Islam = Way of Life

islamOleh : Muhammad Yusron Mufid*

“Anak-anakku semuanya, kalau kamu sudah dapat pendidikan Islam dan kalau kamu sudah sama dewasa, ditakdirkan Allah SWT yang Maha luhur, kamu dijadikan orang tani, tentu kamu bisa mengerjakan pertanian secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi saudagar, jadilah saudagar secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi prajurit, jadilah prajurit menurut Islam; dan kalau kamu ditakdirkan menjadi senopati, jadilah senopati secara perintah Islam. Hingga dunia diatur sesuai dengan azas-azas Islam”

(Yogyakarta, 24 Agustus 1925. Wasiat H.O.S. Tjokroaminoto)

Sebagai saudara seiman, maka seyogyanya sebenarnya apa yang kita perjuangkan adalah untuk satu tujuan. Hidup untuk berjuang dan mengabdi, karena kita manusia terlebih muslim, bukan tumbuh-tumbuhan yang hidup hanya karena tidak mati saja tanpa ada sesuatu yang dicita-citakan.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai Islam sebagai way of life. Perlu diketahui, bahwa Islam bukanlah warisan nenek moyang , bukan juga pusaka suatu bangsa yang kita peroleh secara otomatis. Melainkan harus kita peroleh dan pertahankan dengan usaha agar dapat tetap sah dan berlaku di sisiNya. Bagaimana caranya ? Yakni dengan pengetahuan sebagai gerbangnya. Pengetahuan tentang Islam tentunya. Lalu mempraktikkannya

Berbicara pengetahuan tentang Islam. Pada awalnya harus terbentuk kepahaman bahwa Islam bukanlah pengertian sebatas agama sempit yang identik dengan prosesi ritual belaka. Namun lebih dari itu, Islam adalah way of life, pandangan hidup dan sistem hidup universal (Bahasa AlQur’an Islam itu Addin) yang menjangkau seluruh sisi kehidupan dengan orientasi pengabdian yang Esa terhadapNya. Ketika AlQur’an turun secara berangsur-angsur  (Pola tarbiyah), selama 13 tahun porsi terbesar AlQur’anul Makki salah satunya adalah menjelaskan tentang eksistensi manusia sebagai bagian kecil dari alam nan luas dan kompleks ini. Penjelasan itu datang menjadi pelita ditengah-tengah pandangan/ideologi hidup masyarakat Arab yang jahil dan bengkok kala itu.

Berbicara tentang Islam sebagai  pandangan hidup, kenyataannya sekarang kita lihat, di sekeliling kita. Islam bukanlah satu-satunya jalan hidup yang ada. Ternyata banyak jalan dan pandangan hidup lain yang ditempuh dan diperjuangkan oleh manusia. Karena manusia dari zaman naik onta hingga Toyota pada hakikatnya mencari kebahagiaan dan maslahat dalam hidupnya. Untuk mencarinya maka banyak sekali dirumuskan pandangan-pandangan hidup terlebih di era kekinian yang secara sekilas terlihat menggiurkan. Begitulah janji Iblis dalam AlQur’an agar manusia memandang indah setiap kemaksiatan termasuk memilih jalan hidup lain dengan membelakangi jalan hidup yang telah di gariskan olehNya. Maka dari itu kita musti punya pegangan agar gak ikut-ikutan tertipu. Yakin bahwa satu-satunya yang dapat menunjukkan kita jalan kebahagiaan dan maslahat hanyalah Allah. Sebagai perakit/pencipta manusia tentulah dia yang lebih tau seluk-beluk tentang kita. Ya gak ? Sepatutnya kita renungkan firman Allah berikut :

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (AlQur’an) tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. 23 : 71)

Kembali ke jalan hidup, Jalan hidup sering juga di sebut sebagai ideologi. Apa sih ideologi ? kalo di ibaratkan ilmu Sains, maka ideologi itu ibarat atom, bagian yang gak bisa di pecah-pecah lagi. Maka ideologi dapat dikatakan sebagai atomnya pikiran. Atau dengan kata lain ialah dasar pikiran terkecil yang menjadi rujukan kita dalam langkah keseharian. Nah atas dasar itu, suatu hal dapat dikatakan ideologi adalah kalo bisa menjawab 3 pertanyaan. Pertanyaan itu adalah :

  1. Darimana manusia berasal ?
  2. Untuk apa manusia di ciptakan ?
  3. Akan kemana manusia setelah akhir hayatnya ?

(Taqiyuddin An-Nabhani)

3 pertanyaan inilah yang disinyalir paling mempengaruhi manusia dalam menjalani hidupnya.

