free hit counters
 

Reunian Dunia Maya dan Profil Pribadi Sukses

Fivy Miftahiyah – Minggu, 1 Februari 2009 08:16 WIB

Belum bosan-bosannya setiap hari belakangan ini utak-atik sebuah situs pertemanan melalui internet. Kurang lebih satu bulan yang lalu bergabung, ternyata selalu ada kejutan. Bertemu teman-teman lama, teman SMP dan SMA yang tentunya sudah lama sekali tak saling menyapa.

Inilah dampak positif teknologi. Bisa menjalin kembali silaturahmi, persaudaraan dan persahabatan dengan orang-orang yang telah lama berpisah. Ada anehnya, ada lucunya, ada terharunya, ada senangnya. Yup!. Sebagian besar masih serba menggembirakan. Asal kita bisa mengambil sisi-sisi baik dari pertemanan dan reunian dunia maya ini.

Banyak perubahan yang terjadi pada diri kami. Yang dulu kecil imut-imut, sekarang gedhe amit-amit. Yang dulu pendiem bukan main, sekarang lucu bukan main. Yang dulu bandel sekali, sekarang bijak sekali. Apa lagi ya… yang dulu agak-agak nggak kenal, sekarang jadi akrab. Hmmm, luar biasa!

Bagiku, bertemu dengan teman-teman lama dan menyelami profil mereka, amat mengasyikkan. Membayangkan aktivitas mereka sekarang; merupakan wacana yang bisa kuambil hikmahnya.  Aku jadi banyak belajar dari sisi-sisi mengagumkan mereka, yang hampir semuanya menjadi orang ‘sukses’.

Setidaknya aku menilai kesuksesan ini dari pengamatanku akan kegiatan akademis mereka, perjalanan-perjalanan mereka ke berbagai negara dan aktivitas perbincangan dengan mereka, ataupun perbincangan antar teman yang setiap saat bisa kuakses perkembangannya.

Teman-teman lamaku memang orang-orang yang aktif, dinamis, dan suka bekerja keras. Selain mereka juga sejak dulu dianugerahi akal yang cerdas oleh Sang Khaliq. So, sesuai sunnatullah tentunya wajar jika mereka menjadi orang-orang sukses. Salut…!

***
Wajahnya terlihat teduh dan bersih. Ucapannya ramah dan akrab. Ditunjang penampilan yang bersahaja, menambah kesan berwibawa bagi lelaki usia 70-an ini. Setidaknya itulah kesan yang aku tangkap dari sekilas pengamatanku, karena ia nampaknya tak punya banyak waktu untuk lebih lama berbincang dengan suamiku, ketika berpapasan dengan kami di sebuah jalan di perumahan kami. Sehingga aku tak bisa lebih lama mengamatinya.

Namanya H Thohir. Beliau adalah teman akrab suamiku berkat sama-sama giat berkunjung ke masjid tiap Subuh, Maghrib dan ‘Isya. Kata suamiku, banyak orang menilai H Thohir sebagai seorang yang bangkrut. Namun menurut suamiku, justru beliau adalah orang yang luar biasa sukses. Bagaimana bisa?

Dulunya ia adalah pengusaha kaya raya yang memiliki harta benda amat banyak. Rumah dan mobil mewah tak hanya satu dua, belasan mungkin. Belum lagi gaya hidup yang amat keren, yang menyebabkan banyak teman dan kolega  mengerumuni dan menyanjungnya. Ibarat sekuntum bunga cantik wangi, menawarkan banyak sari madu, sehingga ia diserbu oleh banyak kumbang. Semua ingin mendapatkan manfaat dari H Thohir.

Namun kondisi bergelimang materi tersebut ternyata tak setia menemaninya. Beberapa tahun lalu, H Thohir mengalami kerugian dalam spekulasi bisnisnya. Meski yang namanya bisnis memang selalu ada untung ruginya, namun masalah bisnis yang dihadapinya kali ini benar-benar sanggup menghabiskan harta benda yang semula begitu berlimpah.

