Roy Suryo Bongkar Fakta Baru soal "Desa KKN": Sindir Kebohongan Lama dan Soroti Sosok Misterius di Rumah Jokowi

Eramuslim.com - Pakar telematika Roy Suryo kembali menggemparkan publik dengan serangkaian fakta baru terkait tayangan investigasi "Desa KKN" yang sempat viral dan memicu kontroversi luas. Tayangan awal yang ditayangkan dua pekan lalu oleh sebuah stasiun televisi nasional banyak dikritik karena menyajikan klaim-klaim janggal dan dianggap dramatis layaknya sinetron.
Namun, dalam tayangan koreksi bertajuk “Eksklusif! Fakta Dibalik Penelusuran Desa KKN di Desa Ketoyan, Sini Gue Kasih Tau”, Roy menilai ada perbaikan meski datang terlambat. “Setidaknya mereka akhirnya mau merevisi,” ujarnya kepada Fajar.co.id, Senin (7/7/2025).
Salah satu tokoh dalam tayangan awal, Sukarno, mengaku tahu detail peristiwa Desa KKN tahun 1985, bahkan menggambarkan secara spesifik insiden jatuhnya lampu petromax. Namun menurut Roy, kesaksian Sukarno ini tidak sinkron dengan pengakuan warga lain. Apalagi, Sukarno kemudian terekam kamera sedang berada di rumah Jokowi di Solo, yang memperkuat dugaan bahwa klaimnya patut dipertanyakan.
"Sosok Sukarno terciduk sedang sowan ke Jokowi. Ini sungguh terlalu," sindir Roy pedas.
Dalam tayangan koreksi terbaru, muncul pengakuan penting dari Sekretaris Desa Ketoyan bahwa tidak ditemukan catatan kegiatan KKN pada tahun 1985 dari kampus manapun, berbeda dengan tahun-tahun lain yang masih tercatat. Hal ini menimbulkan spekulasi baru soal validitas kisah yang beredar selama ini.
Roy juga menyoroti momen saat tim investigasi mendatangi rumah tokoh yang bersangkutan di Solo. Meski disebutkan tokohnya tidak di tempat, kamera justru menangkap keberadaan keluarganya, menimbulkan tanda tanya akan transparansi mereka.
Yang paling disorot Roy adalah fakta bahwa Pak Kasmudjo ternyata bukan dosen pembimbing skripsi dari tokoh yang dimaksud. Ini membantah kesaksian yang selama bertahun-tahun dijadikan pembenaran.
"Fakta ini membuktikan kebohongan yang selama 8 tahun dipertontonkan di kampus UGM," tegas Roy, merujuk pada rekaman wawancara Pak Kasmudjo tahun 2017 yang kini terbukti konsisten membantah narasi palsu.
Lebih mengejutkan lagi, Roy mengungkap bahwa tim media kesulitan mengakses skripsi tokoh tersebut di kampus, yang menurutnya menandakan adanya abuse of power dan upaya sistematis untuk menutupi kebenaran.
"Media saja tidak bisa mengakses skripsi itu. Ini jelas ada yang ditutupi," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Roy menyerukan kepada publik untuk tidak diam dan terus mendesak penegakan kebenaran.
"Biarlah masyarakat yang mendesak. Gusti Allah SWT yang akan bertindak jika sudah waktunya. Maka tetaplah lantang: adili Jokowi, makzulkan Fufufafa," pungkas Roy penuh semangat.
Sumber: Fajar.co.id