free hit counters
 

Tiadakah Maaf Bagiku?

Abi Sabila – Rabu, 25 Syawwal 1430 H / 14 Oktober 2009 07:57 WIB

Malam itu kami kedatangan tamu. Seorang lelakI berumur 31 tahun yang datang dengan wajah muram, menggambarkan sebuah kesediah mendalam yang sepertinya hendak ia bagikan dengan kami. Kedatangan laki-laki ini tidaklah asing bagi kami, sebelumnya telah beberapa kali dia bertandang ke tempat kami, menceritakan segala keluh kesahnya, kesedihannya dengan kami. Dan kamipun tidak keberatan jika itu dianggap bisa meringankan beban pikirannya.

Dia belum bisa memaafkanku. Dia menepati omongannya untuk tidak memaafkan aku sampai tiga tahun lamanya “ dia memulai ceritanya setelah berbasa-basi sebentar dan segelas teh disuguhkan istriku yang kemudian segera masuk lagi ke dalam menemani putri semata wayang kami belajar.

Dia, kakak iparmu maksudmu? “ aku mencoba menerka seseorang yang lelaki ini maksudkan.

Benar! Sampai lebaran kemarin, dia masih belum mau memaafkanku. Aku sudah mencoba menelponnya berkali-kali tapi tidak diangkatnya. Bahkan smsku pun tak dibalasnya. Aku belum sempat bersilaturahmi langsung ke rumahnya. Aku masih ingat kedatanganku sebelum puasa yang tetap tak disambutnya, bahkan sekedar bersalamanpun aku lihat dia sangat terpaksa “ awalnya lelaki ini bercerita dengan cukup lancar, namun perlahan suaranya terbata bahkan terakhir dia tak bisa meneruskan ceritanya. Kulihat dia tertunduk, menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ada isakan terdengar darinya. Dari guncangan pundaknya aku bisa mengerti beratnya kesedihan yang sedang lelaki ini rasakan. Kesedihan dan penyesalan atas permusuhannya dengan kakak iparnya, atau lebih tepatnya lelaki ini dimusuhi sang kakak ipar.

Semua berawal dari kejadian dua tahun yang lalu. Lelaki ini, satu-satunya saudara yang bisa dijadikan tempat curhat, adalah tempat bagi kakak nomor empatnya menumpahkan segala duka dan laranya akibat kemelut rumah tangga yang sedang dihadapinya. Sang suami, yang berarti kakak ipar dari lelaki ini tengah tergoda dengan perempuan lain, padahal rumah tangga mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Meski bukti dan fakta sudah ada, namun sang suami tetap tidak mau mengakui perbuatannya, penghianatan terhadap keluarga dan kesetiaan istrinya.

Lelaki ini, meski dia anak bungsu dari enam bersaudara namun pikirannya diakui saudaranya lebih sering dewasa dibanding usianya. Lelaki ini yang selama ini bisa merubah tangisan sang kakak setiap kali menelpon menjadi sebuah senyuman, paling tidak ada ketegaran dan ketabahan baru. Lelaki ini pula yang selalu menasihati sang kakak untuk senantiasa bersabar, bersikap hormat dan santun kepada sang suami, bagaimanapun persoalan yang sedang dihadapi, tetaplah sang suami adalah kepala rumah tangga yang harus dihormati, dia seroang istri yang harus berbakti kepada suami.

Lelaki ini pula yang selalu berpesan agar sang kakak memilih jalan yang lembut dan perlahan untuk mengingatkan suaminya agar kembali menyadari kekhilafannya, menyudahi sikap kerasnya, menghilangkan ucapan-ucapan kasarnya, kembali seperti semula, seorang lelaki yang penuh kasih sayang dan perhatian kepada keluarga juga kepada kakak dan adik-adiknya. Lelaki ini pula yang melarang keras sang kakak yang berniat melabrak perempuan yang dianggapnya pengacau rumah tangganya. Menurutnya tak ada guna, hanya akan memperpanjang masalah dan menambah permusuhan. Lebih baik benahi dari dalam, bagaimanapun sang suami lebih dia kenal dan bisa diajak berkomunikasi dibanding sang perempuan yang entah siapa dan berada di mana.

