eramuslim

PA 212 curiga ada operasi intelijen hitam di balik kasus UAS ditolak Singapura, ini analisa tajamnya

PA 212 duga ada peran inteligen hitam

PA 212 duga ada peran inteligen hitam

Eramuslim.com - Sekretaris Dewan Syuro Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif menyoroti alasan Ustaz Abdul Somad (UAS) ditolak oleh Kementerian Dalam Negeri Singapura.

Slamet Maarif menduga ada sejumlah pihak sengaja membuat skenario supaya UAS ditolak Singapura.

Tentu, skenario UAS ditolak Singapura menurut dugaan Slamet Maarif adalah untuk memojokkan citranya.

Sebab itu, Slamet curiga adanya campur tangan dalam negeri kepada pihak pemerintah Singapura.

Dugaan Slamet, ada peran intelijen yang sengaja memberi informasi miring jika UAS adalah teroris kepada pemerintah Singapura.

Sehingga dasar itu, pemerintah Singapura mengambil kebijakan untuk menolak UAS memasuki Singapura.

"Kami menduga ada intelijen hitam yang memfitnah UAS kepada Pemerintah Singapura dengan info-info negatif dan sesat," ujar Slamet, dikutip Hops.ID dari Warta Ekonomi - jaringan Suara.com, 19 Mei 2022.

 

Alasannya, kata Slamet, pemerintah Singapura tidak akan banyak tahu soal informasi mengenai UAS kecuali ada bocoran dari dalam negeri sendiri.

"Singapura enggak mungkin mengusir UAS jika tidak mendapat info-info buruk yang sumbernya dari dalam negeri," katanya.

Slamet mengatakan, tidak lain UAS ditolak Singapura betujuan untuk mengacaukan agenda dakwahnya.

"Ya, menggagalkan dakwah UAS tujuannya,” tuturnya.

Slamet menyinggung bahwa soal penolakan pada pendakwah memang sudah kerap terjadi.

“Selama ini sudah sering terjadi pembubaran pengajian hingga penolakan dai yang dianggap bukan kelompok mereka," ucapnya.

 

Sebelumnya, Kemendagri Singapura angkat bicara soal alasan UAS ditolak memasuki negaranya.

Dalam situs resminya, ternyata khotbah UAS tentang bom bunuh diri dalam konteks konflik Israel-Palestina disorot Pemerintah Singapura sehingga hal itu menjadi pertimbangan untuk menolak UAS.

Selain itu, juga diterangkan jika UAS masuk kategori penceramah ekstremis dan mengajarkan segregasi, dengan alasan itu sangat tidak bisa diterima oleh masyarakat Singapura yang multiras dan multiagama.(HOPS)