Label Saja Tidak Cukup

Kami tengah melintas di jalan Prapen – Jemursari. Matahari sudah bergeser dari atas kepala. Surabaya terik. Anak-anak mulai rewel. Perut mereka mungkin sudah keroncongan seperti ibunya. Di rumah kebetulan tak ada masakan, karena ibunya anak-anak memang belum sempat masak.

Akhirnya kami mencari warung di sepanjang jalan itu. Pilihan jatuh pada sebuah restoran Pujasera jarak setengah kilometer sebelum mencapai pertigaan Jemursari. Kalau tak salah Pujasera itu singkatan dari Pusat Jajan Serba Ada atau apalah. Keroncongan perut kami tak lagi mengingat hal-hal sepele seperti itu.

Kami memilih meja dengan lima kursi. Semua kemudian mengambil tempat duduk. Seorang waiters datang dengan buku menu di tangan. Isteri satu. Aku satu. Kami membukanya dan dalam sedetik kemudian kecewa. Ada beberapa masakan yang ditandai dengan simbol Babi. Padahal tak ada tanda apa-apa di papan nama halaman depan restoran ini.

Aku memandang ibunya anak-anak. Mungkin ada pendapat. Tetapi ia menyerahkannya padaku. Kuperhatikan berkeliling. Ada beberapa rombong makanan di sekeliling kami. Soto beraneka-rupa, ayam goreng kampung, steak, nerbagai mie, masakan Cina, aneka minuman, dan sebagainya. Kuperhatikan bahwa satu rombong penjual ditulis dalam satu kelompok menu di buku menu ini. Misalnya, Rombong Masakan Jawa Timur. Di sana dijual berbagai masakan Jawa Timur seperti rujak cingur, semanggi suroboyo, gado-gado, berbagai minuman, dan sebagainya. Mana-mana yang mengandung babi ditandai pada menu tersebut dengan gambar babi.

Yang agak melegakanku adalah rombong satu dengan rombong lainnya terpisah secara fisik. Mereka mempersiapkan masakan, menggoreng atau merebusnya pada tempat yang terpisah dari rombong lain.

“Rombongnya terpisah-pisah kok, Yang,” kataku sama isteri. “Pilih saja makanan di rombong yang tidak menjual masakan mengandung babi. Pilih di buku menu yang rombongnya menulis ‘Dijamin Halal 100%’.”

Isteriku pun mengangguk setuju. Maka, kami memilih masakan kesukaan masing-masing pada kelompok rombong makanan yang menjual makanan halal saja. Gado-gado, sop buntut, nasi kare ayam, dan sejumlah minuman.

Tak lama makanan dan minuman yang kami pesan pun tiba. Lahap nian anak-anak menyantap makanan mereka. Nasi agak berceceran di mana-mana. Bagaimana lagi, itulah konsekuensi kalau anak-anak mau makan sendiri.

Tak terasa jam shalat Zuhur pun tiba. Sementara makan kami belum semuanya selesai. Aku bertanya pada petugas kasir barangkali ada tempat shalat di restoran ini. Perempuan baya itu kemudian menunjuk sebuah tempat di belakang.

Aku bershalat duluan. Sementara isteri menjaga anak-anak. Aku dipersilakan untuk mengambil air wudhu di sebuah tempat yang ramai orang. Piring berserakan di tempat-tempat seperti bak air berbentuk memanjang. Aku mengambil wudhu di salah satu pancuran di bak tersebut.

Menuju ke sebuah bangunan sempit, yang tak layak disebut mushala, aku bershalat. Ada beberapa karyawan yang antri shalat juga di tempat yang sama.

Namun sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku. Ya, bak air dengan piring bertumpukan di dalamnya. Maka, sebelum kembali ke tempat duduk, aku berhenti sebentar memperhatikan sekeliling. Ada petugas pembersih yang mengangkut piring-piring dari ruang utama dan meletakkannya di bak air yang kosong. Di sanalah piring itu dicuci. Kelihatannya piringnya pun semuanya seragam. Aku jadi curiga. Jangan-jangan semua piring itu berasal dari tempat yang sama, digunakan secara bersama, dan dicuci bersama pula!

“Mbak, piring-piring itu dicuci bareng ya di tempat ini?” tanyaku pada seorang karyawan wanita yang berlalu di dekatku.

“Maksud Bapak?” tanyanya tak mengerti.

“Maksud saya, semua piring yang dipakai makan tamu dicuci semua di tempat ini,” jelasku.

“Ya, Pak,” jawabnya yang langsung membuatku lemas. “Memang kenapa, Pak?”

“Ah, nggak apa-apa, Mbak. Nanya aja,” kataku mules.

Isteri pun kuminta membuktikan hal yang sama. Ia pergi shalat dan aku menunggui anak-anak. Laporannya menguatkan temuanku. Maka sejak saat itu, kami mengharamkan singgah dan makan di tempat itu. Kami juga memberitahu teman-teman untuk tidak membeli makanan di sana.

***

Ada prinsip mudah yang diajarkan Nabi yang agung kepada kita, tentang bagaimana menghadapi situasi ragu seperti ceritaku di atas. Prinsip itu adalah “da’ maa yariibuka ila maa laa yariibuka”. Tinggalkanlah suatu perkara yang meragukanmu menuju pada perkara yang tidak meragukanmu.

Masuk ke pasar loak, yang menjual barang-barang bekas, kita tahu bahwa sebagian dari barang yang dijual di sana boleh jadi dari hasil curian atau tadahan. Ketika membeli, kita mungkin ragu, ini barang curian atau bukan. Nah, mudah saja. Pilih yang tidak meragukan, yakni lebih baik tidak usah membeli di tempat itu.

Taruhlah kita makan soto lamongan di pinggir jalan. Mungkin kita berpikir, “Ayamnya dipotong dengan benar sesuai syariat atau nggak, ya?” Itulah keraguan. Jadi, lebih baik tidak usah makan di tempat itu.

Kita ragu, bunga bank itu haram atau tidak. Daripada ragu, lebih baik tidak menyimpan uang di bank dengan sistem bunga. Kita ragu gaji sebagai PNS itu mungkin terikut pajak hiburan, prostitusi, judi dan sebagainya. Barangkali lebih baik tidak usah menjadi PNS. Yang ini sih contoh ekstrim.

Karena itu, ketika masuk ke restoran yang menjual makanan haram, meskipun hanya sebagian dan terpisah rombongnya secara fisik sekalipun, keluar saja daripada ragu. Cari tempat makan lain yang lebih menentramkan.

***

Aku pernah mengalami kejadian yang lebih parah lagi. Dulu ketika masih mahasiswa.

Selepas mengajar di sebuah lembaga pendidikan komputer, aku mampir ke sebuah warung pangsit mie ujung pandang di jalan Manyar Kertoarjo Surabaya. Aku kemudian mengambil tempat duduk.

Karyawan warung mendekatiku dengan buku pesanan di tangan.

“Mau pesan apa, Mas?” tanyanya ramah. “Pangsit mie babi atau pangsit mie ayam?”

Aku langsung terlonjak. “Ada pangsit mie babinya, Mas?” tanyaku serius.

“Ya, Pak. Ada,” katanya bersemangat. “Mau yang biasa atau spesial?”

“Kalau gitu nggak jadi deh,” kataku langsung ngeloyor pergi.

“Yang ayam ada juga lho, Mas!” seru petugas itu berusaha menahanku pergi.

Tapi telingaku sudah tuli. Makan tuh babi!

***