free hit counters
 

Krisis Pangan atau Krisis Kemanusiaan ?

Al Furqan – Senin, 17 Jumadil Awwal 1430 H / 11 Mei 2009 08:37 WIB

Tidak terpungkiri di abad ini umat manusia mencapai kemajuan yang begitu menakjubkan. Sebuah perubahan revolusioner di bidang ekonomi, sains, ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia mampu memegang kendali atas alam dan mengelolanya untuk kesejahteraan material yang begitu besar. Namun konsekwensi dari kemudahan hidup yang diperoleh dari kerja-kerja mesin industri juga tidak bisa dikatakan sederhana. Kemajuan itu justru memunculkan beragam polusi, kerusakan lingkungan hidup dan terganggunya keseimbangan ekosistem alam. Munculnya gejala pemanasan global juga disebabkan oleh kecanggihan pemikiran manusia dalam membuat mesin-mesin industri baru. Sejumlah data menujukkan bahwa pemanasan bumi merupakan fenomena di luar prediksi dan telah sampai pada tahap krisis.

Pola pencairan es di Antartika merupakan salah satu indikatornya. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Antartika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton sementara beting es Wilkins yang menghubungkan pulau es Charcot dan Latedy pecah berkeping-keping yang justru terjadi pada musim dingin. Wilkins adalah pulau es raksasa yang telah berusia 1.500 tahun di kawasan Semenanjung Antartika yang berada di sebelah selatan Amerika Selatan. Luas es yang pecah di kawasan tersebut mencapai 160 kilometer persegi.

Efek Pemanasan Global

Diantara biang dari pemanasan global ini adalah penggunaan energi yang tidak terperbarukan -bahan bakar fosil- seperti minyak dan batu bara. Gas karbon yang kita pakai untuk menjalankan mesin kendaraan setiap hari, akan membumbungkan polusi udara berupa CO2, NOx dan Methana, sehingga menimbulkan perusakan lapisan ozon dan menjadikan bumi lebih panas dan iklim menjadi berubah. Dampak tragis perubahan iklim tersebut bisa terlihat dengan munculnya fenomena alam yang sulit diprediksi. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah bencana angin topan, badai tornado, hujan yang disertai banjir besar, di berbagai kawasan dunia makin meningkat tajam. Sementara pada saat yang sama di kawasan lainnya, masa kekeringan justru kian panjang, khususnya di kawasan tropis dan sub-tropis.

Dan yang merasakan efek paling tragis dari perubahan iklim ini adalah warga miskin di negara-negara berkembang. Padahal, penyebab utama munculnya pemanasan global merupakan akibat dari ketamakan negara-negara industri, khususnya AS dan keengganan mereka untuk menaati aturan internasional. Para analis memperkirakan, perubahan iklim itu juga bakal memperlebar jarak kesenjangan sosial dan ekonomi di tingkat global. Situasi semacam itu niscaya berujung pada kian bertambahnya angka kemiskinan yang juga bisa mengancam keamanan dunia. Pemanasan global juga menganggu jalan kerja lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk bumi yang kian meningkat. Disinyalir, persentase ladang pertanian tadah hujan di dunia, hingga tahun 2020 bakal menurun hingga 50 persen.

Sumber Utama Krisis Pangan

Berbagai macam teori dan solusi dilontarkan untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin parah ini. Salah satunya, penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon dalam proses pembakarannya bukan lagi dalam tahap mengurangi tapi telah mencapai tahap harus dihentikan, terlebih lagi sebagaimana layaknya bahan bakar yang tak terbaharukan, cadangan bahan bakar fosil semakin menipis. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil.

Biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit tidak menimbulkan kekhawatiran sebab bisa diproduksi dalam jumlah yang tak berbatas untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mesin-mesin kendaraan dan industri. Demam biofuel ini pun menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Disinilah efek yang lebih dramatis terjadi, petani lebih memilih memproduksi pangan untuk dijual pada produsen biofuel dibanding untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Akibatnya, bahan pangan pokok untuk dikonsumsi menjadi langka, yang secara alamiah akan mendongkrak naiknya harga bahan pangan pokok di pasaran.

Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025. Yang lebih menyedihkan lagi, krisis pangan terjadi karena kebutuhan perut hewan ternak justru lebih diprioritaskan dibanding untuk memenuhi kebutuhan perut manusia. Peternakan adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Sedangkan dua per tiga hasil pertanian di muka bumi ini dipergunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton.

Padahal, asal tahu saja, pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang. Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia. Sementara kenyataan yang terjadi 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Masalah lainnya yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air (Chindy Than, 2008). Lester R. Brown, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, maka tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi. Saat yang sama, jutaan manusia menjerit karena kebutuhan air bersih yang tidak terpenuhi.

Di dalam salah satu artikelnya Dewi Lestari (2008) memaparkan, di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Jangan bayangkan, membunuh saudara kita melulu melalui peluru atau belati, apa bukan termasuk membunuh, bila kita sibuk memberi makan hewan ternak dan membiarkan perut saudara kita keroncongan?. Karenanya bisa dikatakan tumbuhnya pabrik-pabrik industri dan semakin luasnya lahan peternakan bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi nurani kita telah mati.

Contoh sederhananya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita menkonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia. Atas nama pemenuhan selera, kita lebih memilih mengisi perut ternak dibanding perut saudara kita sendiri. Persoalan terbesar kita bukan krisis pangan, sebab bumi akan selalu mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk bumi. Allah SWT berfirman,”Dan Dia diciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi dan Dia tentukan makanan-makanan dalam empat masa, memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka yang memerlukannya.” (Qs. Fussilat : 10). Krisis sebenarnya adalah kemanusiaan kita.

Wallahu ‘alam bishshawwab

Ismail Amin ; Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran
Lahir di Makassar 6 Maret 1983, sempat menimba ilmu di Ma’had Al Birr UNISMUH Makassar, sekarang untuk sementara menetap di Republik Islam Iran sambil belajar di Mostafa International University. Mengelola blog pribadi http://abi-azzahra.blogspot.com/ bisa di hubungi via email di [email protected]

loading...

Pemuda & Mahasiswa Terbaru

blog comments powered by Disqus