free hit counters
 

Kucing dan Aib Kita

Syaifoel Hardy – Kamis, 26 Syawwal 1430 H / 15 Oktober 2009 08:01 WIB

Pagi itu, seperti biasa, saya menunggu jemputan seorang rekan kerja, ke kantor. Jam menunjukkan pukul 05.15. Masih pagi. Memasuki musim dingin di Qatar, jam malam lebih panjang. Di luar gedung tempat kami tinggal, tampak beberapa kucing berkeliaran loncat-loncat keluar masuk gerobak sampah yang disediakan oleh Dinas Kebersihan Kota Doha.

Kucing-kucing ini memang liar dan tidak ada yang ngasih makan. Satu-satunya jalan guna mendapatkan kebutuhan makanan yang mereka lakukan adalah mengorek-ngorek tumpukan sampah ini. Risikonya memang ada. Petugas kebersihan dibikin gerah melihat tingkah laku kucing ini. Memang kucing mana yang bisa diatur? Namanya juga kucing. Sisa-sisa makanan yang telah dibuang dalam bungkusan plastic, atau apapun bentuknya, diodal-adul oleh kucing-kucing liar ini. Sampah yang semula nampak ‘rapi’, jadi amburadul.

Yang saya sorotin bukan tingkah laku kucing dalam mengobrak abrik tempat sampah ini. Atau sikap kucing yang tidak jarang bikin pemilik mobil-mobil yang berjajar di sekitar gedung kami lantaran banyak kucing yang tiduran semalam di atas mobil mereka yang meninggalkan jejak kaki-kaki kucing yang kotor. Yang menjadi perhatian saya adalah, di dekat gerobak sampah itu, saya melihat seokor kucing garuk-garuk tanah, buang air besar di sana, kemudian ditutup kembali.

Pemandangan semacam ini bukan barang asing bagi kita. Lagi pula bagi banyak orang, tidak ada istimewanya. Kucing, di manapun, dari Amerika, Arab, Afrika atau Indonesia, jika melakukan perbuatan serupa, akan sama perilakunya. Saya tidak tahu apakah di Eskimo sana apa ada kucing yang berbuat serupa. Namun sesudah gali lubang, buang hajat, mereka umumnya kemudian menutup kembali lubang yang berisi kotorannya.

Bagi si kucing bisa jadi tidak ada sesuatu yang harus mereka jelaskan, kenapa harus bersikap seperti ini. Namun berbeda dengan manusia. Bagi yang mau mengambil filosofi dibalik semua ini, setidaknya, ada tiga manfaat yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Pertama, kotoran kucing tidak kelihatan. Kedua, polusi bau bisa dihindarkan. Dan yang ketiga, kucing-kucing ini seolah-olah mengajarkan kepada manusia bahwa yang namanya aib, sudah seharusnya ditutup. Jangan diumbar.

*****

Menyimpan atau merahasiakan aib, apakah itu diri kita sendiri, keluarga, sanak famili, teman hingga orang lain, adalah perbuatan yang tidak gampang. Apalagi jika didasari rasa benci, dendam dan dengki. Ada pepatah yang mengatakan, jangan harap akan bertambah jika yang namanya uang atau keuntungan. Sebaliknya, jangan berharap akan berkurang bila yang namanya kata-kata.

Dari pepatah itu kita bisa tarik kesimpulan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menambah-nambahi cerita. Karena itu, dalam ilmu komunikasi, kita diperkenalkan dengan praktek menyampaikan pesan lewat lisan, dari satu telinga ke telinga lain. Hasilnya, dari jaringan komunikasi dari orang pertama ke telinga yang ke sepuluh, isi cerita umumnya akan mengalami perubahan yang besar sekali. Bahkan isi ceritanyapun belok ke mana-mana. Makanya, penyampaian pesan yang terbaik adalah lewat tulisan, bukan lisan!

Kita memang sadar, terkadang dihadapkan pada situasi yang amat dilematis sekali tentang persoalan yang satu ini. Apakah mau menyampaikan cerita yang sebenarnya atau tetap menyembunyikan. Kecuali di depan persidangan pengadilan di mana kita di bawah sumpah. Dalam kehidupan sehari-hari, di kantor sebagai contoh, bukan persoalan yang gampang, apakah kita harus simpan rahasia teman, berterus terang kepada bos atau menyembunyikan aib yang bisa berakhir dengan kebusukan dari dalam ini?

*****

Hari itu kantor tidak terlalu sibuk. Tapi berkurangnya staf karena tidak masuk disebabkan oleh suatu hal, membuat kelancaran kerjaan jadi terganggu. Memang pekerjaan itu bukan bagian dari tanggungjawab saya, akan tetapi sebagai bagian dari sistem, jika si Fulan, sebut saja demikian namanya, tidak masuk, maka akan berpengaruh kepada lainnya.

