Mengapa Orang Zalim Terkadang Masih Sukses di Dunia?

Eramuslim.com — Mengapa orang-orang yang berbuat zalim terkadang seolah dibiarkan Allah SWT tanpa ada balasan tunai di dunia?

Allah SWT mengakhirkan balasan untuk orang-orang zalim. Orang-orang zalim

Pada dasarnya, setiap kezaliman pasti akan berakhir dengan kehancuran. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS Ibrahim 42).

Silakan orang-orang zalim itu melakukan segala cara untuk membentengi kezalimannya, Allah SWT pastikan itu akan musnah.

Sebab, semua kezaliman tidak hanya melanggar syariatullah, tetapi juga sunnatullah. Apa pun kekuatan itu, jika melanggar ketentuan-Nya pasti akan hancur.

Masih kurang apa kekuatan Firaun pada masa itu? Ternyata berakhir dengan cara yang sangat mengenaskan. Allah menenggelamkannya di Laut Merah.

Kaum Aad dan Tsamud juga dihancurkan dengan hukuman yang pedih. KaumTsamud dihancurkan dengan thaagiah (suara yang sangat keras), sedangkan kaum Aad dihancurkan dengan badai angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari (QS Al Haqqah:5-8). Itu pelajaran supaya tidak ada lagi setelah itu orang-orang yang berbuat zalim.

Dalam surat Al Fajr 6-14, setelah menyebutkan kaum-kaum terdahulu yang diazab, Allah SWT menggambarkan urutan mengapa azab itu menimpa mereka.

Pertama, karena melakukan penyimpangan thagha. Dari penyimpangan ini muncullah yang kedua, banyaknya kerusakan, seperti zina, korupsi, pembunuhan, dan sebagainya. Lalu terjadilah yang ketiga, yaitu turunnya azab Allah SWT, “Fashabba alaihim rabbuka sautha azaab”. 

Di sini Allah SAW memastikan bahwa sekecil apa pun perbuatan zalim itu tetap dalam pantauan-Nya, “Inna rabbaka labil mirshaad”.

Artinya, orang-orang beriman yang berada dalam kebenaran optimislah selalu akan datangnya sebuah kemenangan, teruslah bersabar dalam ketaatan, lakukan ikhtiar semaksimal kemampuan, “Wal aaqibatu lilmuttaqiin.” (kemenangan kelak pasti akan berpihak kepada siapa yang benar) (QS Al Araf 128).