free hit counters
 

Teladan Akhlak Lewat Sebuah Kupluk

Minggu siang yang dingin di Trondheim. Sejak pagi salju tak berhenti turun, mencipta hamparan putih nan tebal di sejauh pandang. Di luar sana pemandangan baru menghias hari kami, anak-anak dan dewasa bermunculan dengan papan-papan ski. Meluncur di dataran salju berkontur di sekitar apartemen kami.

Seperti biasa, agenda tetap setiap minggu siang adalah pengajian, majelis ilmu dan silaturrahim keluarga muslim Indonesia di Trondheim. Sebelum berangkat suami menyempatkan menelpon ke kampung halaman. Perbedaan waktu membuat kami harus menelpon di jam-jam tertentu yang pas dengan waktu keluarga di Indonesia. Percakapan ternyata berjalan lebih panjang dari yang diperkirakan. Tak mungkin memutuskan percakapan. Suami saya masih dengan telepon genggamnya saat kami harus segera meninggalkan rumah.

Saya dan suami bergegas turun dari apartemen kami di lantai empat. Angin di luar menunggu kami dengan tiupan kencang. Kami berlari membelah salju menantang angin, berusaha secepatnya mencapai halte, mengejar bus yang jadwalnya segera tiba. Perlengkapan musim dingin -sarung tangan, kupluk* dan syal- yang belum sempat dipasang dikepit di kanan kiri. Berlari kencang di atas salju tebal memang tak mudah, kami pun terengah-engah.

Antrian di halte menyelamatkan kami, plus kebaikan hati sang sopir menunggu kami yang tak sanggup lagi menambah kecepatan kaki. Namun begitu terhenyak di kursi dengan napas tersengal, suami pun sadar kupluk kesayangan yang sempat diselipkan di saku jaketnya tak ditemukan. Tampaknya kupluk itu terjatuh saat kami berlari melintasi lapangan menuju halte tadi. Yah, sepertinya kupluk berbahan wool dengan lapisan fleece yang hangat itu tak berumur panjang dan memang harus diikhlaskan sebelum musim dingin ini berakhir. Artinya segera saya harus mencari pengganti kupluk baru yang sama hangatnya untuk dihadiahkan pada suami.

Seusai pengajian kami bergegas pulang. Angin masih bertiup kencang menerpa tubuh dan meninggalkan serpihan-serpihan putih salju di sekujurnya. "Suamiku pasti sangat kedinginan", bisik saya dalam hati sambil memandang ke suami yang kepalanya tak lagi terlindungi dengan sempurna. Biasanya, sebuah kupluk selalu menghangatkan kepala dan telinganya saat menempuh cuaca buruk seperti ini. Salju yang semakin tebal menutupi jalan membuat kami tak bisa cepat melangkah melewati udara dingin dan gelap malam. Perjalanan pulang terasa begitu panjang.

Tiba-tiba selintas dalam kegelapan saya melihat sesuatu melambai di ranting kayu di pinggir lapangan, beberapa meter dari jalan yang kami lewati saat berangkat tadi. Subhanallah! Saya mengenalnya, itu pasti dia! Setengah berlari saya hampiri pohon itu. Kupluk itu ternyata di sana, tersampir di ujung ranting kayu. Tak rusak dan tak kotor, hanya nyaris beku diselimuti salju. Alhamdulillah…, tentunya ada seseorang yang berbaik hati menyelamatkan kupluk itu sehingga kami dapat menemukannya kembali. Padahal tadinya kami sempat berpikir kupluk itu tak kan kami miliki lagi karena mungkin telah terinjak-injak dan terbenam di dalam salju atau terseret para pemain ski lalu tedampar entah di mana.

Beberapa langkah lagi menuju rumah, tak henti saya dan suami membahas kisah si kupluk dengan hati berbunga. Begitu teladan orang itu, yang menyelamatkan kupluk kesayangan suami. Baginya tentulah kupluk itu barang biasa dan tak berarti apa-apa. Keberadaan kupluk itu bisa saja ia abaikan, atau malah diantarkan ke tempat sampah agar tak mengotori jalan. Namun ia memilih untuk menghabiskan sedikit waktu, membelokkan langkahnya ke pohon itu dan menaruh kupluk biasa itu di sana. Tentulah karena ia merasa bisa jadi barang itu dibutuhkan oleh pemiliknya, bisa jadi bagi pemiliknya kupluk itu istimewa.



Melihat sarung tangan, kupluk atau apa saja tercecer dan "diselamatkan" di sela pagar atau ranting kayu atau di meja khusus dalam sebuah gedung adalah hal yang sangat biasa di Trondheim. Tak begitu saja orang membuang barang yang tercecer, apalagi ingin memungutnya untuk dibawa pulang dan berganti kepemilikan. Bagaimanapun, mengalami sendiri peristiwa kupluk itu memberi kami beberapa teladan akhlak. Teladan untuk menghargai milik orang lain, pelajaran hati untuk ringan dan optimis memberi bantuan sekaligus peringatan untuk tak tega mengambil milik orang lain, meskipun pemiliknya entah berada di mana.

Keteladanan akhlak si penolong itu telah mengantarkan kupluk kesayangan kembali menemani perjalanan suami saya, melindungi suami tercinta dari kebekuan badai salju dan angin musim dingin di luar sana. Dan bagi kami, kini kupluk kesayangan itu semakin istimewa.

Trondheim, Januari 2008

*kupluk: sebutan kami untuk tutup kepala khusus musim dingin yang menutupi seluruh kepala hingga kedua telinga.

Oase Iman Terbaru