Konsep Bisnis Dalam Al-Qur’an (1)

Seral Ekonomi Islam (3)

Al-Qur’an memandang kehidupan manusia sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dalam pandangan Al-Qur’an, lkehidupan manusia itu dimulai sejak kelahirannya namun tidak berhenti pada saat kematiannya. Hidup setelah mati, [1] adalah sebuah rukun iman yang sangat penting dan esensial. Dia berada dibawah satu tingkat setelah keimanan kepada Allah. Tanpa keimanan pada hal yang sangat vital ini semua struktur dan sistem keimanan Al-Qur’an akan rusak dan berantakan.

Manusia harus bekerja bukan hanya untuk meraih sukses di dunia ini namun juga untuk kesuksesan di akhirat. Semua kerja seseorang akan mengalami efek yang demikian besar pada diri seseorang, baik efek positif dan konstruktif maupun efek negatif dan destruktif. Dia harus bertanggung jawab dan harus memikul semua konsekuensi aksi dan transaksinya selama di dunia ini pada saatnya nanti di Akhirat yang kemudian dikenal dengan Yaumul Hisab [2] sebagaimana hari itu juga disebut sebagai Yaum al-Diin. [3]

Dengan demikian, konsep Al-Qur’an tentang bisnis yang sebenarnya, serta yang disebut beruntung dan rugi hendaknya dilihat dari seluruh perjalanan hidup manusia. Tak ada satu bisnis pun yang dianggap berhasil, jika dia membawa keuntungan, sebesar apapun keuntungan yang diperoleh dalam waktu tertentu, namun pada ujungnya mengalami kerugian yang melebihi keuntungan yang diperoleh. Sebuah bisnis akan dinilai menguntungkan apabila pendapatan yang diperoleh melebihi biaya atau ongkos produksi. Skala peritungan bisnis semacam ini akan ditentukan pula di hari Akhirat.

Dalam bahasan ini akan dianalisa ajaran-ajaran Al-Qur’an untuk menjernihkan perbedaan antara bisnis yang menguntungkan dan merugikan. Analisa ini juga akandisertai dengan deskripsi singkat dan seksama tentang pahala yang dijanjikan Al-Qur’an pada orang-orang yang berlaku baik dan siksa pada orang-orang yang berlaku jahat.

Untuk memberikan gambaran yang benar tentang bisnis yang baik dan yang jelek, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk sebagaimana pada ayat-ayat berikut ini:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah laksana sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa-siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah:261).

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridlaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan deras, sehingga kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan deras tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah:265).

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitabullah dan menegakkan shalat serta menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam ataupun dengan terang-terangan, mereka ini melakukan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir:29). [4]

“Allah memusnahkan riba dan menuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran serta selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah:276).

“Dan riba yang kamu berikan agar dia menambah harta seseorang, maka sebenarnya riba itu tidak menambah apapun di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mendapat keridlaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahala dan hartanya).” (Ar-Ruum:39).

“Dan orang-orang kafir berkata: Hari Kebangkitan itu tidak akan datang kepada kami. Katakanlah: Pasti datang. Demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang kepada kalian. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya benda sebesar atom (dzarah) pun di langit dan di bumi, bahkan yang lebih kecil dari itu apalagi yang lebih besar, melainkan semuanya tersebut dalam Lauhul Mahfudz.” (Saba’:3).

“Pada hari ketika mereka semua dibangkitkan Allah, lalu Allah memberikan mereka (catatan) apa saja yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (catatan) amal perbuatan mereka, padahal mereka sendiri telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadilah:6).

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik? Niscaya Allah akan menggandakan (pengembalian) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadiid:11).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedakah baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pengembaliannya) kepada mereka; dan mereka mendapat pahala yang banyak.” (Al-Hadiid:18).

