eramuslim

Pertemuan Qatar: Al-Bashir dan Perang Dingin Negara-Negara Arab

Presiden Sudan Omar al-Bashir menunjukkan bahwa ia tidak takut dengan ancaman surat perintah penangkapan yang dikeluarkan International Criminal Court (ICC) atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Darfur. Al-Bashir tetap bepergian ke luar negeri tanpa takut ditangkap dan hari ini, ia tiba di Qatar untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi Liga Arab yang akan berlangsung selama dua hari.

Kedatangan Al-Bashir bahkan disambut dengan hamparan karpet merah di bandara internasional Doha oleh Emir Qatar Syaikh Hamad bin Khalifa Al-Thani. Setelah itu, Al-Bashir dan Al-Thani menikmati jamuan kopi bersama Sekjen Liga Arab Amr Moussa.

Analis politik Marwan Bishara pada Al-Jazeera mengatakan, Al-Bashir sudah menunjukkan sikap yang yang sangat penting. "Ia berani membangkang perintah penangkapan. Tapi Al-Bashir tidak mungkin bisa tiba di Qatar jika ada mendapatkan jaminan dari pemerintah Qatar bahwa ia tidak akan ditangkap begitu tiba di negara itu," kata Bishara.

Bishara juga mengatakan, negara-negara Arab nampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka tidak mau lagi ada campur tangan Barat dalam urusan negara Arab dan menolak surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh ICC.

Penasehat Al-Bashir, Mustafa Osman Ismail mengatakan, Liga Arab paham betul bahwa ICC bukan ingin menegakkan keadilan tapi ingin menjadikan Sudan sebagai target dari ambisi negara-negara Barat.

"ICC tidak berbuat apapun untuk kasus Palestina, Libanon, tapi mengapa mereka bereaksi atas masalah Sudan? Kami berharap Liga Arab menolak surat penangkapan itu dan tidak memberlakukannya di negara mereka. Al-Bashir bukan orang berbahaya, ia sedang mengupayakan perdamaian di Darfur," papar Ismail.

Perang Dingin Negara-Negara Arab

Pertemuan Liga Arab di Qatar secara khusus akan membahas bagaimana sikap dunia Arab merespon tekanan-tekanan Barat terutama dalam kasus Al-Bashir. Namun pengamat politik Marwan Bishara pesimis, Liga Arab mampu menghadapi tekanan ICC mengingat sikap pimpinan negara-negara Arab yang populis dan masih cenderung mencari dukungan untuk keuntungan negaranya masing-masing.

Selain masalah Sudan, Liga Arab juga menghadapi tantangan dalam masalah Iran. Sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir adalah dua negara yang masih mencurigai Iran sebagai penyokong gerakan Hizbullah di Libanon dan Hamas di Palestina.

Mengomentari prospek pertemuan tingkat tinggi Liga Arab di Qatar, Tokoh oposisi di Saudi, Ali al-Ahmed berpendapat bahwa pertemuan itu masih akan menjadi "arena pertempuran" antara sejumlah aliansi Arab, yaitu alianasi Qatar, Suriah dan Iran di satu sisi, dan aliansi Arab, Mesir dan Yordania di sisi lain.

Aroma "perang dingin" antara dua aliansi itu sudah terlihat dari delegasi-delegasi yang dikirim masing-masing negara. Mesir misalnya, hanya mengirimkan pejabat rendahnya untuk mewakili Presiden Husni Mubarak dalam pertemuan tersebut. Raja Maroko, hanya mengirim saudara lelakinya, Moulay Rachid yang tidak memegang jabatan penting di Maroko. Sementara Raja Saudi, Yordania dan Bahrain belum jelas apakah akan hadir dalam pertemuan Qatar.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan para pemimpin Fatah, ikut-ikutan mengancam untuk memboikot pertemuan Qatar seperti yang dilakukan Mesir, jika kelompok Hamas diundang dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan awal hari Minggu kemarin, para menteri luar negeri Liga Arab sudah menyetujui draft pernyataan mereka untuk berbagai isu yang akan menjadi konsensus negara-negara Arab.

Melihat "perang dingin" antara anggota Liga Arab, Perdana Menteri Qatar Syaikh Hamad bin Jassim bin Jabr Al-Thani mengungkapkan harapannya agar negara-negara Arab bisa mencari jalan keluar terhadap perbedaan-perbedaan pandangan yang terjadi belakangan ini. (ln/aljz/aby)