Insiden Qabil-Habil, Haram Darah Ditumpahkan Dengan Kezaliman

padangpasireramuslim.com – Jum’at ketika itu tidak jauh berbeda dengan hari Jum’at setiap pekannya, jalan masuk menuju masjid Al-Azhar dipenuhi oleh rentetan mobil state security yang mengangkut puluhan polisi. Dulu saya tidak paham kenapa polisi dalam jumlah besar itu dikerahkan setiap Jum’atnya hanya untuk menjaga shalat Jum’at di masjid Al-Azhar, namun belakangan hari saya ketahui bahwa seusai shalat biasanya terdapat beberapa kelompok dari jamaah yang “berdemo” mengobarkan gelora jihad di beranda tengah masjid, mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu melawan musuh Islam, kembali kepada ajaran Islam, dan menolak segala bentuk kelaliman pemerintah.

Oleh karena itu keamanan perlu dijaga agar tidak terjadi ‘keributan’ massal. tapi anehnya, jumlah polisi selalu lebih banyak dibanding jumlah demonstran, sehingga mustahil para demonstran dapat keluar dari masjid karena seluruh pintu keluar telah dikepung. Selain itu saya juga baru sadar, ternyata pemerintahan Hosni Mubarak tak jauh beda dengan pemerintahan Pak Harto dimana kebebasan bersuara begitu terkekang. Media pers, demonstrasi hingga khutbah Jum’at semuanya di bawah kendali kediktatorannya, tiada satupun yang boleh lancang mengkritisi ‘kebijakan’ pemerintah.

Jum’at itu pula, imam dan khatib masjid Al-Azhar Syaikh Shalahuddin Mahmud Nashar dalam khutbahnya mengangkat masalah entitas Islam sebagai risalah yang bukan hanya sekedar berbentuk perintah ibadah kepada Sang Pencipta, namun juga kedudukan Islam sebagai agama dengan tatanan sosial yang sangat menghargai dan menjaga tali horizontal sesama makhluk, lalu syaikh Nashar menerangkan tentang tujuan dan landasan utama syari’at Islam (maqashid syari’ah) yang melindungi dan menjaga konsep agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta (kulliyyat al-khams).