Fitnah Al-Harj, Fenomena Maraknya Pembunuhan Di Akhir Zaman

Ancaman bagi yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja

Karena mahalnya nyawa seorang mukmin, maka membunuhnya secara tidak sengaja pun tetap mendapat hukuman yang berat; dosa kepada Allah harus ditebusnya dengan puasa 2 bulan berturut-turut, kepada keluarga korban harus membayar diyat senilai 100 unta (atau setara 2,5 milyard), dan kelak pada hari kiamat akan Allah pertemukan dengan pihak terbunuh untuk ditegakkan keadilan atasnya.

Jika demikian berat hukuman bagi yang membunuh karena tidak sengaja, lalu bagaimana dengan yang membunuh dengan sengaja?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’: 93)

Dalam satu riwayat disebutkan dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً.

Barangsiapa membunuh seorang muslim lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima taubat dan tebusannya.” (HR. Abu Dawud)

Bukan hanya itu, urusan menumpahkan darah adalah perkara yang pertama kali kelak akan dimintai pertanggungjawaban pada hari berbangkit kelak.

Jika seseorang bisa terbebas dari perkara ini, maka ia akan lebih mudah menghadapi hisab lainnya. Namun jika ia terjerat dalam perkara ini, maka ia pun akan sulit selamat dari perkara lainnya.

Karenanya, nabi saw menyebutkan bahwa manusia yang paling bahagia di akhir zaman adalah mereka yang terselamatkan dari beragam fitnah, terutama fitnah pembunuhan terhadap seorang mukmin.

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad ra, dia berkata: “Demi Allah, aku mendengar Rasulullah saw telah bersabda: “Orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah. Adapun orang yang tertimpa fitnah lalu dia bersabar, maka alangkah baiknya dia.” (HR. Abu Dawud 4263)

Wallahu a’lam bish shawab

[Arrahmah]