Soal Bonus Demografi, Anies: Yang Tersembunyi Adalah Kelelahan Kolektif
Eramuslim.com - Bonus demografi menjadi topik yang hangat ketika Gibran Rakabuming Raka dan Ferry Irwandi membahasnya di Youtube.
Kalau video Ferry mendapat banyak like, maka sebaliknya video Gibran menuai banyak dislike. Ini adalah angka real yang tidak bisa direkayasa dengan pengerahan buzzerp dan bot.
Soal Bonus Demografi, akhirnya Anies Baswedan pun ikut turun rembug.
Dari perspektif seorang Anies Baswedan yang cerdas dan mudah dipahami, demikian pula dengan Ferry Irwandi, kita bisa mendapat banyak wawasan baru yang mencerahkan.
Berikut utas seorang Anies Baswedan di X (21/4) tentang Bonus Demografi yang dimuat secara lengkap:
Bonus demografi sering disebut sebagai pintu emas menuju Indonesia maju, tapi benarkah akan otomatis jadi berkah? Mari kita diskusikan dalam utas berikut…
(1) Di negeri ini, waktu tampak sedang berbaik hati. Kita tengah memasuki fase langka, yaitu bonus demografi. Usia produktif sedang memuncak, menawarkan gegap gempita akan masa depan. Tapi, di balik janji statistik itu, ada tantangan besar yang kerap luput dari sorotan.
(2) Utas ini bukan hendak menyiram air pada bara optimisme. Sebaliknya, ini adalah pengingat. Bahwa hanya bangsa yang menyadari ujian-ujian besarnya, yang akan mampu menata masa depannya. Janji kemerdekaan hanya bisa ditepati jika kita tahu jalan mana yang harus diluruskan.
(3) Sering kita anggap bonus demografi sebagai berkah otomatis. Seolah hadirnya usia produktif berarti kesejahteraan akan datang dengan sendirinya. Tapi usia produktif tak selalu berarti produktivitas. Yang terlihat adalah angka, yang tersembunyi adalah kelelahan kolektif.
(4) Anak muda kini hidup dalam tekanan berlapis. Harus sukses cepat, menopang keluarga, mengatasi ketidakpastian kerja, dan membangun masa depan di tengah ruang hidup yang kian mahal. Mereka bukan hanya generasi yang tangguh, tapi generasi yang sibuk, dan generasi yang letih.
(5) Anak muda disebut penopang kemajuan, tapi siapa yang menopang mereka? Di balik label produktif, tumbuh fenomena senyap tekanan psikis, gangguan mental, dan rasa hampa. Dunia kerja menuntut kecepatan, tapi lupa menyediakan ruang untuk bernapas. Ini bukan bonus, tapi beban.
(6) Lalu, di antara generasi ini dan sebelumnya, tumbuh jurang aspirasi. Yang muda bicara kolaborasi, keterbukaan, dan lompatan. Yang tua bicara kehati-hatian dan stabilitas. Tapi ruang pengambil keputusan masih didominasi kultur lama yang lamban, eksklusif, dan hierarkis.
(7) Ketika ide-ide segar dan aspirasi terhenti di meja birokrasi, bukan hanya gagasan yang mati, tapi juga semangat untuk percaya. Bonus ini bisa berubah menjadi jurang yang memisahkan cara pandang. Jika tak dijembatani, maka lahirlah sinisme terhadap institusi.
(8) Kita juga menyaksikan desa dan kota kecil yang ditinggalkan anak mudanya, serta kota-kota besar yang tumbuh dengan kepanikan. Migrasi besar-besaran tanpa desain jangka panjang membuat infrastruktur kewalahan, layanan publik terseok, ruang tinggal makin tak terjangkau.
(9) Yang tumbuh bukan kota-kota penuh harapan melainkan wajah baru ketimpangan, yaitu kelompok muda yang terdata bekerja tapi hidup dalam zona abu-abu ekonomi. Mereka bekerja di sektor informal, tanpa jaminan, perlindungan, dan kepastian. Disebut aktif, tapi sejatinya rapuh.
(10) Di balik narasi “anak muda pekerja keras”, tersembunyi kenyataan yang lebih pahit. Mereka bertahan hidup, bukan bertumbuh. Mereka sibuk, tapi tak selalu sejahtera. Dan bila sistem tetap diam, maka yang muncul adalah generasi pekerja yang kelelahan dalam senyap.
(11) Lalu, kita harus bertanya apakah setiap anak muda benar-benar punya kesempatan yang sama? Dunia makin digital, tapi tak semua bisa terhubung. Ada yang belajar coding dan AI, ada yang masih bertarung dengan sinyal putus-putus dan gawai yang dipakai bergantian.
(12) Kesenjangan digital ini nyata. Mereka yang terkoneksi akan terbang lebih tinggi. Mereka yang terputus akan makin terdesak. Ini bukan soal siapa yang rajin. Tapi soal siapa yang diberi pijakan, siapa yang dilengkapi untuk ikut dalam perlombaan.
(13) Waktu pun tak bisa diajak menunggu. Bonus demografi ada batas berlakunya. Dalam dua dekade ke depan, Indonesia akan menjadi negara dengan populasi menua. Yang muda hari ini, akan menjadi tua yang harus ditopang nanti. Bebannya akan bergeser, dan itu harus disiapkan.
(14) Ketika saat itu tiba, pertanyaannya bukan lagi soal banyaknya tenaga kerja. Tapi tentang siapa yang akan membiayai pensiun, layanan kesehatan, dan keberlangsungan fiskal. Jika sistem tak disiapkan hari ini, maka kita sedang menyambut krisis yang lebih dalam.
(15) Maka bonus demografi bukan hadiah, tapi ujian yang menantang kita untuk menyiapkan manusia dan tidak sekadar mengagungkan angka. Ujian yang mendesak kita menegakkan keadilan, bukan sekadar mengada-adakan pertumbuhan. Dan seperti janji kemerdekaan, ini pun harus dilunasi.
(16) Apa yang harus kita lakukan? Pertama, pendidikan selalu jadi kunci. Bukan sekadar soal kurikulum, tapi tentang keberdayaan. Pendidikan harus membekali anak muda dengan literasi, kreativitas, kecakapan yang relevan, pikiran kritis, serta keberanian untuk ambil peran.
(17) Kedua, membangun sistem ekonomi yang memberi ruang bagi yang kecil dan baru merintis. Akses terhadap kredit, pelatihan, dan pasar tak boleh jadi kemewahan, tapi hak. Yang mau bekerja, harus diberi landasan untuk naik kelas. Yang sedang berjuang, harus dibantu bertumbuh.
(18) Ketiga, beri ruang bagi partisipasi anak muda dalam pengambilan keputusan. Mereka bukan sekadar pewaris masa depan tapi juga penentu hari ini. Jangan hanya libatkan dalam diskusi formalitas, tapi berikan peran dan posisi. Tentu atas dasar meritokrasi, bukan koneksi.
(19) Akhirnya, mari kita terus merawat optimisme. Jangan menutup mata pada tantangan, tapi teruskan membuka hati pada harapan. Bonus demografi bukan soal siapa yang muda dan siapa yang tua, tapi soal kebulatan tekad untuk bersama menyalaterangkan masa depan.
(20) Sekali lagi, bonus demografi bukan sekadar urusan angka, tapi soal arah dan keberanian memilih jalan. Masa depan tidak akan menunggu, tapi hanya berpihak pada mereka yang bersiap. Dan jika sistem memberi ruang, generasi muda hari inilah yang akan memenangkan Indonesia. [rd]