RAHASIA DAHSYAT DIBALIK BISMILLAH: INSPIRASI DARI RISALAH SPIRITUAL

RAHASIA DAHSYAT DIBALIK BISMILLAH: INSPIRASI DARI RISALAH SPIRITUAL
“Berilah dengan nama Allah; Ambillah dengan nama Allah; Mulailah dengan nama Allah; dan bekerjalah dengan nama Allah.” -Badiuzzaman Said Nursi
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Hampir sebagian besar dari kita sudah akrab dengan kalimat ini sedari kanak-kanak. Orang tua selalu mengajarkan sebelum melakukan perbuatan baik hendaklah dimulai dengan mengucap kalimat bismillah. Namun pernahkah terpikir oleh kita, seberapa penting kalimat agung ini dalam setiap permulaan perbuatan? Apakah hanya sekedar ucapan belaka, atau ada filosofi lain dari kalimat ini? Kalimat mulia yang dapat mengguncang ‘arsy nun jauh di atas sana. Kita menyebutnya di atas tanah, akan tetapi penduduk langit yang sibuk berebut untuk menuliskan pahala. Menjadi bukti sakral betapa agung dan istimewanya kalimat ini.
Menurut Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama Turki yang terkenal akan kezuhudan dan ilmunya yang luas, kalimat bismillah bukan hanya ucapan biasa. Kalimat bismillah merupakan syi’ar Islam. Kalimat ini menjadi penguat tak kasat mata bagi umat muslim dalam segala aktifitasnya. Menjadi penanda awal mula perbuatan baik, dengan harapan selalu diberkahi oleh Allah hingga selesainya urusan tersebut.
Dalam karyanya yang diambil sarinya menjadi sebuah buku yaitu Risalah Spiritual, dikisahkan bahwa terdapat dua pengembara badui yang akan melakukan perjalanan melintasi gurun pasir. Orang Badui pertama yang rendah hati menyandarkan dirinya pada penguasa negeri tersebut. Sedangkan pengembara kedua yang memiliki sifat sombong, enggan untuk menggantungkan dirinya pada sang penguasa. Pengembara pertama dapat melewati rintangan selama perjalanan dengan aman dan tentram, karena ia menyandarkan dirinya pada penguasa sehingga tidak ada satu pun yang berani mengganggunya. Akan tetapi, pengembara kedua menghadapi masalah yang bertubi-tubi diakibatkan sifat sombong yang ada dalam dirinya, seolah-olah ia dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga ia harus menghinakan dirinya pada orang lain, agar mendapatkan perlindungan.
Badiuzzaman Said Nursi mengisyaratkan kita untuk memposisikan diri seperti pengembara Badui di atas. Dunia yang fana ini diibaratkan sebagai padang pasir yang akan dilalui pengembara. Pengembara pertama menyadari akan lemah dan tidak berdayanya dirinya tanpa nama penguasa negeri tersebut. Sejatinya, kita sebagai manusia yang lemah harus menyandang nama Tuhan pemilik alam semesta, Allah subhana huwa ta’ala. Sehingga dengan keyakinan akan kekuatan Allah, sudah pasti kita tidak akan menghinakan diri kepada selain-Nya.
Sejatinya, kalimat bismillah bukan hanya sekedar kalimat biasa yang tidak berarti. Kalimat ini menjadi bukti pengakuan akan lemahnya diri manusia terhadap Sang Pencipta. Dengan menyebut bismillah setiap akan memulai aktivitas, in syaa Allah akan menjadi berkah yang akan menyelubungi dari awal hingga akhir. Seperti pengembara yang menyandarkan diri pada penguasa negeri, selalu disertai rasa aman dalam perjalanannya. Bismillah, karena tanpa-Nya kita tak akan berarti apa-apa.
Penulis: Azha Nasywa Zakia (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, UIN Imam Bonjol Padang. Peserta sIBac-sip 2025)