Soal 'Orang-orang Senang' di Kasus Korupsi Minyak, Hensat: Ngeselin...

eramuslim.com - Analis komunikasi politik Hendri Satrio, yang dikenal sebagai Hensat, menyoroti dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang yang diduga merugikan negara hingga Rp193 triliun per tahun selama periode 2018-2023.
Hensat mempertanyakan mengapa kasus ini baru mencuat menjelang pemilu, serta siapa saja yang akan dimintai pertanggungjawaban.
"Nah ini misterinya, 2018 sampai 2023. Pemilu tahun 2019 dan 2024. Kasus ini mulai 2018, menjelang Pemilu 2019. Selesainya 2023, jelang Pemilu 2024," kata Hensat lewat kanal YouTube miliknya, Rabu, 12 Maret 2025.
Ia juga menyoroti posisi direktur utama (Dirut) di perusahaan terkait. Menurutnya, Dirut saat ini, Riva Siahaan, baru mulai menjabat pada 2023. Namun, ia mempertanyakan mengapa Dirut sebelumnya, yang memimpin sejak 2018, tidak dipanggil oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).
"Menariknya lagi, saya tidak membela Dirutnya, tapi Riva Siahaan baru jadi Dirut 2023. Nah, Dirut 2018 kok nggak dipanggil Kejaksaan? Komisarisnya bagaimana?" tanya Hensat.
Ia menekankan bahwa kasus ini harus dikawal dengan objektif, tanpa adanya kepentingan politik tertentu. Hensat juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam manipulasi isu yang hanya menguntungkan pihak tertentu.
Sebagai Founder Lembaga Survei Kedai KOPI, Hensat turut menyoroti keberadaan grup WhatsApp yang diduga berisi orang-orang yang terlibat dalam kasus ini. Ia menyebut bahwa publik menantikan siapa saja pelaku utama yang akan diungkap.
"Saya dapat informasi, orang-orang yang terlibat di dalam kasus ini nama WhatsApp grupnya 'orang-orang senang'," ungkap Hensat.
Kasus ini masih dalam penyelidikan Kejagung, dan publik terus menunggu perkembangan serta siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban.
"Namanya korupsi, mau gede mau kecil, ngeselin, harus diberantas," tutup Hensat.
(Sumber: RMOL)