Amerika di Belakang Layar

Barangkali hanya Amerika lah, sebuah negara yang menyatakan diri menjunjung tinggai demokrasi namun pada faktanya, amerika lah negara yang tanpa malu menginjak injak demokrasi tersebut, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Campur tangan amerika yang begitu dalam terhadap kemenagan Hamas di Palestina, sikap mereka yang tidak pernah mau mendengar kecaman dunia atas kejahatan yang di lakukannya, penjajahannya terhadap rakyat irak sejak 2003 hingga sekarang yang sebenarnya sudah diprotes bukan hanya oleh negara negara di dunia, tetapi juga oleh masyarakatnya sendiri, merupakan contoh contoh yang menyatakan bahwa Demokrasi ala amerika hanyalah sebuah topeng untuk menutupi keburukan wajah mereka yang sebenarnya sudah membusuk hingga tercium sangat jelas oleh dunia luar.

Memang sebuah ironi, ketika kita secara jelas melihat Amerika melecehkan sebuah idealisme yang di dengung dengungkannya, namun disisi lain kita mengangungkan idealisme tersebut.

Lalu siapa sebenarnya yang berada di balik demokrasi ala amerika ini. Apakah mereka menjalankannya“sendiri“ tanpa sebuah kekuatan yang memiliki kepentingan tersendiri di balik kebijakan dari negara adidaya tersebut.

Z.A Maulani menulis bahwa departement luar negri, departement keuangan serta departement pertahanan di Amerika Serikat berada dibawah kendali yahudi. Bukan hanya itu, lembaga lambaga keuangan yang berbasis di Amerika Serikat seperti World Bank, IMF, Federal Reserve Bank juga merupakan alat Yahudi, termasuk juga diantaranya WTO.Selain itu partai partai terbesar di Amerika, Demokrat dan Republik, bisa terus beranafas karena menadapat aliran dana yang tidak sedikit dari Yahudi. Sebuah laporan Richard Cohen dari Washington Post menyatakan bahwa 60% pendanaan untuk partai Demokrat berasal PAC’s yahudi pro Israil sedangakan 35% untuk partai republik. Hampir semua pengalang dana dari Lobi Yahudi tersebut memiliki sebuah kepentingan untuk menjadikan amerika serikat selalu menjadi pendukung israil tanpa syarat, baik itu kebijakan kebijakannya, institusi institusinya, penjarahan tanahnya serta siapapun yang dianggap musuh oleh israil baik secara militer maupun politik. Itulah sebabnya, mengapa Amerika selalu menjadi pendukung utama kejahatan kejahatan israil bahkan dengan mengabaikan prinsip demokrasi yang mereka dengung dengungkan.

Basis kekuatan Lobi yahudi ini didukung oleh proporsi keluarga kaya Yahudi yang begitu besar di Amerika yang menguasai aliran dana di negara tersebut. Majalah Forbes mencatat bahwa, 25 hingga 30 persen multi jutawan dan milyuner di Amerika serikat merupakan orang Yahudi.

Dengan kekuatan dana yang dimilikinya, para pemodal yahudi yang merupakan tulang punggung gerakan zionis internasional, selalu men-dikte kebijakan kebijakan luar negeri, militer dan keuangan amerika serikat. Protes, kecaman yang datang kepada mereka sama sekali tidak dihiraukan. Semua itu demi ambisi zionisme internasional.

Perperangan di Irak yang telah melahirkan sebuah kerugian besar bagi keuangan Amerika Serikat sebenarnya semata mata adalah karena hasutan atau prakarsa dari Lobi Yahudi. Semua ini dikarenakan presiden Saddam Husein sangat tidak kooperatif dengan Yahudi dan dianggap terlalu banyak menjegal kepentingan kepentingan Yahudi, termasuk juga diantaranya sikap presiden Saddam Husein yang sangat pro dengan perjuangan rakyat palestina. Sekarang ketika Irak telah hancur dan kebebasan, kedaulatan rakyat irak telah mereka rampas, serta irak telah menjadi sebuah negara yang sangat labil, mereka melirik musuh baru yang selama ini sangat anti terhadap zionis yang meragukan dan mengkritisi terjadinya Holocaust, sesuatu yang sangat “sakral“ bagi bangsa Yahudi. Termasuk diantaranya kebijakan negara itu untuk mendukung secara penuh perjuangan bangsa palestina serta dukungan terhadap gerakan hisbullah, sebuah gerakan yang juga menentang israil. Mereka (AS dengan prakarsa Yahudi) telah menemukan jalan untuk menekan negara tersebut berupa program nuklirnya yang jelas jelas untuk keperluan damai dan menjamin pasokan listrik mereka. Negara itulah Iran. Sedangkan israil yang secara jelas memiliki ratusan hulu ledak nuklir tidak pernah dibahas oleh AS. Padahal mereka mengecam dan menekan iran atas program nuklirnya untuk keamanan dunia. Sesuatu yang sangat paradoks.

