Salah Perhitungan
Ketika kami membangun rumah dulu, jumlah penduduk belum membludak seperti sekarang. Saat ini, pemukiman jadi begitu padat. rumah saling berhimpitan. Membuka jendela saja terasa susah sekali. Tumbuhan terkesan sulit untuk mendapatkan sinar matahari. Pancaran sinar matahari yang masuk ke rumah juga tidak lagi luang. Apalagi yang namanya udara segar. Pokoknya, zaman sekarang, kata orang, segala sesuatu jadi sulit. Orangtua tua kita memang tidak atau belum berpikir sejauh itu, bahwa pemukiman dan lingkungan akan padat dalam sekian periode lagi. Waktu itu, air yang kami dapat lewat PDAM lancar-lancar saja...tidak pernah macet......
Waktu pun berjalan...sementara orang menganggap perjalanannya pelan..tapi tidak sedikit yang merasakan betapa cepatnya.....pembangunan rumah, jalan, pertokoan dan perkantoran jadi begitu pesat...utamanya kalau kita sudah meninggalkan tempat asal dalam jangka cukup lama. Air yang dulu lancar...sumur yang dulu dangkal...sawah yang dulu hijau...pepohonan yang dulu rindang di sepanjang jalan.....kini semua berubah...
Pemukiman yang padat membuat aliran air di rumah kami jadi tersendat. Air yang disediakan PDAM kini tidak lagi lancar seperti dulu. Jam-jam tertentu air akan mati. Ibu-ibu kebingungan. Alat-alat dapur banyak yang tergeletak belum sempat tercuci. Halaman yang dipenuhi dengan rumput dan bunga-bunga tidak lagi mendapatkan giliran air rutin seperti dulu. Kami pun terpaksa beli tank tempat penampungan air. Tank ini lah salah satu sarana cadangan agar kita tidak report jika aliran dari PDAM mati.
Sesudah itu, kami berkesimpulan, bahwa kami memang salah perhitungan. Kami tidak pernah berpikir akan menjadi seperti ini. Kami akhirnya sadar bahwa memikirkan jauh hari dalam sebuah perencanaan kerja itu penting.
*****
Kemarin sore, di facebook, saya ketemu dengan salah seorang teman lama. Kami pernah bekerja di Kuwait, bargaul sekitar hanya satu tahun, karena saya pindah kerja ke negara lain. Sedangkan dia di Kuwait hingga akhir tahun 1999. Perkiraan saya dia paling tidak 7 tahunan di negeri kecil yang juga kaya minyak tersebut. Setelah itu, lebih dari 10 tahun, tidak pernah kontak.
Berita terakhir yang saya terima dari seorang rekan adalah, dia pulang ke tanah air dan mendirikan usaha sendiri. Dari seorang rekan yang sama, saya mendapatkan berita bahwa rekan dari Kuwait tersebut kurang beruntung. Bisnis yang dia bangun ternyata tidak seperti yang dia perkirakan sebelumnya. Krisis moneter waktu itu juga berkelanjutan. Malangnya, dia tidak memiliki pilar lain penunjang kehidupan selain bisnis tersebut. Sementara, kebutuhan sandang, pangan dan papan jalan terus. Keluarga, anak, istri juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan hidup. Perjalanan kehidupannya jadi tertatih-tatih.
Cerita lengkap dari dia saya dapatkan ketika ‘ngobrol’ beberapa lama di facebook. Facebook memberikan manfaat di waktu-waktu seperti ini. Rekan saya yang satu ini ceritakan dari awal hingga akhir. Tidak ada tanda-tanda penyesalan karena hidup memang harus dilalui. Dan hanya orang-orang yang tabah yang mampu melintasi masa-masa sulit seperti ini.
Untuk gabung lagi dengan profesi kami, memang tidak gampang. Sembilan tahun sudah dia tinggalakan profesinya. Jika itu adalah sebuah rumah, tidak ditempati selama itu, bisa dibayangkan betapa tidak terpeliharanya tempat tinggal manusia ini. Saya rasa demikian pula yang namanya profesi. Ketika saya tanya: “Apakah anda masih ingat dengan pekerjaan?” Dia jawab: “Insyaallah masih…sambil jalan!” Katanya dalam bahasa tulis di facebook.
*****
Hidup ini tidak seperti perhitungan matematika. Dua ditambah dua sama dengan empat. Atau dua dikali dua sama dengan enam dikurangi dua. Hidup kita ini banyak sekali hal yang yang tidak dapat kita perkirakan. Betapapun nampaknya kita sudah siap. Kejadian dalam hidup kita ini tidak jarang malah berjalan melenceng dari perkiraan kita sebelumnya. Kita tiba-tiba saja salah perhitungan karena berbagai faktor yang tidak teridentifikasi dalam agenda.
Barangkali atas dasar itulah sehingga banyak orang yang selalu menyediakan cadangan. Segala sesuatu ada cadangannya. Cadangan bukan hanya dominasi bensin dan atau tenaga listrik. Dalam bisnis pun, pengusaha-pengusaha besar selalu memiliki cadangan. In case one business does not work, the other one will support.
Demikian pula dalam persoalan sekolah juga kerja. Tidak sedikit orang yang nyambi. Pagi kerja, sore sekolah. Atau, pagi kerja, sore juga kerja lagi. Mereka memiliki pekerjaan ganda. Pagi dan petang. Semuanya bertujuan agar jika rencana yang pertama gagal, ada rencana kedua yang jadi penunjang.
Tapi apalah artinya sebuah cadangan jika menyangkut urusan dunia. Kalaupun kita nggak punya cadangan rumah, kita masih bisa kontrak. Kalau tidak punya cadangan makanan, ada aja di supermarket dan pasar. Pula yang namanya kehilangan pekerjaan, kita bisa mencari dan berusaha untuk mendapatkannya walaupun terbatas sebagai tenaga kerja tidak tetap atau honorer.
Di dunia ini kita masih memilki kesempatan banyak, meski tidak ada cadangan dalam berbagai hal karena salah perhitungan.
Namun bukan di akhirat. Salah perhitungan kita di sana tidak ada pilihan lain. Kalau tidak masuk surga, saya tidak perlu menguraikan di sini akan ditempatkan di mana kita oleh Sang Pemilik Kehidupan ini. Jangankan yang namanya tempat tinggal sementara atau kos-kosan, tempat bernaung meski hanya sedetik saja bakalan tidak tersedia!
Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang salah dalam perhitungan di hari akhir nanti! Wallahu a’lam!
Doha, 26 October 2009
[email protected]