Mengetahui keadaan ini, manajer kami sudah mengantisipasinya dengan menugaskan seseorang dari departmen lain untuk membantu pekerjaan kami. Orang ini, sebut saja Fadil namanya, mestinya secara otomatis datang ke departemen kami mulai kemarin. Fadil, sekedar tahu saja, sudah beberapa bulan ini diperbantukan ke departemen kami dari departemen lain. Sang manajer bertanya kepada saya apakah Fadil datang kemarin. Saya jawab: ya. Kemudian beliau juga bertanya tentang apa yang Fadil lakukan. Pertanyaan ini saya jawab dengan apa adanya, bahwa Fadil tidak melakukan apa-apa. Pertanyaan ketiga manajer adalah: kapan si Fadil kemarin pulang dari kantor, saya bilang dia pulang awal, jam 1.45 siang. Sang boss bilang bahwa hal ini tidak dibenarkan karena mestinya Fadil pulang jam 2.30.

Mendengar jawaban saya, sang boss setengah tidak percaya. Saya katakan bahwa yang saya katakan adalah apa yang saya lihat, karena tidak ada saksi. Saya juga meminta beliau untuk menegurnya langsung, jangan dari saya. Saya selanjutnya meminta beliau untuk meneponnya langsung pada hari kedua itu, guna mengecek kebenaran saya apakah dia masih sedang bekerja di departemen kami (meski gedungnya terpisah) atau sudah pergi pulang. Saya diminta untuk mengecek di kantor lain yang masih di bawah naungan departemen kami. Jawaban yang saya peroleh dari sana mengatakan bahwa Fadil sudah pergi sejak jam 1 siang tadi. Waktu menunjukkan pukul 1.30 ketika saya menepon dengan si manajer ada di depan saya.

Saat itu pula kemudian sang manajer menelepon Fadil dari kantornya sendiri. Telepon genggamnya berdering, tapi tidak diangkat, kata sang manajer. Saya bilang bahwa Fadil tahu nomer kantor beliau, jadi tidak perlu ragu. Sekitar lima menit kemudian Fadil menelepon kembali, mengatakan bahwa dia sedang di perjalanan, dekat dengan kantor kami.

*****

Dari kantor boss, saya kembali ke ruang kantor saya sendiri, yang berjarak hanya satu kamar dengan kantor di mana Fadil seharusnya kerja. Manajer bersama saya menunggu apakah Fadil benar-benar akan datang atau tidak.

Tidak lebih dari lima menit kemudian, Fadil memang datang. Tanpa ekspresi, manajer kami memerintahkan dia untuk ke kantor dan mengerjakan sejumlah tugas yang sudah menunggu. Saya lihat manajer tidak mengarahkan pandangannya ke Fadil. Sesuatu yang sebenarnya bisa dinilai sebagai tanda bahwa beliau kurang simpatik kepada Fadil lantaran sikapnya. Fadil sepertinya menyadari kekeliruannya. Tanpa berbicara ba-bi-bu, dia menuju ke kamar kerjanya, mengambil sejumlah file yang menumpuk di meja.

*****

Saya tidak tahu apakah yang saya lakukan adalah sebuah sikap membuka aib orang lain atau tidak. Yang jelas, ada buahnya. Pertama, menghindarkan orang lain untuk melakukan kesalahan yang lebih besar dan berulang-ulang. Yang kedua, menghindarkan bertambahnya beban kerja orang lain karena kekhilafan orang pertama yang berbuat kesalahan ini.

Membuka aib orang lain tidak sama dengan mengoreksi kesalahan orang lain. Membuka aib bisa berarti membuat orang menjadi malu dan tidak menjadikannya lebih baik. Mengoreski kesalahan orang lain adalah upaya memperbaiki sikap seseorang. Apa yang saya lakukan tidak lebih dari agar si Fadil menjadi lebih baik dan orang lain tidak menjadi kurban karena kesalahan yang dibuatnya.

Orang memang tidak sama dengan kucing. Kalau kita gali lagi tanah yang sudah ditutup oleh kucing, sang kucing tidak bakal merasa malu. Apalagi merasa nama baiknya dipecundangi. Namun, lain dengan manusia. Karena itu, menyampaikan kebenaran tentang suatu kejadian kepada orang lain tentang kesalahan si Fulan misalnya, dibutuhkan kehati-hatian. Hal ini supaya bisa dibedakan, antara niat baik dan mencemarkan nama baik.

*****

Pelajaran yang bisa dipetik di sini adalah perbuatan benar kadang memang belum tentu baik. Sebaliknya, perbuatan baik pun belum tentu benar. Menceriterakan kejadian yang sebenarnya tentang sebuah peristiwa tidak jarang malah bisa membuat orang jadi malu besar… Akibatnya, bukan hikmah yang kita dapatkan, malah kemudharatan yang melanda. Sebaliknya, kita tidak bisa membiarkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain secara berturut-turut yang bisa mengakibatkan kerugian di berbagai pihak. Jika tidak kuasa, tidak ada salahnya meminta bantuan orang lain atau supervisor atau manajer bila perlu, supaya menjadi lebih baik.

Mengumbar kejelekan kucing buang air besar di sembarang tempat tidak ada dampaknya. Tapi melakukan hal yang sama pada sesama kita, bisa jadi bencana! Wallahu a’lam!

Doha, 14 October 2009

[email protected]

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus