Pusat Konflik Palestina-Israel Pindah ke Washington

Menjelang pembicaraan langsung antara Israel dan Palestina hari Kamis, Presiden Barack Obama mengatakan Rabu malam bahwa 'dengan sikapnya yang hati-hati itu, ia 'berharap', perundingan langsung itu bisa mencapai solusi, yaitu terbentuknya dua negara, yang akan mengakhiri konflik Timur Tengah yang sudah berjalan lama.
"Meskipun kita masing-masing mempunyai gelar kehormatan seperti, presiden, perdana menteri, raja, kita terikat dengan masalah pokok yang kita harus selesaikan," ujar Obama. Obama mengatakan hal itu, dihadapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas dan para pemimpin Mesir dan Yordania.
"Kami adalah ayah, yang dikaruniai putra dan putri," kata Obama. "Jadi kita harus bertanya pada diri kita, seperti apa dunia yang ingin kita mewariskan kepada anak cucu kita."
Presiden Obama berbicara di awal acara jamuan makan malam di Gedung Putih bersama dengan Netanyahu, Mahmud Abbas, Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Acara malam itu, juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Tony Blair yang menjadi Perwakilan Kuartet , dan Ketua Perundingan Timur Tengah. Kuartet tak lain, adalah Amerika Serikat, Rusia, PBB dan Uni Eropa.
"Kami tidak mencari selingan antara dua perang, kita tidak mencari jeda waktu antara ledakan teror," kata Netanyahu. "Kami mencari suatu perdamaian yang akan mengakhiri konflik antara kita sekali dan untuk semua, untuk generasi kita, anak-anak kami dan generasi berikutnya."
Sementara itu, Netanyahu dan Abbas mengutuk serangan terhadap Israel dalam beberapa hari terakhir. "Kami tidak ingin darah ditumpahkan, satu tetes darah dari orang-orang Israel atau Palestina," kata Abbas. "Kami menginginkan perdamaian antara kedua negara, mari kita menandatangani perjanjian formal untuk perdamaian dan mengakhiri periode panjang yang telah membuat menderita selamanya."
Dalam sambutan mengawali di Gedung Putih itu, Obama, mengatakan bahwa "Saat ini kesempatan mungkin tidak pernah akan datang lagi," ujar Obama.
Dengan berakhirnya perang Amerika di Irak, maka sekarang pusat konflik pindah di Washington, di mana pemerintah Obama mengadakan serangkaian pertemuan dengan taruhan yang tinggi antara para pemimpin Israel dan Arab. Obama berada di balik pintu tertutup di Gedung Putih dengan para pemimpin Israel dan Arab.
"Kami tidak berada dalam sebuah ilusi," katanya. "Keinginan dan hasrat yang mendalam menjadi alasan bahwa solusi dua negara yang telah gagal oleh generasi sebelumnya, dan ini merupakan masalah luar biasa kompleks dan sangat sulit." Tapi, lanjut Obama, "Kita tahu bahwa status quo tidak akan terus berlanjut," tambah Obama.
Selama pertemuannya dengan Abbas dan Raja Abdullah, menurut Gedung Putih, Obama bergabung dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Kepala Staf Rahm Emanuel, Penasihat Keamanan Nasional Jenderal James Jones, dan mantan Senator George Mitchell. Mitchell adalah utusan khusus Obama untuk perdamaian Timur Tengah.
Ini adalah pertaruhan yang paling spektakuler yang dilakukan oleh pemerintah Obama dalam upayanya untuk mewujudkan perdamaian Timur Tengah. Ini sangat mustahil akan dapat terwujud, selama Amerika tidak dapat bertindak adil, dan tetap dalam posisi mendukung pemerintah Israel, dan tetap memiliki pandangan yang sangat streriotipe bahwa Hamas itu adalah teroris.
Padahal, Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan yang sangat dahsyat terhadap rakyat Palestina, yang sudah berjalan puluhan tahun, dengan melakukan pembunuhan, pengusiran, penculikan, penahanan, dan penghancuran rumah dan harta ladang milik rakyat Palestina. (m/cnn)