free hit counters
 

Merdeka atau Pusing

Sri Haryati – Selasa, 16 Zulqa'dah 1438 H / 8 Agustus 2017 11:00 WIB

Malam ini hujan tak jadi turun. Suara guntur yang menggelegar seakan hanya batuk-batuk demi memberi isyarat alam agar orang-orang waspada akan perubahan cuaca. Aku pulang lebih malam karena jadwal deadline di kantor yang mengharuskan menuntaskan kerjaan demi kejar cetak sesuai jadwal. Begitu turun bis di depan RS Sint Carolus, aku langsung mencari bajaj yang beberapa sedang parkir, menuju rumah di Rawamangun.

Ada bajaj yang bagian belakang body-nya bertuliskan “Merdeka Tapi Pusing” cukup memancing perhatianku. Aku datangi dan setelah sepakat tarifnya, bergeraklah kendaraan roda tiga berwarna oranye itu membawa aku menuju rumah.

Bajaj berjudul Merdeka Tapi Pusing langsung menderu di tengah mobil-mobil mewah Jalan Pramuka. Begitu sampai di persimpangan jalan layang By Pass yang merupakan perbatasan Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda, mau tak mau Abang Bajaj berhenti karena terhadang lampu merah. Begitu pun kendaraan lain dengan patuh menghentikan geraknya.

Keadaan itu tentu saja langsung dimanfaatkan anak-anak jalanan untuk meminta ‘jatah’ rezeki. Bajaj yang kutumpangi pun tak lepas dari perhatian mereka. Seorang anak sekitar umur tiga tahun menengadahkan tangannya ke arahku lewat pintu bajaj. Di seberang jalan sana, di tepi jalan, nampak beberapa ibu bertubuh subur dan segar asyik bercengkerama. Boleh jadi salah satu dari ibu itu adalah ibu dari anak yang sedang berada di depanku. Kemudian datang lagi anak laki-laki berumur kira-kira empat tahun. Dia menonjok anak yang lebih dulu mendekat ke bajajku.

Dengan sigap, dari dalam bajaj tanganku melerai mereka agar tidak baku tonjok. Namanya anak-anak, egoismenya pastinya tinggi. “Dia nakal tuh sama saya!” sergah yang berumur tiga tahun. Ibu-ibu mereka seakan tak terganggu dengan kenakalan anak-anaknya di tengah jalan raya yang cukup ramai. Lampu merah berganti hijau, Bang Bajaj siap-siap tancap gas. Kedua anak tadi ternyata meneruskan tonjok-tonjokan di trotoar jalan. Ah, dasar anak-anak. Semoga aja ‘tinju’ mereka di ronde kedua itu cuma bercandaan saja.

Aku jadi ingat ucapan salah seorang pejabat Unicef perwakilan Indonesia yang berkebangsaan Inggris. Suatu hari beberapa tahun lalu aku pernah mewawancarai dia dalam rangka Hari Anak Nasional. Dia menyinggung modus mengemis yang menggunakan anak-anak sebagai umpan. Bahkan beliau juga prihatin begitu banyak gelandangan yang kebanyakan kaum ibu menyewa bayi demi lancarnya aksi mengemis.

Ada juga celetukan teman yang capek liat ulah pengemis anak-anak. “Sudah ah, mereka tuh jangan dikasih ikan terus. Kita harus kasih kailnya. Kalau selalu memberi ikan, kapan mereka mau maju? Kapan bangsa ini mau berhenti miskin? Cuma membuat generasi bermental mengemis. ” Teman saya itu begitu semangat dengan teori ikan dan kailnya.

Tapi kalau kita tanya ke anak-anak tadi, mana mereka mengerti maksudnya ikan dan kail? Boro-boro paham? Baca dan tulis mereka buta. Merasakan sekolah saja merupakan kemewahan bagi mereka.

