Sayap-Sayap Mimpi

Tanganku lincah: menggaris, menebalkannya, membetuk huruf demi huruf, mewarnainya dengan warna yang cukup mencolok, menghiasnya, memotong-motong mengikuti arah garisnya, membuat pola lagi, mewarnai lagi, dan akhirnya jadi. Hampir satu jam aku menyelesaikan ini. Waktu yang cukup lama untuk membuat satu frase kalimat saja, namun waktu yang cukup singkat untuk didedikasikan sebagai deklarasi cinta misi. Yah, dari sanalah mimpiku mulai dibangun.

Dari sanalah aku tertidur dengan mata dan hati yang (semoga selalu) terbuka. Ya Rabb, semoga gambar tulisan yang kubuat ini berkah, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Tidak hanya untukku, tapi juga untuk ummat-Mu. Ku baca lagi kata-katanya. Aku semakin yakin. Insya Alloh.

Lalu kutancapkan pada gabus yang tergantung di tembok kamarku. Aku mundur beberapa langkah, mencoba melihat tulisan itu dari jarah jauh. Lalu tersenyum, senang, sekaligus takut. Mimpi yang tinggi. Perjuangan yang berat. Kutatap lagi tulisan itu, lalu kubaca lantang:

“Islamic Family Center”

Mengapa Family? Karena aku yakin, embrio-embrio generasi-generasi pilihan itu terbentuk dari sana: keluarga.

Yah, itulah mimpiku. Dan aku harus menjadi bagian darinya.

***

Adakah yang mengatakan memiliki mimpi itu sulit? Jangan percaya! Itu bohong, karena bermimpi itu mudah. Ia tak perlu modal materi, atau modal yang membuat fisikmu letih. Kau hanya butuh diam, membayangkan dirimu di masa depan, lalu menjawab pertanyannmu sendiri, tentang ingin jadi apa kau di masa nanti. Itu! Jawaban itu adalah mimpimu. Mudah kan?

Adakah yang mengatakan memiliki mimpi itu mudah? Jangan percaya! Itu bohong, karena bermimpi itu sulit. Ia adalah amanah “ghoib” yang Alloh tujukan untukmu. Percayalah, bahwa tidak ada daun yang jatuh tanpa izin-Nya, dan tidak ada mimpi yang terbentuk di pikiran seseorang tanpa sepengetahuanNya.

Mimpi adalah indikasi bahwa kita adalah makhluknya yang mulia karena mimpi seyogyanya adalah hal yang berkaitan dengan ibadah. Maka mimpi adalah amanah. Ketika kita memiliki mimpi dan kita sadar bahwa mimpi kita akan membawa manfaat untuk ummat, untuk Ad-din ini, maka lakukan!

Karena Alloh memberikan kita kesempatan untuk menjadi batu-bata kebenaran. Apakah itu mudah? Tidak! Itulah mengapa memiliki mimpi itu sulit: sulit pada proses pengwujudannya. Lalu bagaimana? Adakah kita menyerah?

***

Islamic Family Center. Satu frase, tiga kata, singkat pula. Mudah! Sangat mudah untuk dibayangkan, sangat mudah untuk direncanakan. Namun sulit, tetap sulit. Karena ia membutuhkan banyak pengorbanan, karena ia membutuhkan banyak orang, karena ia membutuhkan banyak waktu untuk diwujudkan.

Walau dalam timeline-nya, ku tulis dalam jangka waktu 5 tahun aku sudah mampu mewujudkan bibitnya. Namun aku tetap sadar, bahwa tak ada yang dapat tahu apa yang akan ia hadapi di depan, termasuk hambatan, termasuk kemudahan. Bisa jadi baru 10 tahun kemudian dapat diwujudkan. Atau bisa jadi 3 tahun kedepan nanti justru sudah mulai bisa dibentuk. Allahu’alam.

Hasil adalah hak mutak-Nya, sedang aku memiliki hak pada prosesnya. Dan lagi, tiada daun yang jatuh tanpa seizin-Nya, maka tiada proses yang terlaksana tanpa sepengetahuanNya. Maka aku berhati-hati, dalam raga, dalam jiwa, dalam ruh, dalam fikroh. Semoga prosesnya berkah, semoga prosesnya berkah, semoga prosesnya berkah. Mengapa tidak berdoa “Semoga prosesnya lancar”? Allohu’alam.