Batas kesabaran manusia ada batasnya. Begitu pula dengan lelaki ini dan juga kakaknya. Satu malam, usai pulang dari yasiinan malam Jum’at di mushola, lelaki ini menerima telepon dari sang kakak. Tak seperti biasanya, jika yang sudah-sudah sang kakak paling hanya terisak, kali ini tangisnya tak terbendung lagi. Beratnya beban perasaan tak mampu ditanggungnya sendiri lagi. Selama ini sang kakak memang hanya berbagi duka dengan lelaki ini, itupun hanya melalui telepon karena jarak mereka yang berjauhan, terpisah kota Jakarta. Begitupun dengan lelaki ini, dia yang selama ini mencoba bersabar, menahan diri untuk bersikap seolah tidak tahu dengn kemelut rumah tangga kakaknya terhadap sang kakak ipar, kali ini terpancing emosinya. Lelaki ini tak lagi memberikan nasihat-nasihat sabarnya, bahkan dia kini terpancing amarah dan meminta bicara langsung dengan sang kakak ipar. Hal yang tak pernah dilakukannya semenjak keluarga ini mengalmi guncangan.

Setelah tersambung dengn sang kakak ipar, lelaki ini benar-benar menumpahkan segala kekesalan yang selama ini dicoba dipendamnya, berusaha dia maklumi bahwa sebuah rumah tangga tak lepas dari cobaan. Entah datang setan dari mana, lelaki ini tak mampu lagi mengendalikan kata-kata. Cercaan, cacian dan makian mengalir begitu saja dari mulutnya, yang ditanggapi dengan tak kalah sengitnya oleh sang kakak ipar yang tak terima merasa diperlakukan tidak dengan sopan oleh lelaki yang jauh lebih muda, hanya seorang adik ipar lagi!

Singkatnya, pertengkaran hebat benar-benar terjadi melalui telepon malam itu. Astaghfirulloh! Jelas, lelaki ini tidak terima jika sang kakak diperlakukan semau sendiri oleh sang suami, dikhianati cintanya, dikhianati kesetiaannya dan dihancurkan hati dan perasaannya. Bagaimanapun lelaki ini tak rela jika sang kakak harus berurai air mata siang dan malam, apalagi berbulan lamanya. Lelaki ini berusaha untuk membela sang kakak, menjaga harga diri sang kakak yang diremehkan oleh suaminya. Beruntung pertengkaran ini tak berlangsung lama. Lelaki ini lebih dulu bisa mengendalikan emosinya, dia segera meminta maaf. Tidak mudah memang,tapi akhirnya sang kakak iparpun emosinya mereda dan memaafkan lelaki ini, meskipun dia sendiri tidak meminta maaf dan tak mau mengakui jika disebut telah menghianati cinta dan kesetiaan istri dan kelurganya.

Pertengkaran sengit, kata-kata kasar yang tak seharusnya, keluar untuk pertama kalinya, bahkan kepada siapapun kata-kata seperti itu tak pernah keluar dari bibir lelaki ini. Penyesalan mendalam yang kemudian tersisa. Berhari-hari, siang malam lelaki ini menyesali kekhilafannya, beristigfar dia menyesali berharap Allah akan mengampuni. Namun, berita menyesakkan dada harus diterima oleh lelaki ini. Kakaknya yang nomor dua memberi tahu kalau sang kakak ipar yang beberapa waktu lalu berseteru dengannya, sebenarnya tidak tulus memaafkannya, bahkan bersumpah tidak akan memaafkannya meski sampai tiga tahun lamanya. Astagfirulloh! Sebuah rumah serasa ambruk menimpanya yang sedang terlelap dalam tidur, menyakitkan dan membunuhnya secara perlahan. Tidak berhenti sampai di situ, bahkan sang kakak ipar melarang istri yang adalah kakak kandung lelaki ini untuk berhubungan dengannya, melalui telepon sekalipun. Hari-hari yang berat, penuh penyesalan dan kesedihan mendalam.

Begitulah, hari-hari lelaki ini kemudian dipenuhi dengan penyesalan. Hatinya perih, niatnya untuk memperbaiki kondisi rumah tangga kakaknya ternyata telah disambut dengan permusuhan oleh sang kakak ipar. Lelaki ini juga menyadari, jika dirinyapun bersalah. Bersalah karena telah berlaku tidak sopan, bersalah karena telah terbawa emosi hinnga memicu pertengkaran besar malam itu. Hanya kepadakulah lelaki ini bercerita. Menurutnya, meski tak ada saran ataupun solusi dariku, baginya itu sudah meringankan beban pikirannya.