Oleh karena itu, para praktisi menganggap bahwa aksi militer AS terhadap iran hanya tinggal menunggu waktu semata.

Ketika perang irak, protes selalu bermunculan untuk menentang kebijakan yang sangat tidak bijak itu, bukan hanya dari dunia internasional tapi juga dari rakyat dan akademisi AS sendiri, namun semua itu tidak menghentikan aggresi AS. Maka bukan tidak mungkin, mereka juga akan melakukan hal yang sama terhadap iran.

Satu hal yang nyata dari keberpihakan USA terhadap zionis adalah sikap mereka yang terkadang sangat memalukan, berupa pembenaran terhadap semua pembantaian tentara israil laknatullah alaihim terhadap rakyat palestina. Semua itu menjadi bukti, yang memang harus kira gali lagi lebih jauh, bahwa amerika sebenarnya berada dibawah kendali gerakan zionisme israil.

Selain itu, penerimaan berdirinya negara israil oleh PBB di palestina juga karena tekanan dari lobi yahudi yang sampai sekarang masih bertahan.

Dengan prakarsa dari zionis, AS bukan hanya menjadi penjajah di negara luar tapi juga terhadap rakyatnya sendiri, terutama yang mengkritisi apalagi membantah kebijakan kebijakan pemerintah yang telah disetir oleh kaum zionis yahudi, termasuk diantaranya para akademisi yang mengkritisi kebijakan tersebut dengan data dan fakta yang valid dan ilmiah. Hal ini dapat dilihat dari yang dialami oleh profesor Walt dari Universitas Havard dan Profesor Mearsheimer dari Universitas Chicago. Hal ini bermula dari publikasi kumpulan esai mereka yang menkgkritisi kebijakan pemerintah AS di timur tengah. Akibatnya, kampanye mematikan yang dilancarkan oleh pihak zionis terhadap kedua profesor tersebut melalui media media masa yang sebagian besar (kalau memang tidak semuanya) dikuasai oleh mereka. Diantaranya, kampanye media yang dilakukan oleh Jewish Press yang beraliran sayap kanan ultra-orthodoks (yang mengklaim sebagai surat kabar Yahudi “independent“ terbesar di AS) hingga Forward yang mantan sosialis demokratis dan juga Jewish Weekly. Semuanya (bersamaan dengan organisasi besar Yahudi) menjalankan suatu kampanye propaganda pencemaran nama baik. Mereka juga menekankan agar kedua orang itu diusir dari lingkungan akademisi.

Hal ini menyebabkan Universitas Havard mengambil kebijakan kebijakan yang merugikan profesor Walt. Diantaranya tidak lagi mecantumkan dalam publikasinya, mengenai status profesor Walt sebagai pemodal kursi profesor yang ditempatinya sebagai dekan akademik di Havard Kennedy School.

Dengan demikian , di negara adidaya tersebut, zionis yahudi menutup segala diskusi diskusi akademis yang mengkritisi kebijakan atau tepatnya kejahatan mereka di Timur tengah.

Hal ini tentu saja mencederai asas kebebasan berpendapat yang merupakan salah satu pilar demokrasi dan lebih mencerminkan sebuah hukum rimba serta penjajahan pada semua bidang.

Sekarang, janji akan sebuah perubahan, kembali bergaung di negara AS. Perubahan itu dimulai dengan adanya pemilu pemilihan presiden dan akhirnya memenangakan Barack Obama, sebagai pemimpin baru AS. Memang hak sebtiap orang untuk mengaharapkan perubahan yang lebih baik. Apalagi kampanye kampanye yang dilancarkan oleh sang terpilih semakin membuai rakyat amerika juga dunia untuk datangnya sebuah perubahan.

