free hit counters
 

Mengutang untuk Tamu

Tamu adalah seseorang yang patut kita hormati dan dihargai. Siapa pun itu orangnya! Entah baik itu pengemis, musafir maupun orang yang tak kita kenal sama sekali lalu bertandang kerumah kita dengan cara yang baik hukumnya wajib untuk kita terima sebagai tamu. Tanpa tidak pandang bulu siapa orangnya! Memang tidaklah sulit menjamu tamu saat kita memiliki banyak bahan makanan atau sesuatu yang perlu kita berikan kepada tamu. Namun bagaimana jika tidak memiliki itu semua? Di sinilah letak ujiannya? Bagaimana ujian kebesaran dann keikhlasan hati kita dalam menerima tamu.

Kejadian ini mengingatkan saya ketika saya masih SMU, tepatnya pada tahun 1999 ketika teman-teman saya bertandang kerumah saya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Teman-teman saya itu datang kerumah sayam selain ingin silaturahmi dan juga ingin mengetahui tempat tinggal saya di mana. Memang saat teman-teman saya itu bertandang kerumah saya saat hari libur (hari Ahad). Kebetulan hari libur itu gunakan untuk menyempatkan teman-teman saya untuk bersilturahmi sekaligus ingin mengetahui rumah saya. Tapi yang menjadi trouble adalah ketika mereka datang ke rumah saya tidak ada (cukup) bahan makanan untuk disajikan (disediakan) kepada mereka itu. Yang ada hanya air putih.

Maklum persediaan di rumah tidak mencukupi (tidak tersedia).Panik sudah jelas! Saya pontang-panting mencari makanan atau yang bisa disediakan untuk mereka. Padahal mereka sudah tiba dirumah saya. Kasihan dong? Kalau mereka tidak disuguhkan makanan? Apalagi mereka datang ke rumah saya, tempat tinggal mereka masing-masing cukup jauh juga. Jumlah teman-teman saya itu berjumlah 4 orang. Cukup lumayan banyakkan bagi orang yang tidak mempunyai persedian bahan makanan untuk tamunya?



Akhirnya, saya pun diberikan oleh Allah pertolongan walaupun melalui perantara ibu saya ketika saya sedang-sedangnya lagi panik ibu saya menyarankan dan memberikan masukan. Ibu saya bilang, ” ambil (baca: utang) saja dulu diwarung depan. Nanti ibu yang bayar kok daripada kamu tidak enak sama teman kamu. Kasihan teman-teman kamu datang dari jauh-jauh tidak kamu suguhkan makanan. ” Begitu kata ibu saya ketika tidak tahu lagi apa yang saya lakukan. Ternyata masukan dari ibu saya masuk akal juga. Dengan terpaksa dan berat hati saya pun mengambil (ngutang) dulu makanan dari warung depan dekat rumah saya.

Tiga jam sudah teman-teman saya berlama-lama di rumah saya. Namun ketika ada salah satu teman saya mengkomandai untuk segera pamit pulang, akhirnya semua teman-teman saya yang lainnya pun menyetujui. Mereka berpamitan pulang. Namun sebelum mereka pulang ada salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. “Aneh, ” pikir saya ketika melihat salah satu teman saya berbicara serius pada ibu saya. Kemudian mereka pun pulang meninggalkan rumah saya dengan sambil melempar senyum puas.

Anyway, seusai teman-teman saya meninggalkan rumah. Saya pun membersihkan dan membawa peralatan yang digunakan sebagai wadah makanan yang saya sajikan. Tiba-tiba ibu saya mendekati saya sambil memberikan sebuah amplop putih. Saya sendiri pun juga tidak tahu apa isi yang ada di dalam amplop tersebut. Ibu saya pun langsung memberikan amplop putih itu ke tangan saya sambil berujar, ” ini dari teman-teman kamu. Katanya ini sebagai pengganti makan dan minum yang teman-teman kamu sajakan dari kamu. ” Dengan perasaan penasaran saya pun membukannya. “Masya Allah, ternyata isinya uang!” pekik saya saat itu. Tidak percaya bahwa teman-teman saya begitu baik dan peduli pada saya. Jujur saya begitu terharunya saat saya tahu bahwa dalam amplop itu ternyata isinya uang. “Allahu Akbar!” ucap saya lagi. Bahwa Allah telah memberikan saya rezeki melalui teman-teman saya. Makanan dan minuman hasil mengutang dari waruing depan dibalas dengan uang yang cukup (bahkan) lebih untuk membayar makanan dan minuman dari warung depan.

Ternyata di balik kesulitan, Allah memberikan kita kemudahan! Maha Besar Allah saya pun tak mampu membendung air mata saya. Ternyata teman-teman saya begitu baik dan perhatian pada saya. Tapi ketika lagi terharu-harunya ibu saya memperingatkan saya lagi sambil berujar, ” jangan lupa dibayar makanan dan minuman di warung depan. "

Oase Iman Terbaru