peduli dengan keinginan penumpang, mengabaikan kenyamanan bahkan keselamatan penumpang, kita bisa menegur, mengingatkannya dengan baik-baik, tanpa harus marah dan emosi. Jika sudah diingatkan masih saja demikian, aku pribadi memilih untuk berpindah ke lain angkutan,  jika memungkinkan, jika tidak maka berdoa lebih diutamakan, bukan emosi yang dikedepankan. Sekali lagi, sejumlah rupiah yang kita bayarkan bukan untuk membebaskan kita emosi dan marah-marah.