Khutbah Idul Adha 1433 H Majelis Mujahidin Indonesia: Militansi Generasi Tauhid

Khutbah Idul Adha 1433 H Militansi Generasi Tauhid oleh Irfan S Awwas Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia

اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ
عَلَى النَّهَارِ، تَذْكِرَةً لأُوْلِي الْقُلُوْبِ وَالأَبْصَارِ ،
وَتَبْصِرَةً لِذَوِىْ الأَلْبَابِ وَالاِعْتِبَارِ ‏‏‏.‏ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ الْبَرُّ الْكَرِيْمُ، الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَحَبِيْبُهُ
وَخَلِيْلُهُ، الْهَادِىْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ، وَالدَّاعِيْ إِلَى دِيْنٍ
قَوِيْمٍ‏.‏ صَلَوَاْتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ،
وَآلِ كُلٍّ، وَسَائِرِ الصَّالِحِيْنَ‏.‏ أما بعد‏: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
[الأحزاب 70 -71]

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ،
الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Patutlah kita bersyukur kepada Allah Swt, yang telah menunjukkan jalan Islam kepada kita, dan menurunkan syari’at-Nya sebagai rahmatan lil alamin. Sebagai agama dan jalan hidup, Islam merupakan pilihan terbaik yang telah dirintis para Nabi dan Rasul-Nya, dan diikuti oleh manusia yang mendapat karunia Ilahy.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Muhammad Rasulullah Saw., manusia pilihan yang menjadi juru bicara Ilahiy untuk menjelaskan kehendak Allah; tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya di dunia secara benar dan berfaedah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah membimbing kita dan memberi petunjuk untuk kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat. Karena itu, kita ridha menjadikan Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang berhak mendapatkan kenikmatan. Karena itu, marilah kita meningkatkan taqwa dan berkata jujur, sebagaimana seruan Allah:

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan bertauhidlah, dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Dan siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar.“ (Qs. Al-Ahzab, 33:70-71)

Pendidikan Keshalihan

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله
أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Pada hari yang penuh barakah ini, tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H bertepatan dengan 26 Oktober 2012 M, berjuta-juta kaum Muslimin dari segala penjuru dunia terhampar di padang ‘Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang ke lima. Lebih dari dua juta hamba Allah mengalir syahdu menggemakan takbir dan tahmid, memuji kebesaran Allah, berziarah menuju tempat-tempat suci dan bersejarah seraya mengenang history abadi halilullah, kekasih Allah, Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail As.

Inilah hari besar keimanan dan kemanusiaan, yang ditandai dengan syiar penyembelihan hewan qurban, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim setelah beliau menerima wahyu llahy melalui mimpi, yang memerintahkan supaya beliau menyembelih puteranya Ismail. Padahal, sebelum Ismail lahir, Nabi Ibrahim As selalu berdo’a  agar mendapat keturunan yang shalih:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (الصافات 100)

Ibrahim berdo’a: “Wahai Tuhanku, karuniakanlah anak yang shalih kepadaku.” (Qs. As-Shaffat, 37:100)

Siapa mengira, setelah Ismail As meningkat dewasa, usia 13 tahun, Allah Swt memerintahkan pada Ibrahim As melalui mimpi supaya menyembelih anaknya, sebagaimana terekam dalam dialog Ilahiyah di bawah ini:

Tatkala anak itu sudah dewasa, Ibrahim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku tersayang, sungguh aku telah bermimpi menyembelih kamu. Karena itu apa pendapatmu tentang mimpiku itu…” (QS 37:102).

Seorang ayah yang sudah berusia 86 tahun, yang sedang mencurahkan kerinduan hatinya, dan harapan pun tertumpah pada kader muda penerus risalahnya, sekaligus putera beliau yang sedang menanjak dewasa. Dalam keadaan demikian, datanglah perintah Allah untuk menyembelih putera kesayangan dan satu-satunya itu. Sungguh ujian keimanan dan kemanusiaan yang amat sukar dan berat dilaksanakan.

Ibrahim As, bapak para Nabi itu sadar, ternyata Allah Yang Maha Rahman sedang menguji keimanannya. Apakah rasa sayang dan kecintaan kepada putera lelakinya, menghalanginya untuk mentaati perintah Allah? Nabi Ibrahim, akhirnya lulus melewati ujian Ilahy. Tekadnya bulat, tidak ada kebimbangan ataupun keraguan, perintah Allah wajib dijalankan apapun resiko serta pengorbanan yang mesti diberikan.

