Sejarah Masjid Al Markaz Dibangun Jenderal M Jusuf, Arsitekturnya Terinspirasi dari Masjid Madinah dan Katangka Gowa

Eramuslim.com —Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Indonesia Timur. Masjid ini menjadi salah satu peninggalan dari Jenderal M Jusuf.
Sejarah pembangunan mesjid Al Markaz ini cukup detail dijelaskan dalam buku Jenderal M Jusuf, Panglima para Prajurit yang ditulis oleh Atmaji Sumarkidjo.
Dalam pengantarnya, Wakil Ketua MPR RI, A. M. Fatwa mengatakan, desain masjid tersebut terinspirasi dari masjid Nabawi yang ada di Madinah dan Masjid Haram di Makkah. Hal itu menjadi pesan Jusuf ketika menunaikan ibadah haji.
“Kemudian sambil menunjuk ke Menara Masjid Nabawi yang indah itu, Jenderal Jusuf mengatakan bahwa menara itu akan kita contoh nanti untuk pembangunan mesjid di Makassar dengan arsiteknya Prof. Noe’man. Mesjid itu kemudian dinamakan Mesjid Raya Al-Markaz Al-Islami, yang penamaannya atas saran Prof. Dr. Nurcholish Madjid,” tutur Fatwa.
Disebutkan, arsitektur yang juga dikagumi Jusuf adalah sebuah masjid ukuran sedang di kota Madinah. Masjid tersebut terbilang unik, karena dibangun di tepi Laut Merah dan mempunyai arsitektur yang sangat indah. “Mengapa kita tidak bisa membangun mesjid seperti ini?” tanya Jusuf setiap kali ia dan rombongannya melaksanakan sholat magrib di mesjid tersebut.
“Kita akan bangun mesjid yang sama indahnya di Makassar,” katanya, “…dan yang lebih besar lagi!” yang mendengar cuma tersenyum. Ini hanya gurauan pengisi waktu atau serius?
Pada setiap kali memperoleh kesempatan pergi haji, pada tahun-tahun berikutnya, ide untuk mendirikan sebuah mesjid baru di Makassar makin mengkristal dan orang-orang yang dekat dengannya-melihat bahwa Jusuf sangat serius mewujudkan cita-cita tersebut.
Jusuf berpikir bahwa yang perlu didirikan bukan hanya sekedar mesjid sebagai sarana fisik, tetapi pusat pendidikan yang Islami. Jusuf merasa lebih comfortable menceritakan keinginan itu setelah berhenti menjadi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (Bepeka).
Jusuf selalu takut bertindak ketika menduduki suatu jabatan karena kemungkinan conflict of interest antara jabatan yang diemban dengan tujuan sosial yang ingin ia lakukan.
Hingga awal tahun 1990, kampus Universitas Hasanuddin yang terletak di Baraya, Ujung Pandang, hampir selesai dipindahkan seluruhnya ke kampus terpadu agak di luar pusat kota. Lokasi yang lama meskipun luasnya mencapai 10 hektar, tapi dianggap tak cocok lagi.
Rektor unhas Prof. Dr. Ir. Fachruddin saat itu menawarkan lokasi kampusnya untuk pembangunan masjid Al-Markaz. Gubernur Sulawesi Selatan Z.B. Palaguna lalu menawarkan kompensasi bagi pihak Unhas dengan memperoleh tanah seluas 100 hektar di luar kota sebagai kebun bibit percobaan.
“Alhamdullillah, kalau semua pihak menginsyafi pentingnya mesjid, semua bisa lancar,” ujar Jusuf puas mendapat berita tersebut.
Setelah mendapat kepastian mengenai lokasi pembangunan mesjid, pada bulan Puasa tahun 1994, tanggal 3 Maret, Jusuf mengundang sejumlah menter Kabinet Pembangunan dan pengusaha nasional di Wisma Yani, Jl. Taman Surapati, Jakarta Pusat, untuk mendengarkan paparannya terkait itu.
Selanjutnya, ruangan di kompleks Rumah Sakit Akademis Jaury dipilih untuk mengurus hal-hal yang berkaitan pembangunan masjid.
Kasad Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar memberi bantuan peralatan berat dari Batalyon Zeni Konstruksi yang ada di Makassar. Buldozer dan peralatan mereka digunakan untuk meratakan tanah di mana mesjid akan berdiri. Sebagai satuan tempur, mereka bisa bekerja secara cepat dan sistematis sehingga bekas-bekas bangunan dan tumpukan puing dalam sekejap bisa dibersihkan dan tanah siap untuk dibangun.
Pada 8 Mei 1994, dilakukan ground breaking Masjid Al Markaz Al Islami tersebut di atas lahan sekitar 10 hektar. Lahan sudah rata dengan tanah yang dibantu oleh pasukan Kasad Jenderal Wismoyo Arismunandar.
Sebagai arsitek yang merancang gambar desain dan bentuk, Jusuf memilih orang yang terbaik untuk itu yang bisa ditemukan di Indonesia yaitu Ir. Achmad Noe’man, seoran arsitek yang telah merancang begitu banyak masjid, termasuk Masjid Salman yang monumental di Kompleks kampus ITB di Bandung yang terkenal itu.
Noe’man langsung bisa menangkap ide dan gagasan yang dikemukakan oleh Jusuf. Pertama, masjid itu harus dibuat dengan megah dan mencerminkan kebesaran bangsa. Kedua, menonjolkan arsitektur asli daerah yang merupakan kebanggaan. Ketiga, mempergunakan bahan-bahan yang terbaik yang bisa didapat. Keempat, mengoptimalkan teknologi tercanggih yang ada. Kelima, mesjid itu harus tahan selama mungkin.
Karena ada pesan agar mengambil arsitektur daerah, maka Noe’man sempat melakukan riset ke sejumlah tempat di Sulawesi Selatan.
Dalam waktu yang relatif cepat, gambar rancangan kasar sebuah mesjid dipresentasikan di hadapan Jusuf. Arsitektur umum mengacu pada sebuah mesjid tertua di Desa Katangka, Kabupaten Gowa.
Sehingga arsitektur masjid mengacu pada dua masjid yang berbeda yakni yang di Madinah dan Masjid tua Katangka, di Gowa.
Detail ornamen sebagian berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Napas dari masjid Nabawi Madinah mengilhami pembangunan menara tunggalnya yang tingginya 90 meter.
Ruangan utama masjid diterangi oleh lampu-lampu kristal yang megah yang didatangkan dari Cekoslovakia.
Ada empat unit lampu yang dipesannya, masing-masing beratnya 1 ton. Selama proses produksi yang kira-kira memerlukan waktu 3 bulan. Setelah selesai dibuat, lampu-lampu dipak dan dikirim ke Indonesia memakai pesawat Lufthansa.
Perjalanan lampu-lampu kristal dari Praha ke Makassar berjalan lancar. Dan, banyak lagi bahan lain yang harus didatangkan ke lokasi pembangunan mesjid, di mana Jusuf harus turun tangan langsung. Entah menelpon untuk bisa mendapat bantuan fasilitas atau mencari informasi bahan tertentu.
Jusuf sangat kagum dengan penerangan menara Masjidil Haram di Mekah, dan bertanya-tanya lampu buatan mana yang dipergunakan. Setelah mendapat informasi itu, ia akhirnya menginginkan agar lampu serupa dipergunakan untuk Al Markaz Al Islami. Menara diberi lampu sorot khusus yang pada malam hari menimbulkan kesan megah. Hampir di pucuk menara, dipasang sistem pengeras suara canggih berkekuatan tinggi.
Pada saat azan dikumandangkan, diharapkan suaranya mampu di dengar oleh seluruh masyarakat kota Makassar. “Insya Allah, suara azannya menjadi standar untuk sholat,” kata Jusuf setelah mendengar percobaan pemakaian sistem suara itu. Ini bagian teknologi yang dioptimalkan seperti yang diminta Jusuf sejak awal.
Sebuah eskalator khusus dipasang di tangga utama. “Kalau pakai eskalator kan membantu mereka,” Katanya. Eskalator adalah tambahan baru yang tidak ada pada gambar rancangan awal.
Agar bangunan itu bisa tahan lama, sebagaimana keinginan Jusuf, maka dipergunakan batu pualam yang diimpor langsung dari Italia. Dari Jakarta batu-batu pualam diangkut oleh kapal. kapal milik pengusaha Jusuf Kalla. “Saya inginkan mesjid ini bisa tetap megah setelah seratus tahun ke depan,” ujarnya.
Kebetulan saat pembangunan masjid, Jusuf Kalla tinggal di Makassar sehingga ia turut mengawasi tahap-tahap pembangunan masjid secara langsung. Dan, hampir setiap hari Jusuf Kalla ditelepon oleh Jusuf mengenai kemajuan pembangunan mesjid.
Sejumlah tukang yang berpengalaman memasang pualam sengaja didatangkan oleh kontraktor dari Jawa. Mereka tidak mau mengambil risiko dengan memakai tenaga-tenaga yang kurang bisa diandalkan. Lebih-lebih setiap tahapan pembangunan dilaporkan langsung ke Jusuf. Jadwal pembangunan bila mungkin jangan meleset banyak dari yang ditentukan.
Pada tanggal 8 Met 1994 ada upacara permancangan tiang pertama Islamic Center di kota Makassar. Walaupun hanya sebuah upacara yang sederhana, tetapi ibukota Sulawesi Selatan itu seperti dalam suasana pesta.
Hanya satu setengah tahun setelah pemancangan tiang pertama, Mesjid Raya Al Markaz Al Islami telah berdiri dengan megah. Bagi orang luar, pembangunan mesjid berjalan dengan amat cepat dan tanpa hambatan. Siang dan malam pembangunan dikebut untuk selesai pada waktunya.
Kembali kota Makassar bagai sedang menyelenggarakan pesta pada 12 Januari 1996. Tak kurang dari 15 menteri hadir dalam acara peresmian kompleks Mesjid Al Markaz Al Islami.
“Ini belum selesai sama sekali,” kata Jusuf kepada Para tamunya. “Kita akan melanjutkan pembangunannya dengan sebuah gedung pertemuan, dan mengaktifkan lembaga pendidikannya.” tambah Jusuf.
Mesjid Al Markaz Al Islami sebetulnya baru terlaksana sepertiga dari rencana besarnya. Ia berencana untuk melanjutkan pembangunan tahap berikut, yaitu sebuah gedung pertemuan besar di kompleks itu yang lokasinya sudah disediakan. Gedung itu bisa dipergunakan untuk semua hal yang baik, dan nantinya menjadi modal dasar bagi berdirinya sebuah pusat pendidikan. Sayang ketika Jusuf sudah siap untuk menjalankan gagasannya, Jusuf keburu jatuh sakit.
Akhirnya meninggal pada tanggal 8 September 2004 dalam usia 76 tahun.
Pada dasarnya, pemberian nama masjid ini sempat menjadi perdebatan. Pasalnya M Jusuf disebut tak ingin namanya disematkan dalam nama masjid.
Nama Al Markaz Al Islami didapat dari Cak Nur yang artinya “Pusat Kegiatan Islam”. Nama ini didapat setelah Jusuf secara tegas menolak nama pribadinya dikaitkan dengan kompleks tersebut.
Namun setelah Jusuf wafat, Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Makassar untuk Meresmikan penambahan nama Mesjid Raya Al-Markaz Al-Islami dengan tambahan nama Jenderal M Jusuf beberapa hari setelah Idul Fitri 1426 H/2005, Fatwa menemui Istri M Jusuf, Elly Saelan yang mengemukakan pandangannya bahwa sebenarnya tidak usahlah ditambah-tambah lagi nama mesjid tersebut dengan nama Jenderal Jusuf, khawatir akan mengurangi pahalanya.
“Ibu Elly juga menceritakan bahwa ketika ada gagasan untuk mendirikan patung Jenderal Jusuf di samping monumen perjuangan Mandala di kota Makassar, dia menentangnya karena hal semacam itu tidak sesuai dengan jiwa Jenderal Jusuf yang tidak suka dikultuskan,” ungkap Fatwa. (FAJAR)