“Barangsiapa melakukan perbuatan yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnyal dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang jahat, maka dia tidak akan diberi pembalasan kecuali seimbang dengan kejahatannya, jadi mereka sedikitpun tidak dizhalimi.” (Al-An’am:160).

A. Bisnis yang Menguntungkan

Dalam Al-Qur’an, bisnis yang menguntungkan itu mengandung tiga elemen dasar:

  1. Investasi yang prospektif.
  2. Keputusan yang tepat dan logis.
  3. Perilaku yang terpuji.

1. Investasi yang prospektif

Menurut Al-Qur’an, tujuan dari semua aktifitas manusia hendaknya diniatkan untuk ibtigha-i mardhatillah (mencari keridhaan Allah), [5] karena hal ini merupakan pangkal dari seluruh kebaikan. [6] Dengan demikian maka investasi dan kekayaan milik seseorang itu dalam hal-hal yang benar tidak mungkin untuk dilewatkan penekanannya. Dalam ungkapan lain, investasi terbaik itu adalah jika ia ditujukan untuk menggapai ridha Allah.

Karena kekayaan Allah itu tanpa batas dan tidak akan habis, [7] maka merupakan pilihan terbaik untuk mencari dan memperoleh keuntungan yang Allah janjikan dengan mengambil kesempatan-kesempatan yang ada. Di dalam Al-Qur’an, rahmat (kasih sayang) Allah digambarkan sebagai sesuatu yang lebih baik dari segala kenikmatan yang ada di dunia. [8] Jika mardhatillah menempati prioritas paling puncak, tentu saja investasi untuk mencapai itu menjadi investasi terbaik dari segala jenis investasi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Bagaimana dan apa yang diinvestasikan itu?”

Investasi itu seluruhnya sangat tergantung pada kondisi dan keikhlasan orang yang melakukan. Jika ia melakukannya dengan baik dan ikhlas, maka pahala dari investasi itu akan dilipatgandakan luarbiasa oleh Allah. Mungkin saja investasi itu berupa jiwa dan harta mereka, [9] ataupun hanya harta saja. [10] Harta kekayaan yang dipergunakan di jalan Allah (yakni dalam hal-hal yang baik) akan Allah berkati dan akan dilipatgandakan. Penggunaan belanja yang benar di jalan Allah inilah yang dinilai Al-Qur’an sebagai bisnis yang tak akan rugi. Bukan hanya itu, bisnis seperti ini secara positif juga akan membuahkan hasil yang berlimpah dan berlipatganda. [11]

Investasi yang prospektif juga bisa berupa meringankan, melonggarkan, dan tidak mengejar-ngejar para debitur (pengutang) yang benar-benar tidak mampu mengembalikan utang tersebut. Sikap dan perilaku kreditur (pemberi utang) yang demikian dinilai sebagai investasi yang menguntungkan. [12] Membelanjakan harta untuk zakat adalah salah satu jalan untuk menggapai ridha Allah. [13] Allah menjanjikan akan memberikan ganjaran yang berlipat-lipat. [14] Mempergunakan kekayaan dalam hal-hal yang baik juga dinilai sebagai pinjaman yang baik (qardh hasan) yang dibayarkan sejak awal pada Allah. [15] Allah juga menjanjikan bagi mereka yang melakukannya dengan pahala yang berlipatganda. [16] Pinjaman indah ini Allah janjikan akan dibayar minimal sepuluh kali lipat dari jumlah yang dipinjamkan. [17] Bahkan, sabar atas rasa sakit yang menimpa fisik, penderitaan mental akibat adanya teror dan pengusiran, atau tabah atas ancaman pembunuhan, atau terbunuh karena membela kebenaran; semua itu menurut Al-Qur’an dianggap sebagai investasi yang sangat menguntungkan. [18]

2. Keputusan yang tepat dan logis

Agar sebuah bisnis sukses dan menghasilkan untung, hendaknya bisnis tersebut didasarkan atas keputusan yang tepat, logis, bijak dan hati-hati. Menurut Al-Qur’an, bisnis yang menguntungkan bukan hanya yang dapat dinikmati di dunia, tetapi juga dapat dinikmati di akhirat dengan keuntungan yang jauh lebih besar. Karena kenikmatan dunia itu tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. [19] Kebersihan jiwalah, bukan banyaknya harta, yang akan membuat manusia sukses di alam akhirat. [20] Itulah sebabnya mengapa Al-Qur’an selalu menasihati manusia agar selalu mencari dan mengarahkan apa yang di lakukan untuk mendapat pahala di akhirat, bahkan pada saat dia melakukan hal-hal yang bersifat duniawi sekalipun. [21]

Usaha untuk mencari keuntungan yang banyak dengan cara-cara bisnis yang curang hanya akan menghasilkan sesuatu yang sangat tidak baik dan menimbulkan kepailitan, yang mungkin saja terjadi di dunia ini. Dengan demikian, menurut Al-Qur’an, bisnis yang menguntungkan adalah, bukan hanya dengan melakukannya secara profesional dan benar, namun juga menghindari segala bentuk praktek-praktek curang, kotor dan koruptif. [22]

Preferensi pada apa yang disebut dengan halal dan thayyib (baik) dengan dihadapkan pada sesuatu yang haram dan khabits (buruk) adalah salah satu yang dianggap sangat baik untuk pengambilan keputusan yang logis dan bijak. Sesuatu yang baik tidak akan pernah bersatu dengan sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, bisnis yang menguntungkan akan selalu diberikan pada hal yang thayyib, meskipun dalam kuantitasnya tidak lebih banyak dari yang khabits. [23] Al-Qur’an menekankan bahwa sebuah bisnis yang kecil namun lewat jalan halal, jauh lebih baik daripada bisnis besar yang didapatkan melalui cara-cara yang haram.

Dalam Al-Qur’an, transaksi terbaik adalah yang memberikan garansi terhindarnya seseorang dari neraka dan memberi jaminan masuk surga. Transaksi yang menguntungkan ini hanya bisa diwujudkan dengan cara beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara konsisten, dan berjuang di jalan Allah dengan harta maupun jiwanya. Allah swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suartu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu apabila kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkanmu ke istana di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash-Shaff: 10-12).

Disamping akan memperoleh ganjaran yang demikian banyak dari Allah di akhirat nanti, dalam transaksi ini Allah juga menjanjikan akan memberi “bonus cash” di dunia dalam bentuk dukungan Allah dan menjadikan mereka menang dalam menghadapi kompetitor-kompetitornya. [24]

3. Perilaku yang terpuji

Dalam Al-Qur’an, perilaku yang terpuji sangat dihargai dan dinilai sebagai investasi yang sangat menguntungkan, karena hal ini akan mendatangkan kedamaian di dunia juga keselamatan di akhirat. [25] Indikator perilaku seseorang itu telah dipaparkan dalam Al-Qur’an, dimana setiap orang beriman akan selalu meniru dan mengikuti jejak langkah Rasulullah dalam menjalani kehidupanya di dunia. [26]

Diantara perilaku terpuji yang direkomendasi Al-Qur’an agar memperoleh bisnis yang menguntungkan adalah dengan mencari karunia secara sungguh-sungguh, [27] serta mengharap ampunan-Nya. [28] Jalan untuk mendapat ampunan-Nya adalah dengan memberi maaf pada sesama manusia; [29] karena disamping akan mendapat ampunan, ia juga akan memperoleh ganjaran yang besar dari Allah. [30] Menepati janji dan kesepakatan juga merupakan indikator perilaku terpuji, [31] disamping membayar zakat dengan sempurna. [32]

Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk memegang amanah dengan baik dan menepati janji, [33] dan bersikap adil serta moderat terhadap sesama manusia. [34] Lebih dari itu, seorang muslim dalam aktivitas bisnisnya harus selalu ingat kepada Allah, menjaga ibadah ritualnya, tidak lalai atas kewajiban zakat dan infaqnya, menghentikan sejenak aktivitas bisnisnya ketika datang panggilan shalat, betapapun sibuk dan padat jadwal kegiatan hariannya. [35] Al-Qur’an menyatakan bahwa sesungguhnya harta kekayaan, disamping isteri dan anak-anak, itu adalah ujian bagi integritas kemanusiaannya. [36]

(bersambung)

Referensi:

  1. Terma Al-Akhirah disebut sebanyak 104 kali di dalam Al-Qur’an. Contoh-contohnya bisa didapat dalam Al-Qur’an : 19: 66 – 68; 16: 38; 2:28; 22: 66; 30: 40; 45: 26; 29:57: 6 : 36; 7:57;30: 50. Lihat Mu’jam,vol.1, 29.
  2. Al-Qur’an: 38:16, 26, 53; 40:27. “Hari Kebangkitan (Kiamat) disebut juga Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) karena pada saat itu adalah hari dimana manusia ditanyakan, saat mereka dihitung amal perbutannya”(Lihat, Mu’jam, op.cit., vol.1, 267.
  3. Al-Qur’an: 1:4; 15:35; 26:82; 37:20; 38:78; 51:12; 56:56; 70:26; 74:46; 82:15,17,18; 83:11. Pernyataan dibawah ini mempunyai arti penting tentang apa yang disebut dengan Hari Pembalasan (Yaum al-Diin) itu, “Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kita tidak bisa memformat konsepsi tentang Pengadilan Akhir itu. Kita memang bisa membicarakan tentang ganjaran dan azab, tentang buah amal seseorang, tentang kebangkitan manusia dan pengadilan mereka, restorasi tentang nilai-nilai yang benar, dan eliminasi sema kesalahan-kesalahan, serta ratusan frase yang lain. Mereka mungkin akan mengantar otak kita secara samar-samar pada sebuah “dunia baru”, dimana mereka tidak mungkin mampu memformat konsepsi yang cukup memuaskan pada kondisi saat ini.” (lihat Yusuf Ali, op.cit.,1701, no.6009).
  4. Di sini kita lihat metafora bisnis. Kebaikan derma seseorang bukan semata karena berasal dari jumlah yang berlebihan, namun itu memang berasal dari karunia yang Allah telah sediakan padanya. Dari sini akan diketahui dua hal: (1) Bahwa kekayaan yang ada pada dirinya bukanlah hak absolut dia, namun itu adalah pemberian yang Allah berikan padanya. (2) Bahwasanya dia harus mengalokasikan sebagian dari harta yang dia miliki, dalam posisinya sebagai pelaku bisnis untuk diinvestasi sebagai kapital. Hanya perdagangan yang baik saja yang tidak akan pernah gagal ataupun mengalami fluktuasi. Sebab Allah memberikan garansi padanya sebuah balasan, bahkan Allah akan memberikan tambahan pada balasan itu yang merupakan kasih sayang dariNya. Allah akan memberikan lebih dari apa yang seharusnya kita pantas menerimanya. (Yusuf Ali, op.cit., 1161, no.3915).
  5. Kata ini diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur’an. Yusuf Ali menafsirkan kata itu sesuai dengan konteks ayatnya, yaitu: (1) Untuk memperoleh keridhaan Allah (seeking pleasure of God) (2:207). (2) Berbuat agar Allah ridha (seeking to please God) (2:265). (3) Mencari kebaikan dari keridhaan Allah (seeking the good pleasure of God) (4:114).
  6. Al-Qur’an: 9:72. Sebagaimana salah satu potongan dari ayat ini adalah firman-Nya: “Dan keridhaan Allah itu adalah lebih besar.”
  7. Al-Qur’an: 16:95-96; 20:131.
  8. Al-Qur’an: 28:78-80; 43:23.
  9. Al-Qur’an: 2:207; 9:111; 57:10; 61:12; 73:20.
  10. Al-Qur’an: 2:261, 265, 268, 271-271,; 4:39; 9:121; 24:33; 30:38; 34:39; 57:7; 63:10l; 62:16; 70:24-25; 76:7-9; 90:11-17; 92:5-7, 17-21; 107:1-3,7.
  11. Al-Qur’an: 35:29-30. “Allah selalu siap untuk mengakui, mengapresiasi dan memberi balasan terhadap pengabdian sekecil apapun yang dilakukan manusia, tanpa melihat pada cacat yang ada pada pengabdian tersebut. Keramahan-Nya dalam penerimaan pengabdian manusia bisa dibandingkan dengan rasa “terima kasih” diantara manusia.” (Yusuf Ali, op.cit.,162, no.3917).
  12. Al-Qur’an: 2:280.
  13. Zakat merupakan salah satu pilar Islm yang lima. Kata zakat disebut sebanyak 29 kali di dalam al-Qur’an. Zakat berarti memberikan sebagian harta dalam porsi tertentu yang telah ditentukan.(Lihat Mu’jam, op.cit.m vol.1:539-540.
  14. Al-Qur’an: 30:39.
  15. Frase qardh hasan ini disebutkan dalam ayat-ayat berikut: 2:245; 5:13; 57:11,18; 64:17; 73:20. Memberi pinjaman yang baik pada Allah maknanya adalah memberikan derma yang hanya mengharapkan keridhaan Allah. (Lihat Mu’jam, op.cit., vol.2, 388-389.
  16. Al-Qur’an: 2:242l; 5:13; 57:11,18; 64:17; 73:20. “Mempergunakan harta kekayaan di jalan Allah secara metaforik disebut sebagai “pinjaman yang indah”. Cara ini memiliki keutamaan dari beberapa segi: (1) Dalam pinjaman yang biasa masih ada semacam kekhawatiran terhadap keamanan modal dan kembalinya pinjaman tersebut. Namun disini anda memberikan pinjaman itu kepada Tuhan semesta alam, yang di tangan-Nya kunci apa yang anda mau berada. Jika anda memberikan apa yang anda miliki di jalan Allah, maka anda akan mendapatkan penggandaan yang sangat banyak, sedangkan jika anda tahanharta tersebut, maka bisa saja harta itu lepas dari tangan anda. Jika kita ingat bahwa tujuan kita adalah Allah, apakah kita masih mampu untuk memaingkan diri dari-Nya? (Yusuf Ali, op.cit., 97, no.276; 245, no.710; 1560, no. 5500).
  17. Al-Qur’an: 6:160. “Allah itu Maha Baik dan Maha Pemurah. Satu kebaikan yang dilakukan manusia akan diblas sepuluh kali lipat, berkat Kemahamurahan-Nya. Sedangkan pada tindakan kejahatan, Allah tidak akan memberikan siksa lebih dari apa yang dilakukan hamba itu. Bahkan bagi setiap pelaku dosa selalu terbuka pintu tobat baginya sepanjang dia mau bertobat dan memperlihatkan perilaku yang baik.” (Yusuf Ali, op.cit., 338, no.986).
  18. Al-Qur’an: 3:195; 9:120-121; 29:69.