Berbagai usaha terus dilakukan lelaki ini untuk memperbaiki hubungannya dengan sang kakak ipar. Jika dengan kakak kandung, hubungan mereka tetap baik saja, malah saring memberikan dukungan. Lelaki ini meminta sang kakak untuk mematuhi larangan sang suami menelpon dirinya, tapi jika ada hal yang perlu disampaikan dia bisa menyampaikannya lewat kakaknya yang lain, sehingga lelaki ini bisa mengetehui kabar sang kakak tanpa sang kakak melanggar larangan sang suami.

Dan sampai hari ini, meski lebih dari empat kali lelaki ini mencoba mendatangi keluarga sang kakak, berharap hubungannya dangan kekak ipar bisa diperbaiki, kenyataannya masih jauh api dari panggang. Bahkan setiap kali lelaki ini datang, setiap kali itu pula ia sama sekali tidak dianggap, tak ditegur apalagi diajak bicara. Kalaupun bersalaman, ia bisa merasakan sebuah keterpaksaan dari kakak ipar. Tapi lelaki ini tidaklah menyerah, ia ingin membuktikan itikad baiknya, ia ingin memperbaiki kesalahannya meski bisa dibilang tak semua kesalahan itu ada padanya. Satu yang membuat lelaki ini sedikit lega, tak lama setelah pertengkarannya dengan kakak ipar, titik terang dari carut marut rumah tangga sang kakak mulai muncul. Kakak ipar mulai kembali seperti semula, perlahan kepribadian aslinya kembali, dan meski belum sepenuhnya, tapi dia mulai sadar dan menjaga jarak dengan perempuan yang pernah mencoba merebut kedamaian hatinya dari keluarganya. Bahkan kini, anak keempat telah terlahir dari keluarga ini. Sejak kelahiran si kecil ini, keluarga ini seolah kembali seperti sedia kala, rukun dan tak pernah lagi terbersit kabar adanya perempuan lain. Lelaki ini bahagia dengan perkembangan keluarga sang kakak. Biarlah tak mengapa, ia akan tetap berusaha meminta maaf, meski sang kakak tak memaafkan dan tak mau meminta maaf. Biarlah semua beban batin ini dianggapnya sebagai penebus kesalahannya.

Benarkah kesalahanku ini tidak pantas untuk dimaafkan ?” lelaki ini bertanya dengan suara parau, matanya kulihat masih membasah, nafasnya terdengar berat.

Saudaraku, tiada dosa dan salah yang tak termaafkan, selama kita mau memperbaikinya. Allah saja Maha Memaafkan, tidak sepantasnya kita hambanya tidak memaafkan kesalahan sesama, apalagi kalian adalah saudara. Saya yakin kakak iparmu sudah memaafkanmu. Kembali rukun rumah tangganya adalah hasil dari semua usaha kakakmu yang tentunya juga ada jasamu di sana. Saya rasa, hanya soal waktu, mungkin kakak iparmu masih merasa gengsi atau malu dengan kesalahannya sendiri. Dia bukan tidak memaafkanmu, tapi dia menjaga jarak darimu. Dia butuh waktu untuk menata kembali sikapnya. Sudahlah, jangan turuti perasaan, apalagi prasaan kita seringkali berlebihan. Teruslah berusaha untuk memperbaiki hubungan, jangan sampai ada rasa dendam dan mohonlah kepada Allah agar kamu diberikan kesabaran, agar kakak iparmu diberikan kesadaran dan agar keluarga kakakmu diberikan kerukunan,kebahagiaan dan dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah”.

Terima kasih, Insya Allah saya sama sekali tidak dendam. Saya akan terus berusaha mencoba memperbaiki silataurahmi ini, saya akan menebus kesalahan saya. Sekali lagi terima kasih, hati saya tentram sekarang “ suara lelaki ini terdengar lebih ringan. Raut mukanya tak lagi semuram ketika dia datang. Sinar matanya tak lagi redup, ada secercah harapan kembali menyapanya. Lelaki ini kemudian berpamitan pulang, ia tetap menolak dengan halus tawaran makan malam istriku.

Seperginya lelaki ini, aku masih membayangkan betapa berat beban lelaki muda ini. Di usianya yang masih terbilang muda ini, berbagai masalah pernah ia hadapi, meskipun bukan masalahnya sendiri, tapi ketika orang membagi dengnnya,ia tak mampu menolaknya. Ya Allah, berikan saudaraku ini kesabaran dan juga kesadaran, lindungilah ia, bimbinglah ia dan arahkan ia. Amin ya robbal alamin…

Tangerang, Oktober 2009
Tiada maksud menyudukan seseorang, hanya sekedar berbagi semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini.

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus