free hit counters
 

Potret Orang yang Meninggalkan Ayat-ayat Allah Demi Memperturutkan Hawa Nafsu (2)

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ini adalah informasi tentang seorang saleh di Palestina sebelum dimasuki oleh Bani Israil. Diriwayatkan secara rinci dan panjang tentang penyimpangan dan penyelewengannya, yang tidak tertutup kemungkinan cerita-cerita ini adalah cerita Israiliyat yang dikutip dalam kitab-kitab tafsir.

Ini sebagai salah satunya, yang rincian-rinciannya tidak memuaskan dan menenteramkan hati. Kemudian, di dalam riwayat-riwayat ini terdapat kontradiksi dan kegoncangan yang mendorong kita untuk semakin berhati-hati.

Terdapat pula riwayat yang mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki dari Bani Israil yang bernama Bal’am bin Ba’ura’. Riwayat lain mengatakan bahwa orang itu adalah seorang lelaki dari Palestina yang diktator. Riwayat lain lagi mengatakan bahwa dia adalah orang Arab yang bernama Umayyah bin Shalt.

Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa dia adalah seorang yang sezaman dengan masa diutusnya Rasulullah, yang bernama Abu Amir al-Fasik. Dan, ada pula riwayat yang mengatakan bahwa orang tersebut semasa dengan Nabi Musa a.s.

Ada lagi riwayat yang mengatakan bahwa dia hidup sepeninggal Musa, yaitu sezaman dengan Yusya’ bin Nun yang memerangi para diktator Bani Israil sesudah mereka kebingungan dan terkatung-katung di padang pasir selama empat puluh tahun. Yakni, sesudah Bani Israil tidak mau memenuhi perintah Allah untuk memasukinya dan berkata kepada Nabi Musa a.s., “Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu perangilah mereka, sedang kami menunggu di sini.”

Diriwayatkan juga di dalam menafsirkan ayat-ayat yang diberikan kepadanya bahwa ayat-ayat itu adalah nama Allah yang teragung. Orang itu berdoa dengan menyebutnya, lalu dikabulkan doanya. Sebagaimana juga ada riwayat yang mengatakan bahwa ayat-ayat itu adalah kitab suci yang diturunkan, sedang dia adalah seorang Nabi. Setelah itu, terdapat keterangan yang berbeda-beda mengenai rincian cerita tersebut.

Oleh karena itu, sesuai dengan manhaj yang kami tempuh dalam tafsir Fi Zhilalil Quran ini, kami tidak ikut campur dalam urusan ini sedikit pun, karena cerita-cerita rinci seperti itu sama sekali tidak terdapat di dalam Alquran dan hadits yang marfu dari Rasulullah.

Kami hanya mengambil pelajaran yang terdapat di belakang informasi ini saja. Yaitu, menggambarkan keadaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah sesudah tampak jelas bagi mereka, dan mereka mengetahuinya. Tetapi, kemudian tidak istiqamah padanya.

Alangkah banyak terjadi peristiwa seperti ini di dalam kehidupan manusia. Alangkah banyak orang yang diberi pengetahuan mengenai agama Allah, tetapi mereka tidak menggunakannya sebagai petunjuk. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai jalan untuk mengubah kalimat-kalimat Allah dari tempat-tempat dan posisinya, demi mengikuti hawa nafsu.

Yakni, hawa nafsu mereka sendiri dan hawa nafsu para penguasa yang berkuasa atas diri mereka, menurut anggapan mereka, dalam menghadapi kehidupan dunia.

Betapa banyak orang yang mengerti hakikat agama Allah, tetapi kemudian dia menyeleweng darinya, dan menyatakan yang sebaliknya. Mereka mempergunakan ilmunya ini untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan yang dimaksud, dan memberikan fatwa-fatwa murahan kepada penguasa negara yang sebenarnya akan lenyap!

Mereka berusaha memantapkan kekuasaan yang menentang kekuasaan dan kehormatan agama Allah di muka bumi seluruhnya!

Kita melihat bahwa di antara mereka ada orang yang mengerti dan mengatakan bahwa membuat syariat dan hukum itu adalah hak Allah. Tetapi, kemudian dia mengaku dirinya punya hak uluhiyyah, padahal orang yang mengklaim dirinya punya hak uluhiyyah adalah kafir. Barangsiapa yang mengakui hak uluhiyyah ini bagi manusia, maka sesungguhnya dia juga telah kafir!

Di samping pengetahuannya terhadap hakikat ini, yang ia ketahui sebagai sesuatu yang pasti dalam agama, maka dia juga biasa memohon kepada thagut-thagut yang mengklaim punya hak membuat syariat dan hukum yang nota bene mengklaim dirinya punya hak uluhiyyah yang pada hakikatnya suda kafir tetapi masih disebut ‘muslim’.