  19. Al-Qur’an: 8:67; 13:26; 17:19; 18:46; 20:131; 73:20. Makna yang ada di ayat-ayat tersebut adalah: “Kenikmatan yang ada di dunia ini adalah laksana perhiasan, alat kesenangan hidup, satu batu loncatan yang merupakan jalan untuk menuju sebuah kehidupan mendatang. Dunia secara dzati jauh sangat tidak penting dibanding kehidupan akhirat. Kehidupan di dunia mungkin saja mengagumkan, namun itu tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Keduanya memang Allah yang menyediakan. Namun yang pertama, kehidupan dunia, bagi orang yangb bijak dan yang tidak bijak sebagai sarana ujian, dan bagaimanapun juga kehidupan dan kenikmatan dunia itu akan lenyap dan sirna. Sedang yang kedua, kehidupan akhirat, adalah diberikan secara istimewa olah Allah pada hamba-hamba-Nya yang takwa. Alam akhirat memiliki nilai yang tidak mungkin bisa dibandingkan dengan apa saja yang ada di dunia. Dan dia adalah alam yang abadi. (Yusuf Ali, op.cit.,611, no. 1841 dan 819, no. 2656).
  20. Al-Qur’an: 26:88-89; 35:18. “Di Hari Perhitungan kelak, tidak ada yang berguna kecuali hati yang bening dan bersih; semua bentuk perbuatan yang di dunia disebut dengan perbuatan baik, namun tidak didasarkan pada hati yang bersih, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia. Saat itulah Surga dan Neraka akan diperlihatkan dengan jelas pada manusia. Kejahatan-kejahatan juga akan ditampakkan dalam bentuknya yang jelas, terisolasi, tak ada advokasi, terkutuk, tercela, dan putus asa. Segala kesempatan, di saat itu telah tertutup dan sirna.” (Yusuf Ali, op.cit., 975, no.3180).
  21. Al-Qur’an: 42:20. “Perumpamaan ini adalah terhadap apa yang dilakukan oleh seorang petani yang membajak tanah serta menanaminya dengan bibit di musim tertentu, dan dia akan menuai hasil panennya. Seseorang akan menuai apa yang ia tanam. Namun Allah akan melipatgandakan hasil tanam yang bersifat penanaman spiritual. Bagi siapa yang hanya asyik dengan permainan dunia ini, maka ia mungkin akan memperoleh dunia itu, namun alam spiritual akan tertutup bagi dirinya.” (Yusuf Ali, op.cit., 1311, no.4555).
  22. Al-Qur’an: 7:85; 17:35.
  23. “Banyak manusia yang menilai sesuatu hanya dari aspek kuantitas dan mengabaikan kualitas. Mereka terpesona dengan angka-angka. Mereka terhipnotis dengan banyaknya jumlah. Namun orang berilmu dan memiliki pandangan yang tajam akan menilai sesuatu dengan cara bijak dan benar. Dia tahu bahwa yang baik dan yang jelek itu sama sekali berbeda dan tidak mungkin ada dalam satu ruang. Dia dengan hati-hati akan memilih yang baik, walau hal ini jarang dan langka. Dia akan menghindari yang buruk, walau mungkin akan menghadapi rintangan di setiap langkahnya.” (Yusuf Ali, op.cit., 274, no.806).
  24. Al-Qur’an: 61:13. “Semua perjuangan di jalan yang benar, pasti akan ditolong Allah. Bagaimanapun rintangan yang kita hadapi, kita akan selalu memperoleh kemenangan berkat pertolongan Allah. Hidup ini adalah rangkaian perjuangan, dan perjuangan terberat adalah perjuangan spiritual. Kemenangan hakiki yang akan diperoleh manusia adalah surga yang abadi.” (Yusuf Ali, op.cit., 1542, no.5445).
  25. Al-Qur’an: 16:97; 17:7; 41:46; 45:15; 103:3.
  26. Al-Qur’an: 33:21; 68:4.
  27. Al-Qur’an: 31:12; 93:11; 108:2.
  28. Al-Qur’an: 71: 10-12.
  29. Al-Qur’an: 24:22.
  30. Al-Qur’an: 45:14; 64:14.
  31. Al-Qur’an: 13:20.
  32. Al-Qur’an: 19:31.
  33. Al-Qur’an: 23:8; 70:32; 76:7.
  34. Al-Qur’an: 57:25; 60:8.
  35. Al-Qur’an: 24:37-38; 62:9.
  36. Al-Qur’an: 64:15.