Pemerintahan Baru, Taliban Minta Para Menteri Terapkan Hukum Islam
eramuslim.com - Sebuah pernyataan yang disebut berasal dari Pemimpin Tertinggi Taliban Mawlawi Hibatullah Akhundzada meminta pemerintah baru untuk menegakkan Syariah.
Taliban menginginkan "hubungan yang kuat dan sehat dengan negara-negara tetangga dan semua negara lain berdasarkan interaksi timbal-balik dan saling menghormati", kata pernyataan itu, yang dirilis dalam bahasa Inggris - dengan catatan bahwa mereka hanya akan menghormati hukum dan perjanjian internasional "yang tidak bertentangan dengan hukum Islam dan nilai-nilai nasional negara".
Hibatullah Akhundzada tidak pernah tampil di depan umum. Ini adalah pesan pertama yang muncul darinya sejak Taliban mengambil alih Afghanistan bulan lalu.
Hassan Akhund, sang pelaksana tugas perdana menteri, menjabat sebagai wakil menteri luar negeri dari 1996 hingga 2001, ketika kelompok itu terakhir kali berkuasa. Ia tokoh berpengaruh pada sisi religius gerakan, bukan sisi militernya.
Penunjukannya dipandang sebagai kompromi, setelah baru-baru ini muncul laporan tentang perselisihan internal antara beberapa tokoh Taliban yang relatif moderat dan rekan-rekan garis keras mereka.
Sirajuddin Haqqani, pelaksana tugas menteri dalam negeri Afghanistan, adalah kepala kelompok militan yang dikenal sebagai jaringan Haqqani yang berafiliasi dengan Taliban.
Berbeda dengan Taliban yang lebih luas, jaringan Haqqani telah ditetapkan oleh AS sebagai organisasi teroris . Kelompok ini juga mempertahankan hubungan dekat dengan al-Qaeda.
Menurut profil FBI tentang Haqqani, pria itu "dicari untuk diinterogasi sehubungan dengan serangan Januari 2008 di sebuah hotel di Kabul yang menewaskan enam orang, termasuk seorang warga negara Amerika."
"Ia diyakini telah berkoordinasi dan berpartisipasi dalam serangan terhadap Amerika Serikat dan pasukan koalisi di Afghanistan. Haqqani juga diduga terlibat dalam perencanaan upaya pembunuhan terhadap eks Presiden Afghanistan Hamid Karzai pada tahun 2008.
Jaringan Haqqani juga dituduhkan atas serangan terhadap kedutaan AS dan pangkalan NATO di Kabul pada 12 September 2011. Delapan orang - empat petugas polisi dan empat warga sipil - tewas dalam serangan itu.
Sosok-sosok lain yang mendapat posisi di pemerintahan baru meliputi:
Mullah Yaqoob sebagai pelaksana tugas menteri pertahanan. Ia adalah putra pendiri Taliban dan mantan pemimpin tertinggi kelompok itu, Mullah Omar. Ia mulai terkenal pada 2015 ketika, dalam pesan audio yang dirilis setelah kematian ayahnya, ia menyerukan persatuan dalam kelompok militan itu.
Pendiri Taliban lainnya, Mullah Abdul Ghani Baradar akan menjadi salah satu deputi perdana menteri. Baradar sebelumnya adalah kepala kantor politik Taliban, dan mengawasi penandatanganan perjanjian penarikan pasukan AS tahun lalu.
Amir Khan Muttaqi bertindak sebagai menteri luar negeri. Ia adalah pemimpin senior yang terlibat dalam negosiasi dengan AS tentang penarikan pasukan.
Ketika ditanya mengapa tidak ada perempuan yang diberi jabatan, seorang tokoh senior Taliban mengatakan kepada BBC bahwa kabinet belum final.
Taliban kini mengklaim kontrol penuh atas Afghanistan, dengan mengatakan mereka telah mengalahkan pasukan perlawanan di lembah Panjshir, di utara Kabul. (detik)