Apa yang mereka lakukan itu sebagai ‘islam’ yang tidak ada lagi Islam sesudah itu. Kita melihat di antara mereka ada yang menulis tentang haramnya riba secara umum dan menyeluruh. Tetapi, kemudian dia menulis bahwa riba itu halal secara khusus.

Kita melihat di antara mereka ada orang yang memberkahi kedurhakaan dan kemungkaran termasuk prostitusi di kalangan masyarakat. Lalu, dia campakkan selendang agama, tanda-tanda pengenal, dan identitas-identitasnya di atas lumpur ini.

Nah, bukankah ini sebagai pembuktian terhadap informasi tentang orang yang telah diberikan kepadanya ayat-ayat Allah, lantas dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu dan mengikuti setan, sehingga ia menjadi orang yang zalim? Bukankah ini sebagai bukti perubahan keadaan seperti yang diceritakan Allah mengenai pelaku cerita itu.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A’raaf: 176)

Kalau Allah menghendaki, niscaya Dia mengangkat derajatnya dengan pengetahuannya tentang ayat-ayat-Nya itu. Tetapi, Allah Yang Mahasuci tidak menghendaki. Karena, orang yang mengetahui ayat-ayat Allah itu cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, tidak mengikuti ayat-ayat-Nya.

Ini adalah perumpamaan bagi setiap orang yang Allah telah memberikan ilmu-Nya kepadanya, tetapi dia tidak memanfaatkan ilmu ini. Ia tidak mau istiqamah di jalan iman, dan melepaskan diri dari nikmat Allah. Kemudian menjadi pengikut setan yang hina dina. Akhirnya, berubah wajahnya (hati dan penampilannya) seperti binatang.

Kemudian, bagaimana penguluran lidah dan keterengah-engahan yang tiada henti itu? Menurut perasaan kami, sebagaimana kesan informasi dan lukisan pemandangan dalam Alquran itu, bahwa penguluran lidah di balik kekayaan kehidupan duniawi yang untuk mendapatkannya itu orang-orang yang diberikan ayat-ayat Allah, melepaskan diri dari ayat-ayat itu.

Penguluran lidah dan keterengah-engahan yang berupa keguncangan hati yang tidak pernah tenang selamnya, yang tidak pernah lepas dari pelakunya, baik anda nasihati maupun tidak. Karena, dia terus bergelimang dalam keadaan yang demikian!

Kehidupan manusia senantiasa menampakkan perumpamaan seperti ini kepada kita di semua tempat, masa, dan lingkungan. Sehingga, hampir tidak ada waktu berlalu melainkan mata kita melihat adanya manusia seperti dalam perumpamaan itu di dunia ini, kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah.

Yaitu, orang-orang yang tidak melepaskan diri dari ayat-ayat Allah dan tidak melekatkan dirinya (cenderung) kepada kehidupan dunia, tidak mengikuti hawa nafsu, dan tidak mau dihinakan oleh setan. Juga tidak mengulur-ulurkan lidahnya untuk mendapatkan kekayaan di belakang penguasa.

Nah, ini adalah perumpamaan yang senantiasa ada dan terwujud dalam realitas. Hal ini tidak terbatas pada kisah yang terjadi pada suatu generasi tertentu saja!

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya agar membacakannya kepada kaumnya yang kepada merekalah diturunkan ayat-ayat Allah, supaya mereka tidak melepaskan diri dari ayat-ayat yang telah diberikan kepada mereka itu. Kemudian senantiasa dibaca oleh dan dibacakan kepada orang-orang sesudahnya dan sesudahnya lagi.



Sehingga, orang-orang yang mendapatkan pengetahuan dari Allah berhati-hati agar tidak menjadi seperti itu, dan tidak mengulurkan lidah dan terengah-engah yang tiada henti. Juga supaya tidak menganiaya dirinya sendiri dengan penganiayaan yang tidak pernah dilakukan oleh seorang musuh terhadap musuhnya. Karena, sebenarnya mereka tidak menganiaya melainkan menganiaya dirinya sendiri dengan sikapnya itu.

Kita melihat di antara mereka itu, mudah-mudahan Allah melindungi kita, pada zaman sekarang ini orang yang tampaknya begitu berambisi menganiaya dirinya sendiri. Atau, sepertinya berpegang teguh pada kedudukan yang dengannya dia akan masuk ke jurang neraka, yang merasa khawatir posisinya direbut oleh orang lain.

Maka, setiap hari dia berusaha mengokohkan kedudukannya ini di neraka! Dia senantiasa mengulurkan lidahnya untuk mendapatkan keinginannya ini hingga meninggal dunia.

Ya Allah, lindungilah kami, teguhkanlah kaki kami, curahkanlah kesabaran atas kami, dan matikanlah kami sebagai orang-orang muslim. Orang-orang yang menyerahkan diri dengan taat dan patuh kepada-Mu. (bersambung)

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an Terbaru