Dan respons Ismail As atas pertanyaan ayahnya sungguh meilitan; teguh dalam keimanan, khusyuk beribadah, dan mulia dalam akhlaq. Sikap yang hanya muncul dari anak yang shalih putera dari bapak yang shalih. Allah berfirman:

Ismail menjawab: “Wahai ayahanda tersayang,lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” ( QS 37:102 )

Keikhlasan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dalam meninggikan kalimat Allah sekalipun dengan mengorbankan harta, jiwa, bahkan putera kesayangannya sendiri. Dan kesetiaan Ismail untuk mentaati ayahandanya dalam rangka melaksanakan Syari’at Allah, walau harus menyerahkan nyawanya sendiri, terpancar melalui pernyataan spektakuler dan luar biasa:

“Ketika Ibrahim dan Ismail telah pasrah kepada Allah dan Ibrahim pun membaringkan puteranya, maka Kami berseru kepadanya, “Wahai ibrahim, kamu telah membenarkan mimpimu. Sungguh Kami akan memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.

Wahai Ibrahim,  kamu telah membenarkan mimpimu. Sungguh Kami akan memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.” Sungguh perintah Allah kepada Ibrahim itu merupakan satu ujian keimanan yang sangat jelas. Kami ganti Ismail dengan seekor domba yang sangat besar. Kami telah jadikan Ibrahim sebagai contoh bagi generasi-generasi sesudahnya. Ucapan salam sejahtera bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih. Sungguh Ibrahim termasuk hamba Kami yang benar-benar beriman.” (Qs. Ash-Shaffat, 37:104-111)

Peristiwa bersejarah ini memberi pelajaran bagi setiap Muslim, bahwa anak yang shalih dan shalihah hanya dapat lahir dari keturunan dan lingkungan keluarga yang shalih juga, sekalipun selalu ada pengecualian. Laksana pepatah, “daun jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.” Nabi Ibrahim As namanya diabadikan dalam al-Quran sebanyak 61 kali. Demikian pula julukan yang diberikan Allah padanya bermacam-macam selaras dengan prestasi yang pernah diukirnya di pentas sejarah. Allah Swt memberi gelar kemuliaan sebagai abul anbiya’ (bapak para nabi) karena dari beliau telah lahir keturunan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagaimana yang ditulis Imam Ali As-shabuni dalam kitab annubuwwah wal anbiya’, beliau juga disebut ulul ‘azmi (orang yang sabar dan teguh pendirian), dan khalilur rahman (kekasih Allah yang maha pengasih).

Di zaman kita sekarang, hanya sedikit orang-orang sukses yang melahirkan orang yang sukses pula. Keshalihan Ismail, bukan diperoleh dari bangku kuliah di universitas, bukan pula celupan dari adat istiadat serta budaya masyarakatnya; melainkan karena ketaatannya pada ajaran agama. Maka peristiwa ini mengajarkan bagaimana menjadi hamba Allah yang taat dan patuh melalui pengamalan Syari’at-Nya. Menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan, sehingga siap berkorban harta bahkan nyawa, itulah totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail As.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ،
الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Kronologi sejarah Idul Qurban ini merupakan peristiwa agung yang memantul dari keteguhan iman, kerendahan hati, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah Rabbul Alamin. Dan balasan Allah Swt atas ketaatan mereka berdua sungguh menjadi dambaan setiap orang beriman. Mereka dianugerahi kekuatan menundukkan hawa nafsunya demi mematuhi perintah Allah. Selain itu, mereka berdua mendapatkan pujian dan keridhaan Allah, mengangkat derajatnya serta memberikan syafaat bagi keturunan yang mewarisi pola hidup tauhid yang beliau dakwahkan.

Sekiranya dalam melaksanakan Syari’at Allah, umat Islam dewasa ini meniru kepatuhan dan kepasrahan seperti yang dicontohkan Ibrahim dan Ismail As, pasti mereka akan dianugerahi kemenangan menghadapi musuh-musuhnya, ditinggikan derajat dan dinampakkan kemuliaan di hadapan lawan-lawannya.

Bandingkan dengan generasi muda di negeri kita sekarang. Kita menyaksikan, rakyat Indonesia bagai berada di tepi jurang pada malam gelap gulita, sehingga sulit membedakan yang ini halal dan yang itu haram. Betapa banyaknya orang yang antipati terhadap ajaran agama, lalu menyeru kepada ideologi sekuler, liberal sehingga menjerumuskan negeri ini ke arang jurang kebinasaan.

Di zaman orde lama, atas nama demokrasi, negeri kita dibawa ke arah komunisme yang melahirkan odeologi nasakom. Di zaman orde baru, Indonesia terjerumus pada belitan kapitalisme yang melestarikan korupsi dan KKN. Dan di zaman reformasi sekarang, Indonesia menghamba pada liberalisme, yang memosisikan agama dan umat beragama sebagai sumber masalah sosial dan moral.

Akibat dari semua ini adalah munculnya generasi yang rusak dan merusak sebagaimana firman Allah Qs. Maryam, 19:59-60:

“Sepeninggal para nabi, datanglah generasi baru yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Karena itu mereka pasti menemui kebinasaan, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih. Mereka akan diberi pahala surga. Mereka tidak sedikit pun diperla­kukan secara zhalim.”

Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M Masri Muadz, hasil survai yang dilakukan di 33 provinsi tahun 2008. Bahwa sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks sebelum nikah,”

Data Departemen Kesehatan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya adalah remaja. Belum lagi masalah tawuran di kalangan remaja, merajalelanya narkoba, sungguh malapetaka yang luar biasa.

Negeri kita sedang menantikan fajar menyingsing, sambil mencari-cari harapan yang akan dapat membimbing ke jalan hidayah, mencari-cari pancaran cahaya yang akan melenyapkan gumpalan awan gelap yang kian menebal. Namun sejarah membuktikan, manusia tidak pernah mampu menciptakan aturan atau tatanan hukum yang bersifat universal dan komprehensif untuk memandu serta mengatur prilaku sosial dan kenegaraan mereka.

Adalah penting bagi mereka yang memiliki keutamaan ilmu dan keshalihan dari kalangan ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, para cendekiawan agar berani mengoreksi berbagai kemungkaran dan kerusakan, baik yang dilakukan rakyat maupun penguasa. Kewajiban semua pihak untuk menyelamatkan generasi muda bangsa ini dari kerusakan moral dan bencana sosial, dengan menghidupkan kesadaran beragama dalam jiwa dan mental mereka. Mencegah kemungkaran demi perbaikan masyarakat dan negara, sehingga terhindar dari kehancuran yang lebih parah, menjadi pertanyaan prinsipil di dalam Al-Qur’an:

”Mengapa para pemuka agama bangsa-bangsa sebelum kalian, tidak mau mencegah kemungkaran di negerinya setelah nabinya
meninggal, kecuali hanya sedikit orang saja? Orang-orang itu Kami selamatkan dari adzab yang menimpa kaumnya yang zhalim. Orang-orang zhalim selalu mengejar kemewahan dan kesenangan dunia. Mereka itu adalah orang-orang yang suka berbuat dosa.” (Qs. Huud, 11:116)

Sebagai Muslim, kita yakin dan percaya bahwa Islam merupakan rahmat terbesar yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Islam memiliki segala kkebaikan yang dihajatkan umat manusia. Wahyu dan syari’at yang diturunkan-Nya menjelaskan kepada manusia menyangkut berbagai persoalan hidup dan mati. Allah Swt mengajarkan, jika manusia menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah, maka ia akan bahagia. Dan mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani kehidupan ini sebagai hamba Allah, menyembah-Nya sesuai dengan yang diperintahkan-Nya serta melaksanakan tugas memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan bagi semua.

Seperti dikatakan HOS Cokroaminoto dalam orasi politiknya menyambut Kongres Nasional pertama SI di Bandung, 17-24 Juni 1916. Pimpinan SI itu menujukan ucapannya pada kaum sekuler dan penjajah kolonial dengan mengatakan: “Tuan-tuan akan mengatur Negara ini dengan kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan dengan demokrasi, itu urusan tuan-tuan. Kami umat Islam akan mengatur Negara ini dengan Rahmanisme”.

Dalam konsep kenegaraan, Rahmanisme merupakan paham yang hendak menumbuhkan kesejahteraan rakyat berbasis syari’at Islam. Seperti dikatakan oleh Profesor A. Kahar Muzakkir, inilah konsep “Baldatun Thoyyibah, wa Rabbun Ghafur.” Yaitu negara yang aman sentosa dan diampuni Allah Swt.

Manakala kehidupan beragama melemah, mereka akan menjadi sasaran pertumpahan darah, sasaran rasialisme, kehormatan dan kekayaan mereka akan menjadi barang jarahan musuhnya. Seperti ungkapan seorang shalih, “Ketika agama dimuliakan di atas harta dunia, maka Allah Swt akan membuat dunia hina baginya. Dan ketika kita menyembah harta dunia, maka agama akan hilang dari lubuk hati dan para pencari dunia pasti akan mengalahkan kita.”

Oleh karena itu, para orang tua hendaknya mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah ini, mencontoh keikhlasan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail. Orang tua yang tidak shalih dan dangkal pengetahuan agamanya, hendaknya bertekad memperbaiki keturunannya dan meningkatkan kualitas generasinya dengan mendidik serta membimbing anak-anak dan generasi muda kita agar memiliki kualifikasi basthatam fil ilmi wal jismi, luas ilmunya dan kuat fisiknya serta mulia akhlaknya.

MUNAJAT

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله
أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Kini, saat kita bersimpuh di haribaan Ilahy, marilah kita muhasabah, meluruskan aqidah dan memperbaiki akhlak, sekaligus koreksi total atas dosa serta kesalahan pemahaman dan pengamalan Islam kita. Di hari yang penuh barakah ini, wahai kaum Muslimin, marilah kita buktikan bahwa Umat Nabi Muhammad Saw. belum mati di negeri ini, dengan menegakkan Qur’an dan Sunnah beliau dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara, sembari kita bermunajat kepada Allah Azza wajalla:

اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى
هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ
شرٍّ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ
اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ
بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى
دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.