Menurut dia, ada beberapa data yang dikemukakan Faisal Basri yang membuat munculnya pernyataan keras bahwa Indonesia menjadi Budak China menurut ekonom senior tersebut.
“Bagi saya, mungkin jauh lebih elok jika pemerintah merespons pernyataan Faisal Basri tidak hanya pada perbedaan nilai ekspor nikel ke China, tapi juga pada pernyataan keras Faisal Basri bahwa ‘Kita Budak China’,” tulis Agussalim lewat akun media sosialnya.
Dia pun menjelaskan beberapa data penting yang dijelaskan Faisal Basri.
“Hampir 100 persen ekspor nikel mentah (nickel pig iron dan ferro nickel) diekspor ke China. Dengan lugas Faisal Basri menyebut bahwa hilirisasi nikel di Indonesia untuk menopang industrialisasi di China;
Sebanyak 22 industri smelter yang ada di Indonesia, 21 di antaranya milik China;
Buruknya tata kelola nikel yang menguntungkan perusahaan China: pemberian tax holiday, kongkalikong harga, visa kunjungan tenaga kerja China, kualifikasi tenaga kerja China yang tidak sesuai, dst;
Tentu saja, yang juga sangat penting untuk dijelaskan, soal ekspor illegal 5,3 juta ton ke China sejak tahun 2021. Apalagi Faisal Basri menyebut keterlibatan tiga orang penting.
Sebetulnya ini yang ingin kita didengarkan…
Mudah-mudahan nanti dari penjelasan pemerintah, kita bisa mengatakan bahwa sebenarnya ‘Kita Majikan China’,” tulisnya.