Wah, jadi ingat tulisan “Merdeka Tapi Pusing” di bajaj yang kutumpagi. Apakah anak-anak jalanan tadi dan ibunya juga pusing di era merdeka ini? Apa ya, kira-kira arti merdeka bagi mereka? Yang jelas, meski hidup di zaman merdeka, mereka belum tentu bisa bersekolah kelak. Biaya pendidikan negeri ini sangat mahal. Hanya golongan tertentu yang bisa mengenyamnya. Yang namanya sekolah gratis, bukan gratis karena masih ada embel-embel pungutan ini-itu atas nama uang gedung, uang buku, uang macam-macam. Bahkan banyak anak jalanan yang pernah saya wawancarai lebih memilih menggelandang di jalan daripada sekolah karena tak ada biaya.

Anak-anak di lampu merah tadi memang hidup di negeri merdeka. Tapi, kalau mereka sakit, mereka susah dapat pelayanan rumah sakit. Meski katanya bisa menggunakan surat khusus untuk orang miskin yang katanya gratis, mengurusnya pun harus mengeluarkan rupiah.

Okelah kita sudah merdeka. Tapi bagaimana kehidupan anak-anak tadi? Dan anak-anak jalanan lainnya? Hidup mereka tidak jelas. Tanpa jaminan keamanan, kenyamanan yang layak. Hak hidup mereka pun terampas. Kita bisa saja bilang, kenapa orangtua mereka malas dan tidak mau bekerja? Bukankah sarjana saja banyak yang menganggur? Apalagi orangtua mereka yang rata-rata adalah penjual asongan, buruh bangunan, kuli pasar, dan sebangsanya. Mereka bekerja, tapi penghasilan yang didapan kurang memadai.

Tetapi, jika kita tanyakan arti merdeka ke mereka, bisa jadi kita akan dapatkan jawaban dari sisi yang lain. Hidup mereka sudah merdeka kok. Mereka tak perlu terbelenggu oleh beratnya kurikulum sekolah yang begitu berat bagi peserta didik pendidikan dasar negeri ini. Palajaran muris kelas 1 SD masa kini mirip dengan pelajaran murid kelas 6 di masa satu dekade yang lalu. Para ibu anak jalanan yang tidak bersekolah ini tak perlu cemas dan pusing, apakah anaknya lulus masuk tes masuk TK, SD, atau SMP. Mungkin perlu diketahui, calon murid TK di beberapa kota di negeri ini harus lulus tes sebelum diterima di sekolahnya. Ketika ia akan masuk SD, ia harus menyelesaikan lima halaman tes tulis, plus dengan wawancara. Hal yang memusingkan bagi para ibu tentunya, apalagi untuk para ibu yang tidak berpunya secara materi.

Kemerdekaan juga sudah mereka raih, sebab mereka boleh seenaknya kapan mau tidur dan bangun. Boleh main-main di udara terbuka sementara anak-anak lainnya banyak terkungkung di ruang AC, baik di sekolah, di rumah, di tempat les, di mall.

Boleh jadi, anak-anak itu mungkin juga merasa sudah merdeka. Paling tidak mereka bebas mau jadi apa kelak. Sedangkan anak-anak lain sudah diplot oleh orangtuanya untuk menjadi dokter, insinyur, model, artis, dan lain-lain tanpa bisa bebas memilih. Buktinya, wajah-wajah mereka tetap ceria tertawa meski lahan mainnya hanya seputaran lampu-lampu merah dan trotoar jalan raya. Bahkan ibu mereka juga tak marah ketika anak-anak itu main tonjok-tonjokan di antara belukar kendaraan bermotor jalan raya. Bayangkan jika ibu-ibu lain? Melihat anaknya memanjat pohon saja mungkin sudah melarang, khawatir akan jatuh dan terluka.

Kadangkala kita tak bisa menakar adil, sejahtera, cukup, dan mewah dari paradigma kita. Kita bisa membeli kasur super empuk, tapi belum tentu bisa mendapatkan tidur yang lelap. Kita punya rumah mewah, tapi untuk apa kalau banyak larangan terhadap anak-anak, tidak boleh ini, jangan sentuh itu. Kemewahan yang kita punya pastinya beda dengan takaran mereka. Kebebasan yang kita miliki, belum tentu juga sama dengan mereka. Tak terasa bajajku sudah sampai dekat rumah. Tapi aku masih sempat bertanya-tanya dalam hati,

Jadi, apakah mereka merdeka tapi pusing? Belum tentu!

Dirgahayu Indonesiaku!

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus