Sekolah Rakyat Hadirkan Tiga Kurikulum Sehari, Terobosan Pendidikan atau Tekanan Baru?

Eramuslim.com - Program Sekolah Rakyat menjadi sorotan publik karena pendekatannya yang tidak biasa: tiga kurikulum dalam satu hari penuh, dari pagi hingga malam. Proyek ini merupakan kolaborasi lintas kementerian—Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Agama—dan akan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai model baru pendidikan karakter nasional.
Apa Saja Isi Tiga Kurikulum?
-
Kurikulum Persiapan (Pra Belajar)
Dilaksanakan dua minggu sebelum sekolah dimulai. Fokusnya membentuk ketahanan fisik dan mental siswa dengan materi seperti:-
Latihan fisik dan baris-berbaris
-
Pelatihan disiplin dan etika dasar
-
Penanaman kebiasaan rapi dan tertib
Ketua Tim Formatur, Mohammad Nuh, menjelaskan bahwa tujuan kurikulum ini adalah melatih daya tahan dan fokus siswa sebelum menghadapi pembelajaran formal.
-
-
Kurikulum Sekolah Formal
Mengacu pada standar pendidikan nasional, kurikulum ini terdiri dari pelajaran utama (intrakurikuler), penguatan materi (kokurikuler), dan kegiatan tambahan (ekstrakurikuler).Yang membuatnya istimewa: semua kegiatan berbasis digital. Mulai dari belajar, absensi, hingga manajemen sekolah menggunakan teknologi seperti face recognition dan fingerprint scanner.
“Anak-anak sekarang adalah generasi digital, jadi sistem pendidikannya pun harus digital,” tegas Nuh.
-
Kurikulum Asrama (Malam Hari)
Malam hari bukan waktu istirahat, melainkan sesi pendidikan karakter, dengan fokus pada:-
Kepemimpinan
-
Nilai spiritual sesuai agama masing-masing
-
Cinta tanah air dan etika komunikasi
Uniknya, guru karakter langsung berasal dari Kementerian Agama, bukan dari sekolah. Menurut Mensos Gus Ipul, ini dilakukan agar pembinaan nilai spiritual lebih merata dan otentik.
-
Siapa yang Mengajar di Sekolah Rakyat?
Sebanyak 1.554 guru telah disiapkan, berasal dari:
-
Aparatur Sipil Negara (ASN)
-
Guru honorer lulusan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)
Rekrutmen dilakukan oleh Kementerian PAN-RB dengan memaksimalkan tenaga pendidik yang sudah tersedia di pemerintahan.
Menuju Generasi Hebat atau Terlalu Berat?
Dengan jadwal padat dari pagi hingga malam, wajar jika muncul kekhawatiran soal potensi kelelahan fisik dan mental siswa. Sebagian pihak memuji pendekatan ini sebagai solusi atas krisis karakter, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan apakah ini terlalu membebani anak-anak.
Penyelenggara menjamin bahwa kurikulum disesuaikan dengan kondisi psikologis anak, serta dirancang secara kontekstual agar tidak hanya mencetak siswa pintar, tapi juga tangguh, disiplin, dan siap menghadapi tantangan hidup nyata.
Sumber: Metro TV News