Namun jika kita kembali melirik sisi lain dari pemiliu AS ini, kita bisa menemukan bahwa, bukan tidak mungkin, semua ini (Pemilu dan kemenangan Obama) tidak terlepas dari prakarsa dan kendali zionisme internasional. Diawal tulisan ini sudah dikatakan bahwa partai demokrat (partai obama) menerima aliran dana dari yahudi yang lebih besar dari pada aliran dana untuk lawannya, partai republik. Juga ketika kita kembali bertanya mengapa dan dari mana, tim kampanye sang presiden mendapatkan dana yang sangat besar dalam sejarah pemilu AS sehingga mampu mengantarkannya pada kemenangan. Selain itu, AS adalah tempat hidup jutaan orang yahudi, dimana suara mereka sangat berpengaruh kepada hasil pemilu di negara tersebut.

Pada tahun 1958, Konferensi presiden asosiasi asosiasi Yahudi menugaskan presidennya, Klutznik, untuk menghubungi Kennedy, calon presiden yang berpeluang terpilih. Klutznik menyatakan kepadanya “Jika anda mengatakan apa yang harus dikatakan, Anda boleh berharap kepada saya. Jika tidak, saya bukan satu satunya orang yang berbalik dari anda“.

Kennedy akhirnya mengikuti nasihat ini pada tahun 1960 ketika dia ditunjuk sebagai calon presiden oleh Konvensi Demokrat. Setelah pernyataannya di hadapan tokoh tokoh Yahudi di New York, dia menerima sekitar 500000 dolar untuk kampanyenya dengan Klutznik sebagai penasihat dan 80% suara orang Yahudi.

Ketika dia telah terpilih menjadi presiden, pada saat pertemuannya dengan Ben Gurion(orang yang memproklamirkan kemerdekaan Yahudi di tanah palestina dengan nama israil), Kennedy menyatakan kepadanya ,“ Saya tahu saya terpilih berkat suara Yahudi Amerika, saya berutang kepada mereka atas terpilihnya saya. Katakan kepada saya apa yang harus saya lakukan kepada Yahudi“

Begitulah Kennedy, lalu bagaimana dengan Obama. Kita memang tidak boleh langsung mengambil kesimpulan bahwa apa yang dilakukan Obama sama dengan yang dilakukan Kennedy, namun ketika kita melihat fakta fakta yang terjadi di lapangan, semua itu bisa mengarahkan bagaimana sikap dan cara berpikir kita terhadap presiden baru ini.

Setelah beberapa saat terpilih, Obama menentukan kebijakan kebijakan luar negri yang sebenarnya tidak beda jauh dengan presiden sebelumnya. Dari kebijakan kebijakan itu dapat dilihat bahwa ada kepentingan gerakan zionis di dalamnya terutama untuk mematikan musuh musuhnya. Diantara kebijkan itu ialah penambahan pasukan di Afganistan, mengumpulkan dukungan internasional untuk menekan iran atas program nuklirnya, menangkap Usamah bin ladin, serta (sesuatu yang semakin jelas akan adanya kepentingan Yahudi) memerangi teroris internasional. Sampai sekarang, dalam prakteknya, teroris selalu mengacu kepada umat islam seperti yang sudah banyak kita lihat pada zaman G W Bush.

Memang ada sebuah kebijakan yang sepertinya bertentangan dengan kebijakan presiden sebelumnya, yaitu menarik pasukan AS dari Irak. Tapi ketika kita kembali bertanya, setelah kejatuhan dan kehancuran irak dan penguasan AS terhadap irak, apakah zionis masih mengkhawatirkan kekuatan dan pengaruh dari negara tersebut.

Perubahan memang bukan sesuatu yang mustahil, namun dalam mengharapkan sebuah perubahan, kita harus adil dalam bercermin. Tidak hanya melihat sesuatu itu dari satu sisinya saja dan mengabaikan sisi lainnya yang sebenarnya memiliki pengaruh yang sangat kuat. Memang dalam kepemimpinan telah terjadi perubahan di AS, namun dari sisi kekuatan yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan, adakah juga terjadi perubahan. Padahal kekuatan yang berpengaruh itulah yang sebenarnya menjalani pemerintahan AS, sejak dulu hingga saat ini, bahkan mungkin masih akan terus berlanjut.
Wallahualam bishawab

—————————————

Profil Penulis :

Imanuddin rahman, mahasiswa FMIPA UI. alamat, jl Rawapule No 24 kukusan beji, depok.
Kalau ada kritikan dan saran atau “hal hal yang perlu dibenarkan“ bisa dikirim ke [email protected].

Reff
James Petras, The Power Of israil In USA,. Zahra. Jakarta.2008
Roger Garaudy, Mitos dan Politik Israil.,Gema Insani, Jakarta.,2000
William G Carr.,Yahudi Mengenggam Dunia.,Alkautsar., Jakarta.2006
Z. A Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia