free hit counters
 

Ketika Ilmu dan Iman Berbicara

Ada kejadian menarik di awal tahun 2000 lalu yaitu ketika beberapa bulan sebelum saya menikah. Kejadiannya adalah ketika itu heboh berita poligami yang dilakukan oleh salah satu pengusaha yang beragama Islam. Ketika itu saya dan isteri (calon ketika itu) sedang silahturahmi ke rumah teman. Di dalam percakapan kami juga diselingi dengan diskusi mengenai tema di atas yang sedang heboh itu (layaknya acara gosip seperti di televisi kita).

Teman kami mengatakan dengan bersemangat bahwa dengan poligami akan menyakiti hati isteri sebelumnya. Bahkan ada rekan wanita berbicara bahwa dia rela di madu(?) asalkan isteri baru itu lebih tua, lebih jelek atau lebih miskin darinya (subhanallah!). Intinya adalah agar isteri baru suaminya itu lebih kurang dalam segala hal daripada dirinya.

Akhirnya karena diskusi itu cukup seru isteri saya (sekali lagi calon!) akhirnya menimpali dengan kata-kata bahwa yang cukup panjang bahkan ketika berbicara pun tidak mau dipotong. Yang intinya adalah dengan poligami maka akan merusak hubungan suami dengan isteri sebelumnya, akan menyakiti perasaan hati isteri, terjadinya pengkhianat cinta(?!), terjadinya ketidak jujuran di antaranya.

Saat itu hanya saya seorang diri yang tidak sepaham dengan yang lainnya termasuk dengan calon isteri saya. Ingin rasanya saya berkomentar panjang ketika itu, tapi setelah dipikir-pikir, apa yang saya sampaikan nanti bukanya akan memberikan pencerahan tapi bisa jadi akan membikin suasana menjadi keruh. Bahkan bisa jadi hubungan saya dan calon yang sudah terjaga baik akan menjadi buyar. Karena bisa saja dia berpikir “waktu masih calon saja sudah pro poligami apalagi ketika sudah menikah? Jangan-jangan bisa jadi menjadi sponsor utama!!”.



Alhamdulillah setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama ini kami sudah dikaruniai tiga orang putra-putri yang besar sudah berumur 6 tahun, sedangkan yang paling kecil berusia 8 bulan. Selama 6 tahun lebih kami mengarunginya dengan segala aktivitas kami masing-masing di mana sang isteri disibukan dengan mengurus rumah tangga dengan tidak lupa mengikuti aktrivitas tarbiyah yang cukup menyita waktunya.

Akhirnya sampailah pada akhir tahun 2006 di mana ada (lagi) berita heboh tentang menikah laginya salah satu penceramah kondang. Akhirnya isu poligami itu kembali ke permukaan. Sambil kami bincang-bincang di dalam mobil, tak lupa pula saya pancing dengan isu di atas. Dan yang membuat saya terkejut adalah jawaban dari sang isteri. Dia katakan “kita harus mampu membedakan mana itu hukum Allah dan mana kita belum mampu melaksanakan hukum Allah”.

Jawaban isteri yang 6 tahun lalu, sampai menyita waktu 15 menit itu mampu dipersingkat hanya dengan 15 kata!.

Subhanallah! Padahal selama 6 tahun lebih kami menikah, tidak sepatah kata pun sayamenyinggung mengenai poligami. Yang dapat dilakukan adalah sambil memperbaiki diri, kami rajin membeli buku-buku Islami (kebetulan isteri paling hobi membaca buku entah itu ummi, annida, tarbawi atau lainnya). Akhirnya penyakit iseng ku muncul juga, “Kalau begitu, boleh dong saya menikah lagi?”. Dan jawaban terakhir inilah yang membuat saya tersenyum senang,isteri saya menjawab “Saya belum siap”.

Oase Iman Terbaru