eramuslim

Pakai Quadcopter, Israel Bunuh Anak Usia 3 Tahun di Gaza

eramuslim.com - Pasukan pendudukan Israel pada Kamis malam menewaskan seorang anak Palestina di bawah umur di lingkungan Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza, menurut sumber lokal.

Mereka melaporkan bahwa quadcopter Israel yang dikendalikan dari jarak jauh menembaki warga sipil di daerah al-Mintar, mengakibatkan kematian Amjad Hazem Abed yang baru berusia tiga tahun.

Selain itu, kantor berita WAFA melaporkan bahwa drone tempur Israel menembak seorang wanita di kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, hingga menyebabkan luka-luka. Sehari sebelumnya, militer Israel melancarkan serangan yang menewaskan delapan orang, termasuk seorang wanita di dekat Rafah serta seorang gadis di Deir el-Balah.

Sementara itu, tim penyelamat di Gaza kembali melakukan pencarian jenazah di Rumah Sakit al-Shifa. Pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa sejauh ini, 48 jenazah telah ditemukan dan diangkut untuk pemakaman yang layak. Dari jumlah tersebut, 38 jenazah telah berhasil diidentifikasi dengan bantuan keluarga, sedangkan 10 lainnya masih belum dikenali.

Direktur Pertahanan Sipil menyebut bahwa proses evakuasi seluruh jenazah yang ditemukan di rumah sakit – yang berjumlah sekitar 160 – diperkirakan akan memakan waktu beberapa hari.

Jumlah korban jiwa di Jalur Gaza terus bertambah, dengan angka terbaru mencapai 48.524 orang sejak dimulainya serangan Israel pada Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, jumlah korban luka kini mencapai 111.955 orang, sementara ribuan lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan, di tengah upaya penyelamatan yang terus menghadapi berbagai kendala.

Dalam 24 jam terakhir, sembilan korban jiwa tambahan telah dibawa ke rumah sakit di seluruh Gaza, termasuk tujuh orang yang baru ditemukan dari reruntuhan.

Tim medis telah memperingatkan bahwa masih banyak korban yang tertimbun di bawah bangunan yang hancur atau terjebak di jalanan. Namun, tim penyelamat mengalami kesulitan dalam menjangkau lokasi-lokasi tersebut akibat minimnya peralatan penting untuk operasi pembersihan dan evakuasi.

(Sumber selengkapnya: Republika)