H Thohir akhirnya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang amat sederhana. Suamiku pun sempat heran dan tak menyangka ketika pertama kali singgah ke rumah kontrakan tersebut. Sangat tidak matching dengan penampilan berwibawa, akademis, pintar, yang selama ini dirasakan suamiku selama bergaul dengannya pun dalam setiap rapat pertemuan di masjid. Selama ini masih menebak-nebak, beliau ini pengusaha atau pensiunan apa. Terlihat begitu smart ! Meski pada waktu itu suamiku juga belum tahu latar belakang kehidupan H Thohir sebelumnya.

Di sinilah suamiku bisa menilai kesuksesan H Thohir. Dalam keadaan terpuruk akibat bisnis yang gagal; beliau sukses mengatasi kondisi mental dan jiwanya. Beliau bersyukur, setelah jatuh miskin banyak sekali hikmah yang menyejukkan jiwanya. Ia merasa lebih mengenal dan dekat kepada Sang Pencipta.

Sewaktu bergelimang dengan kemewahan, ia tak pernah merasakan ni’matnya beribadah, indahnya sholat berjamaah dan berinteraksi dengan banyak kalangan di masjid. Ia hanya merasa dikelilingi oleh orang-orang yang menyanjungnya karena harta.

Ada salah satu teman yang semula begitu hormat dan senantiasa meluangkan waktu untuknya, dan siap mendengarkan keluh kesahnya; ketika ia masih kaya. Namun kini orang tersebut berubah total. Bertemu dengan beliau pun seolah-olah tak mengenal atau seolah tak melihat. Dalam keadaan sekarang, sudah nampaklah siapa-siapa yang mendekatinya karena tulus berteman, atau siapa yang hanya menghormatinya krena materi.

Dalam ceritanya kepada suamiku, H Thohir juga bersedih tatkala mendapati kondisi teman yang memiliki nasib hampir sama dengannya namun tak kuasa mengendalikan jiwanya, dan berujung dengan kehilangan akal sehat. Na’udzubillah…

H Thohir begitu sukses menentukan pilihan ketika menghadapi masa kritis. Ia tak henti berikhtiar untuk bangkit dari keterpurukan bisnis. Menambah silaturahmi dengan banyak kalangan, dan mendoakan teman-teman lamanya yang lalai, melalui memperbanyak diri berinteraksi di masjid. Beliau tidak larut dalam kepedihan, justru mengambil hikmah dari cobaan ini. Bisa saja ia tak memilih masjid sebagai tempat pelarian. Ia bisa memilih kepada hal-hal dan tempat buruk yang banyak dilakukan oleh orang-orang frustrasi.

“Ini memang cara Allah untuk menunjukkan kasih sayangya kepada saya. Saya menjadi lebih dekat kepada-Nya!” demikian ucapan yang senantiasa diingat oleh suamiku.

Tak lama setelah pertemuan singkat dengan kami itu, Allah SWT berkehendak memanggilnya kembali untuk selama-lamanya. H Thohir wafat dalam keadaan tawakkal, beberapa hari setelah melangsungkan pernikahan putri bungsunya. Beliau tidak meninggalkan harta benda melimpah, melainkan meninggalkan keteladanan. Bagaimana seseorang menata hati, mengkondisikan jiwa dan perasaan ketika cobaan yang begitu sulit mendera.

Sambil memandang wajah bersih beliau yang terpejam, suamiku mendoakan, semoga H Thohir benar-benar telah sukses di hadapan Yang Maha Berkehendak. Insya Allah husnul khotimah. Amin.

***

Mudah-mudahan, kesuksesan diraih pula oleh teman-teman lamaku. Tak hanya dalam berjibaku di perhelatan kehidupan dunia ini. Moga mereka dan aku pun sukses mengumpulkan bekal bagi perjalanan pulang ke kampung halaman akhirat nantinya

Sambil berjuang dalam aktivitas harian, bersama orang-orang yang kita cintai untuk meraih sukses di dunia ini, sukses pula perjalanan menuju kampung keabadian itu, yang niscaya kan kita jelang…

“Bersungguh-sungguh dalam urusan dunia, seolah kita kan hidup selamanya. Dan bersungguh-sungguh dalam urusan akhirat, seolah-olah ajal telah di depan mata”

Allahu a’lam.

fivym.multiply.com

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus