Pedagang yang Istiqomah

Kemarin aku ke kampus, setelah kurang lebih 10 tahun yang lalu aku menyelesaikan studi diplomaku di lembaga pendidikan itu. Tak sengaja aku bertemu dengan seorang Bapak, usianya sekitar 55 tahun. Ia berjualan snack keliling dari satu gedung ke gedung yang lain. Snack yang dijualnya bermacam-macam, ada cheese stick, keripik bawang, emping goreng manis, kacang, dan lain sebagainya. Bagiku, wajahnya sudah tidak asing lagi. Karena dahulu ketika aku masih kuliah pun ia sudah berjualan makanan yang sama, berkeliling pula.

Aku jadi teringat masa-masa pertama kalinya aku menjejakkan kaki di kampus. Bapak pedagang itu adalah orang pertama yang aku tanya tentang gedung Q, tempat di mana aku mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru. Ia menunjukkan gedung Q itu, sambil mengantarku pula. Kata-katanya santun. Setiap menawarkan dagangannya ia selalu ramah dan tak pernah lepas dari senyum. Meski tak sedikit mahasiswa yang tidak membeli snack darinya.

“Assalamu’alaikum mbak, apa kabar?” sapanya padaku ramah. Aku yang sejak tadi sibuk merapikan berkas-berkas legalisir ijazah, agak sedikit kaget dibuatnya. Karena tiba-tiba ia sudah duduk di sampingku di taman depan Gedung Serba Guna.
“Oh Bapak, Ehm…kabar saya baik, Alhamdulillah…
Bapak masih jualan di sini?” balasku bertanya.
“Alhamdulillah, Allah masih memberi kesehatan, saya masih diberi kesempatan mencari rezeki di sini. Yah, untungnya nggak seberapa, tapi saya senang karena dekat dengan rumah. Jadi saya bisa pulang sewaktu-waktu tiap waktu shalat untuk shalat berjamaah.” ucapnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Dalam hatiku merasa bangga, karena meskipun ia seorang pedagang kecil, namun keikhlasan dan keistiqomahannya untuk menjaga shalat tepat waktu sangat tinggi sekali. Jarang kutemui orang-orang seperti ini, batinku dalam hati.

“Mengapa Bapak tidak berjualan menetap saja di rumah? Bapak kan bisa sekalian mengawas`i anak-anak dan tidak perlu repot berkeliling?” tanyaku padanya.

“Mbak, anak-anak Bapak semakin besar, kebutuhan mereka juga semakin bertambah. Bapak tidak mau menunggu rezeki di satu tempat, Bapak ingin mencari rezeki, siapa tahu dengan berkeliling ini, Allah memberikan rezeki yang sedikit berlebih kepada Bapak. Bapak juga tidak tahu di mana Allah akan menurunkan rezekinya kepada Bapak. Mudah-mudahan langkah-langkah kaki ini dihitung Allah sebagai amal ibadah usaha Bapak menghidupi keluarga.”

Subhanallah, …….aku takjub mendengarnya. Tak kusangka, pedagang snack itu begitu paham apa arti mencari rezeki sesungguhnya, keistiqomahan dan keberkahan usaha.

Tidak hanya setahun dua tahun ia menekuni profesinya itu. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun ia berdagang dengan caranya yang seperti itu.

“Mbak, bapak permisi dulu yah, sepertinya di gedung H sana, ada mahasiswa yang baru selesai kuliah. Bapak mau jualan ke sana, Assalamu’alaikum!” ucapnya menyudahi pembicaraan.

“Wa ’alaykum Salam Warahmatullahi Wa Barakatuh, mari-mari pak, silakan…!” ucapku spontan. Karena tadi aku sempat termenung sebentar memikirkan usaha dan kerja keras pedagang itu.

Bapak itu lalu pergi ke arah Gedung H, gedung jurusan Administrasi Niaga, tempat di mana dahulu aku juga pernah duduk di dalamnya untuk menimba ilmu selama tiga tahun. Dari kejauhan aku memperhatikannya. Alhamdulillah, ternyata tidak sedikit mahasiswa yang membeli snack darinya.

”Ya Allah, berilah kekuatan dan ketabahan kepadanya dalam menjalani hidup. Mudahkanlah ia dalam mencari rezeki dan berilah keberkahan dalam usahanya” doaku dalam hati, mengiringi langkah pedagang itu yang akan berkeliling lagi ke gedung-gedung yang lain di kampusku.