Karena terkadang hambatan justru memberikan banyak pilihan jalan kemudahan , sedangkan kelancaran justru terkadang memberikan celah kesombongan. Allohu’alam, lagi-lagi Allohu’alam. Semua Alloh yang kuasai. Semua Alloh yang genggam. Maka sulit pasti akan ada, terasa dalam setiap denyut nadi langkah-langkah perjuangan. Lalu apakah aku menyerah?

Ketika tekad telah membuat, memadat, menempet seperti jabang bayi pada rahim, menghitam seperti noda yang tak bisa dihilangkan, maka kata sulit menjadi tantangan. Inilah dasar pemikiran para pemimpi yang tangguh, tak mudah rapuh: KESULITAN ADALAH TANTANGAN! Sekali lagi, KESULITAN ADALAH TANTANGAN! Namun tidak setiap orang mau menghadapi tantangan. Bagaimana denganku? Sungguh, aku takut termasuk orang yang kufur nikmat jika tantangan ini tidak kuhadapi, karena tantangan adalah pintu menuju peningkatan kualitas diri. Maka tantangan harus ku syukuri, dengan cara menghadapinya.

Di sinilah aku, sedang menapakkan langkah pertama dari mimpiku.

Dimulai dari sini…

SAFA Corp

***

SAFA Corp? Haha! Nama apa itu? Aku tertawa! Sungguh tertawa. Tak pernah terbayangkan dalam benakku sebelumnya nama SAFA Corp akan menjadi langkah awal mimpiku. Mengapa SAFA? Corp pula! Siapa aku? Aku bahkan tidak yakin mengapa harus diberi kata “Corp” di akhir kata SAFA. Jadi seperti Trans Corp. Tapi tentu jauh berbeda.

Lalu SAFA? Untuk nama ini, aku tidak main-main. Artinya jernih, murni: gambaran niat awalku melangkahkan kaki pada ranah ini. Ranah fashion. Fashion? Hahaha! Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengapa aku memilih ranah fashion tidak perlu panjang lebar aku ceritakan disini, bukan tempatnya, aku tak ingin promosi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku meyakini ranah ini bisa menjadi entry point menuju langkah-langkah selanjutnya.

Ini adalah wirausaha, maka bohong jika aku berkata ini bukan tentang uang. Namun aku berkata jujur bahwa uang yang kumaksud bukan untuk kapitalisasi, bukan untuk keuntungan sebanyak-banyaknya, bukan untuk menzolimi. Uang harus tetap profesional, menempatkannya pada tempatnya yang haq. Seperti perniagaan Rasulullah, seperti perniagaan Khodijah, seperti kejujuran mereka, seperti keprofesionalan mereka, seperti keikhlasan mereka, seperti kegigihan mereka, karena uang adalah akibat, bukan sebab.

Maka aku tak terkejut, atau takut, atau galau, atau sedih, ketika di dompetku saat ini hanya ada 70ribu sekian untuk jangka waktu yang tidak dapat aku perkirakan. Tapi ini halal. Usahaku sendiri dan aku tidak lagi meminta uang saku. Sekali lagi, uang bukanlah sebab, tapi akibat. Apa yang menjadi sebab? Ridho Alloh! Itu sudah cukup! Lebih dari cukup! Dan aku harus melakukan proses ikhtiarnya dengan maksimal, agar ridhoNya pun maksimal.

Dan di sinilah aku, masih melanjutkan langkah-langkah menuju mimpiku:

Islamic Family Center? itu dia bentuk akhirnya!

SAFA Corp? Ini dia langkah awalnya!

Ini bukan promosi, tapi sekedar ingin menunjukkan makna mimpi. Mimpi yang mandiri. Mimpi yang bergerak. Mimpi yang memiliki visi. Mimpi perwujudan cinta misiku pada jalan ini: jalan Rabb-ku, pencarian menuju ridho-Nya.

Jika kata Anis Matta, cinta pada sebuah misi mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada disepanjang jalan menuju misi itu, maka aku akan mencintai langkah-langkah menuju misi itu, termasuk suka, termasuk duka, termasuk untung, termasuk rugi, termasuk bangun, termasuk jatuh, termasuk kalian, termasuk mereka, termasuk apapun yang aku hadapi.

Jakarta, 21 Januari 2011

Ya Rabb, niat yang lurus itu tidak hanya pada bagian awal, tetapi juga pada bagian proses dan pada bagian akhir. Lunakkanlah hatiku, agar selalu menuju ridho-Mu.

keanggian.wordpress.com/2011/01/21/sayap-sayap-mimpi/