free hit counters
 

Natal, Sejarah Yang Tersembunyi (1)

Rizki Ridyasmara – Rabu, 22 Rabiul Awwal 1438 H / 21 Desember 2016 08:00 WIB

 

Setiap menjelang akhir tahun, seluruh dunia tersihir oleh gempita menyambut Natal dan Tahun Baru. Banyak umat Islam yang ikut-ikutan tanpa mengetahui sejarah sesungguhnya dari perayaan ini. Bahkan banyak pula kalangan Non-Muslim yang juga tidak mengetahuinya. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga 25 Desember dirayakan sebagai Hari Natal lengkap dengan berbagai aksesorisnya?

*

Secara etimologis, istilah “Natal” berarti “Kelahiran”. Ini diambil dari bahasa Portugis. Dalam bahasa Inggris, disebut “Christmas” yang berasal dari istilah “Mass of Christ”, atau “Hari Perayaan Kelahiran Yesus”. Istilah ini berasal dari ajaran Gereja Katolik Roma pada abad ke-4 M. Banyak yang tidak mengetahui jika perayaan ini sama sekali tidak ada dalilnya di dalam Alkitab.

“Pemeluk Kristen abad pertama sampai keempat pun tidak pernah merayakan Natal, baru pada abad kelima Natal dirayakan, “ demikian Herbert W. Amstrong, Pastur Worldwide Church of God (AS), di dalam bukunya “The Plan Truth About Christmas” (Worldwide Church of God, California, 1984).

sinter2“Para pemeluk Kristen sampai sekarang masih beselisih pendapat apakah Yesus dilahirkan pada 25 Desember, 6 Januari, atau 25 Maret,” ujar Amstrong lagi.

Asal-Usul Natal

Catholic Encyclopedia edisi 1911, dalam artikel berjudul “Natal Day”, mengatakan, “Di dalam Kitab Suci, tidak seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari lahirnya Yesus. Hanya orang-orang kafir saja—seperti Firaun dan Herodes—yang biasa berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.

Menurut Encyclopedia Americana (1944), “Pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut… Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke empat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Perayaan Natal memiliki akar keyakinan paganisme bangsa Roma Kuno. Natal berasal dari kepercayaan penyembahan berhala masyarakat Babilonia kuno di bawah Raja Nimrod (cucunya Ham, anak nabi Nuh). Nimrod, sang pendiri Menara Babel, membangun kota Babilonia, Niniweah, dan sebagainya, dan membangun sistem kehidupan, ekonomi dan dasar-dasar pemerintahan, yang seluruhnya didedikasikan sebagai pembangkangan terhadap Tuhan. Nimrod ini penguasa yang lalim dan mengawini ibu kandung­nya sendiri, Semiramis.

Setelah Raja Nimrod meninggal, Semiramis menyebarkan ajaran Nimrod jika roh Nimrod tetap hidup abadi walau jasadnya telah mati. Semiramis menunjuk pohon Evergreen yang tumbuh diatas sebatang pohon kavu yang telah mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod.

Semiramis akhirnya membuat satu perayaan untuk mengenang hari kelahiran Nimrod tiap tanggal 25 Desember. Pada hari itu, Semiramis menghias pohon evergreen dan menggantungkan aneka bingkisan pada ranting-ranting pohon itu sebagai peringatan hari kelahiran Nimrod. Inilah asal usul Pohon Natal. Melalui pemujaan kepada Nimrod, akhirnya Nimrod dianggap sebagai “Anak Suci dari Surga’.

Dari perjalanan sejarah, pergantian generasi ke generasi, dari masa­kemasa, dan dari satu bangsa ke bangsa lainnya, perayaan ini diadopsi bangsa pagan Roma sebagai hari penyembahan terhadap Dewa Baal, anak Dewa Matahari, atau God of Sun. Hari sucinya hari Minggu yang disebut sebagai Sunday. Di hari Minggu inilah kaum pagan Roma melaksanakan ibadah.

Kepercayaan Babilonia yang menyembah “Ibu dan anak” (Semiramis dan Nimrod yang dibangkitkan kembali), menyebar luas dari Babilonia ke berbagai bangsa di dunia dengan cara dan bentuk berbeda-beda, sesuai dengan bahasa di negara-negara tersebut. Di Mesir dewa-dewi tersebut bernama Isis dan Osiris, di Asia bernama Cybele dan Deoius, di Roma bernama Fortuna dan Yupiter, juga di negara-negara lain seperti di China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madona. Ini terjadi jauh sebelum Yesus dilahirkan.

Akhirnya, pada abad ke-4 dan ke 5 Masehi, agama baru bernama “Kristen” lahir dan berkembang di Kekaisaran Romawi. Padahal Romawi telah memiliki sistem kepercayaan yang sangat kuat pada dewa dan dewi. Setiap tanggal 25 Desember, kaum pagan Romawi berpesta merayakan hari kelahiran anak Dewi Isis bernama Osiris (nama lain dari Semiramis dan Nimrod). Perayaan ini asing bagi Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama, sebab itu dalam Alkitab kita tidak akan menemukan satu ayat pun yang menyatakan Yesus memerintahkan untuk merayakan Natal, sebab perayaan setiap tanggal 25 Desember, adalah perayaan agama Paganis (penyembah berhala) yang dilestarikan oleh umat Kristiani hingga kini.

New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikel berjudul “Christmas” menulis, “Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan menjelang perayaan akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah mendarah daging di masyarakat Romawi ini diadopsi kekristenan dengan mengubah sedikit jiwa dan ritualnya. Sebab itu, para pendeta Kristen di Barat dan Timur Dekat menentang prosesi perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu, Kristen Mesopotamia menuding jika Kristen Barat telah mengadopsi ritual penyembahan terhadap Dewa Matahari.

Yang perlu diingat, menjelang abad pertama sampai abad keempat Masehi, dunia dikuasai Imperium Romawi yang paganis politeisme. Agama Kristen sendiri saat masih kecil dan berkembang, pemeluknya selalu dikejar-kejar penguasa Romawi. Namun setelah Konstantin naik tahta menjadi Kaisar, dan dia memeluk Kristen di abad ke-4 M, dia menempatkan Kristen sejajar dengan agama pagan. Namun karena rakyatnya sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewinya pada 25 Desember dengan pesta pora yang sangat disukai mereka, maka perayaan itu pun dilestarikan dengan memberi nama baru sebagai Hari Perayaan Kelahiran Yesus. Padahal tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang menyatakan kapan tepatnya hari lahirnya Yesus. [bersambung/Rdy]

loading...

Kristologi Terbaru

blog comments powered by Disqus