Tawwakal Mendidik Anak

Siswoyo adalah profil guru yang tidak hanya dicintai anak didik tetapi juga para orang tua. Sebabnya karena ia mampu membangun komunikasi yang sehat, baik kepada siswa maupun orang tua.

Satu hal yang mengagumkan darinya adalah kemampuan memperhatikan satu per satu anak siswa, memahami kelebihan dan kekurangannya, sehingga semuanya merasa mendapat perlakuan yang selayaknya sesuai dengan karakternya masing-masing. Kemampuannya itu didasari oleh semangat menerapkan konsep pendidikan terkini yang dipahaminya di mana dalam konsep tersebut diungkap bahwa semua anak adalah pintar dan berbakat, semua anak memiliki keistimewaan dan memiliki potensi untuk bisa berprestasi secara maksimal. Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan senantiasa menghiasi atau memotivasi anak dengan sifat-sifat positif yang dilakukan secara terkontrol dan terfokus.

Siswoyo berkecimpung di dunia pendidikan lebih disebabkan oleh kecintaan dia kepada anak-anak. Hal ini dapat dipahami mengingat latar belakang pendidikannya adalah IAIN, bukan fakultas tarbiyah melainkan fakultas hukum syari’ah. Karirnya diawali dengan mengajar di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), kemudian berpindah ke sekolah alam, dan terakhir berpindah ke sekolah Islam internasional. Dengan mengajar di berbagai sekolah unggulan tersebut, wawasan kependidikannya semakin lengkap. Tak heran dengan penguasaan berbagai konsep pendidikan dan kurikulum tersebut, kini posisi tawar dia sebagai guru atau konsultan pendidikan semakin bagus.

Sebagai guru, meskipun guru di sekolah Islam internasional, tetap saja ia dihadapkan pada realita tingginya kebutuhan keluarga yang semakin meningkat. Guna menutupi tingginya pengeluaran yang dirasa belum sebanding dengan gajinya, maka beliau pun banyak menerima tawaran menjadi guru privat selain menjadi MC pada pesta-pesta pernikahan atau acara-acara lainnya. Kesibukan Siswoyo memang luar biasa. Selain sibuk di dunia pengajaran, dia juga aktif dalam kegiatan berdakwah.

Rupanya kesibukan ayahnya yang luar biasa tersebut menjadikan putrinya Fina Nurul Izzah, siswi kelas 4 SDIT, menjadi uring-uringan kehilangan perhatian ayahnya. Beberapa kali ia minta agar ayahnya menyempatkan beberapa jam sehari untuk mengajari hal-hal yang belum dikuasai atau ingin dikuasainya dari mata pelajaran di sekolah. Tetapi karena sibuk, Siswoyo kurang memperhatikan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang serius atau prioritas. Ia mencoba agar sang isteri ikut menangani. Rupanya isterinya juga kurang telaten dan sang isteri pun termasuk orang yang luar biasa sibuk, terutama dalam urusan berdakwah membangun ummat.

Pada puncaknya, ketika Fina mengetahui ayahnya sibuk memberikan les privat kepada anak orang lain —sedangkan ketika Fina sendiri minta diajarin sesuatu ayahnya selalu mengelak dengan berbagai alasan, karena tidak sabar melihat perilaku orangtuanya itu, ia berujar ngambek, “Abi gimana sih, anak orang lain diajarin, anak sendiri tidak. Udah deh… pinterin aja anak orang lain, anak sendiri biarin aja bodoh.

Sebenarnya Siswoyo sering menerima sindiran-sindiran serupa atas ketidakpuasan Fina. Namun kali ini Siswoyo merasakan perkataan putrinya itu sebagai peringatan keras bagi dirinya. Ia pun mencoba berenung, benar bahwa ia banyak memberikan les privat atau kegiatan dalam rangka membantu anak orang lain. Ia seakan melupakan bahwa dia pun memiliki murid istimewa yang sekaligus adalah anak-anaknya sendiri. Pada puncak kesadarannya ia berkata lirih kepada saya,

Alangkah bodohnya saya Pak, masak saya sibuk memberi les privat kepada anak orang lain, anak sendiri tidak. Anak orang lain dipinterin sedangkan anak sendiri tidak. Astaghfirullah, Kalau mau diturutin banyak les privat yang menunggu saya. Tapi sudahlah, saya tidak mau lagi banyak-banyak terima les privat, saya ingin ngajarin anak-anak saya sendiri. Buat apa dapat uang banyak-banyak kalau hasilnya anak tidak terperhatikan.

***

Ambisi memperoleh dunia terkadang menjadikan orang tua lupa terhadap pendidikan anak. Kasus Siswoyo adalah contoh kecil saja.. Banyak sekali kasus lain yang jauh lebih parah dampak dan pengaruhnya bagi anak. Jika Fina hanya sekedar merajuk dan banyak mengkritik karena kehilangan perhatian, banyak anak-anak yang melampiaskan dalam bentuk yang lebih parah, seperti tindak kekerasan, pergaulan bebas dan narkoba. Siswoyo patut bersyukur, karena bentuk kejanggalan yang ditemuinya tidak begitu signifikan dan parah dan ia patut bersyukur pula karena bisa berintropeksi dan memperbaiki langkah karena kritikan putrinya tersebut sehingga masa depan anak-anaknya akan bisa lebih baik.

