Presiden Iran: Obama Harus Minta Maaf
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyambut positif sinyal "perubahan" terhadap Iran yang diisyaratkan pemerintahan baru AS dibawah pimpinan Presiden Barack Obama. Namun Ahmadinejad meminta pemerintahan Obama minta maaf atas perlakuan pemerintahan AS sebelumnya terhadap negara Iran.
"Kami menunggu dengan sabar. Kami mendengarkan pernyataan-pernyataan (pemerintahan Obama) dengan cermat dan kami akan mempelajari dengan hati-hati tindakan mereka. Jika memang benar ada perubahan yang nyata, kami akan menyambutnya," kata Ahmadinejad dalam pidatonya di kota Kermanshah.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi al-Arabiya, wawancara pertamanya setelah diambil sumpah sebagai Presiden AS, Obama mengisyaratkan perubahan pendekatan dalam menyelesaikan pertikaian antara AS dan Iran terkait program nuklir Negeri Para Mullah itu. Obama menyatakan bahwa AS dan Iran harus berdialog untuk saling memahami "perbedaan" pandangan antara kedua negara yang memutuskan hubungan diplomatiknya sejak tahun 1980-an.
Sejak terpilih sebagai presiden Iran, Ahmadinejad sudah menawarkan dialog dengan Washington, namun pemerintahan Bush menolak berdialog langsung dengan Iran karena Iran dianggap membangkang karena tidak mau menghentikan program nuklirnya.
Ahmadinejad mengingatkan Obama untuk menunjukkan niat baiknya dengan melakukan "perubahan yang riil" dan jangan hanya menggunakan alasan itu sebagai perubahan taktik semata. Ahmadinejad juga meminta pemerintahan Obama untuk minta maaf atas perlakukan pemerintahan AS terdahulu terhadap negara Iran.
"Perubahan artinya mereka (pemerintahan Obama) selayaknya minta maaf pada bangsa Iran dan mereka harus berusaha memperbaiki latar belakang yang gelap dan kejahatan yang telah AS lakukan terhadap kita," tukas Ahmadinejad merujuk pada keterlibatan AS dalam kudeta di Iran pada tahun 1953 yang mengantarkan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang pro-Barat sebagai pemimpin Iran.
Hubungan Iran-AS makin memburuk ketika terjadi insiden pengambilalihan kedubes AS di Tehran oleh para mahasiswa Iran. Tahun 1981, kedua negara menandatangani perjanjian AlJazair yang isinya memerintahkan Gedung Putih untuk tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran. Tapi, dibawah pemerintahan Bush, departemen luar negeri AS disebut-sebut membuka kantor khusus urusan Iran atau Office of Iranian Affairs (OIA).
Perlakuan buruk AS terhadap Iran yang lain terjadi tahun 1988, ketika angkatan laut AS menembakkan misil dari kapal induk USS Vincennes ke pesawat komersial jenis Airbus A300 milik maskapai penerbangan Iran yang sedang melewati Teluk Persia. Tembakan itu menyebabkan pesawat tersebut jatuh dan menewaskan 290 penumpangnya. (ln/prtv)