Banyak orang tua yang enggan mawas diri terhadap perilaku anaknya sehingga dampak yang terjadi nampak sangat parah. Saya memiliki contoh nyata, di kompleks tempat saya tinggal terdapat dua anak yang kecanduan narkoba berat. Jauh sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, isteri saya telah mengingatkan ibu dari anak tersebut bahwa ada sesuatu yang aneh pada dirinya dan isteri saya mohon agar anak tersebut lebih intensif diperhatikan. Rupanya, sang ibu merasa tersinggung dan meremehkan. Gejala tersebut baru dirasakan dan disadari ketika ia mengetahui banyak barang-barang berharga di rumahnya raib. Bukan dirampok atau dimaling, melainkan diambil anaknya sendiri untuk memuaskan dahaganya akan narkoba. Naudzubillah.

Siswoyo mawas diri untuk memperoleh harta sekedarnya asal bisa memperhatikan anaknya. Boleh jadi, banyak orang yang berambisi memperoleh harta bahkan dengan cara haram. Padahal Al-Jauzi mengingatkan bahwa jika harta yang diperoleh adalah dari barang haram, seluruh tindakannya akan selalu berada pada jalan yang haram. Pada contoh anak yang terkena narkoba seperti pengalaman isteri saya tersebut, boleh jadi ini adalah peringatan bagi orang tua yang mengusahakan harta bagi anaknya dengan cara tidak halal atau orang tua yang tidak teguh memeliharanya dien-nya. Kini anak yang terkena narkoba tersebut belum sepenuhnya sembuh dari deritanya. Padahal harta yang terkuras untuk mengobati dia sudah begitu amat memadai. Boleh jadi itu adalah cara Allah memusnahkan hartanya yang tidak berkah.

Prof. Dr. Mutawalli Asy Sya’rawi mengatakan bahwa manusia yang tidak beriman kepada Allah, tidak segan-segan melakukan pekerjaan yang hina dina. Kita tidak bisa mempercayai manusia seperti itu sedikitpun karena ia bisa saja menikam kita dari belakang, atau menggiring kita ke suatu tempat yang menjerumuskan, atau menipu-dayakan kita dengan seribu satu kecurangan dan kejahatan untuk merampas harta kita atau untuk memperkosa kehormatan kita. Ia dapat melakukan apa saja dan terhadap siapapun juga.

Boleh jadi karena tiadanya keimanan itulah yang menjadikan sentuhan pendidikannya terhadap anak teramat sangat kurang. Bisa saja ketika ia jima’ terhadap isterinya dia tidak membaca doa perlindungan, waktu lahir anaknya dia tidak meng-adzankan dan mengi-iqomatkan, waktu aqiqah dia tidak membacakan doa perlindungan, saat sholat (jika melakukan) tidak terlintas berdoa untuk anaknya, di keseharian juga tidak mengajarkan hal-hal yang baik dan utama terhadap anak, dan lain-lain.

Kisah Siswoyo mengingatkan saya tentang bagaimana sulitnya mendidik anak. Terlebih di tengah degradasi moral pada zaman sekarang ini. Sungguh, teramat berat perjuangan kita untuk membentengi mereka terhadap pengaruh-pengaruh buruk. Dan hanya dengan kekuatan dan pertolongan Allah-lah orang tua bisa mengarahkan anak-anaknya menjadi anak shaleh sesuai dambaannya.

Alangkah bodohnya jika kita hanya menyandarkan proses pendidikan anak pada upaya manusiawi semata, dengan menyekolahkan ke tempat yang bagus, dengan memberikan guru privat yang bagus, dengan memberikan fasilitas yang bagus, dan lain-lain yang bagus. Namun pada sisi lain kita tenggelam dalam kesibukan sendiri tanpa ada kepedulian terhadap anak walau sekedar menanyakan atau berdoa untuknya. Syukur jika kita sibuk dalam meolong agama Allah, maka Allah pun akan menolong kita dengan penjagaan Allah atas anak kita. Yang memprihatinkan, kita sibuk mengejar harta dan sama sekali tidak melibatkan kekuasaan ilahi dalam masalah penjagaan anak.

Dalam upaya apapun kita tidak lupa bertawwakal kepada Allah menyerahkan segala urusan. Namun sering kali kita jumpai orang tidak bisa bertawwakal mendidik anak. Jika kita memang betul bertawwakal, maka kita pun akan merawat keimanan kita, kita akan senantiasa berdoa untuk anak-anak kita, kita akan senantiasa memberikan perhatian semampunya, —dan yang sering dilupakan manusia, senantiasa mengevaluasi dari mana asal harta-harta kita dan bagaimana kita telah membelanjakannya.

Dewasa ini kita menyaksikan begitu dahsyatnya penyimpangan yang terjadi pada anak bahkan diluar perkiraan kita sebelumnya. Banyaknya kasus korupsi yang merebak, banyaknya aliran sesat yang terkuak, dan banyaknya kehidupan sekuralisme yang semarak, seakan membuktikan kebanaran dari sebab dan akibat dari ayat-ayat-Nya yang mulia.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita untuk bertawwakal dengan sebenar-benarnya, termasuk dalam mendidik Anak. Amin.

Waallahu’alam Bishshawwab.