Sebagian manusia ada yang menjawab 3 pertanyaan mendasar ini sbb :

“Saya pikir Manusia berasal dari materi, hidup untuk mencari kebahagiaan materi, dan pada akhir hayatnya akan kembali menjadi materi”

Atas dasar pemahaman ini maka berjalanlah manusia tersebut di atas bumi. Mereka berkepribadian, berbudaya, berekonomi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dll untuk mempersembahkan peribadatan kepada materi. Mencari kesenangan dan produksi materi massal dengan sepuas-puasnya meskipun dengan itu mereka harus menerapkan hukum rimba. Toh gak masalah kan ? ngapain hitung2an menindas manusia, ras, bangsa lain yang dianggap bermutu rendah. Sayang kalo hidup ini gak di pake utk bersenang-senang walaupun harus berdiri diatas penderitaan yang lain. Toh selepas ini kita akan kembali lagi jadi materi tanpa pertanggungjawaban. Sayang cing kalo dilewatkan begitu saja.

Inilah akar ideologi komunisme yang diperjuangkan sebagian manusia. Meskipun nanti akan banyak kait mengait dengan paham lainnya seperti sosialisme, atheism, darwinisme dll. Tapi muaranya adalah dari jawaban atas 3 pertanyaan ini.

Ada juga kaum yang menjawab

“Saya percaya manusia diciptakan Tuhan, tapi Tuhan tugasnya hanya menciptakan. Gak berhak mengatur seluruh peri kehidupan manusia. Dan kami percaya bahwa di akhir hayat kami akan kembali ke Tuhan sang pencipta namun tanpa ikatan pertanggung-jawaban yang jelas”

Atas dasar inilah manusia berjalan di muka bumi dengan anggapan biarlah Tuhan hanya ada di gereja, sinagog, masjid , candi dsb. Urusan pribadi, ekonomi, politik, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara biar kami selaku manusia yang mengurus. Di masjid, gereja, sinagog dsb mereka beribadah kepada Tuhan yang ditunjukkan dengan mematuhi aturan dan hukum Tuhan dalam menjalankannya. Sementara diluar itu mereka beribadah kepada sebagian manusia lainnya ditunjukkan dengan mamatuhi aturan yang diciptakan sebagian manusia tersebut. Inilah Bentuk kemusyrikan modern/berhala modern yg bisa menyeret manusia menuju penyekutuan terhadapNya dalam hal pengabdian/peribadatan -Kita musti hati-hati dengan dosa musyrik yang akibatnya mengerikan- Na’udzubillahimindzalik.

Dari sini pulalah dasar awal lahirnya ideologi kapitalisme yang menghasilkan anak-anaknya yaitu sekulerisme, demokrasi, nasionalisme, liberalism, pancasila -Meskipun mengakui keesaan Tuhan secara teoritis- dsb. Meskipun banyak anak, namun induknya kapitalisme dari pemahaman ini asalnya.

Ditengah-tengah gelapnya kemelut dan anggapan-anggapan jahili itu, Alhamdulillah Allah yang Maha Tahu dan Bijaksana memberi titik terang kepada manusia dengan Islam. Jika ideologi yang tersebut sebelumnya berasal dari ide-ide/buah pikiran manusia maka ideologi ini berasal dari Allah yang Maha Benar. Istilah AlQur’an adalah Addin. yaitu bahwa :

”Manusia dari segenap bangsa termasuk bangsa Indonesia adalah produk ciptaan Allah. Dilahirkan hanya untuk menderma baktikan hidup kepada penciptanya yaitu Allah dan suatu saat akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan tugas amal baktinya selama hidup”.

Sebagaimana yang di firmankannya :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” ( Q.S 23:115)

“Wahai sekalian bangsa manusia, baktilah kepada Tuhanmu, yang telah menjadikan orang-orang sebelum kamu agar kamu semata-mata takut kepadaNya”  (Q.S 2:21)

“Dan tiadalah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaku”  (Q.S 51:56)

Bagi yang mengerjakan tugas maka akan Allah hadiahi kenikmatan berupa surga, adapun bagi yang membangkang atau menyekutukannya dalam hal pengabdian maka Allah sediakan hukuman berupa siksa Neraka yang amat pedih.

Karena hidup kita adalah untuk mengabdi/beribadah. Lalu, bagaimana bentuk pengabdian manusia terhadapnya ? Yaitu dengan mengikuti hukum dan aturan hidup yang telah di gariskan olehNya. Tidak hanya pada sesi ritual belaka namun ketika berkepribadian, bermasyarakat, berekonomi, berpolitik, bermiliter, berpertanian dll harus mengikuti kaidah hukum-hukumNya. Itu adalah bentuk ibadah kita kepadaNya. Karena menyangkut ibadah, maka hati-hati dengan penyekutuan terhadapNya. Jika ada suatu organisasi, komunitas, kepemimpinan, bahkan negara sekalipun didirikan bukan diatas prinsip ini maka sikap kita sepatutnya melepaskan kesetiaan -Ber-baro’- dan hanya mencurahkan loyalitas -Ke-wala’an- kepada Allah, Rasulullah dan pemerintahan yang menjadikan hukum Islam sebagai hukum tertinggi baik ketika pemerintahan itu sedang berjaya ataupun sedang berjuang sebagai mata rantai kesetiaan (Q.S. 4:59). Kenapa ? Karena kepada siapa kita beribadah dapat dilihat dari Hukum dan Aturan hidup siapa yang kita ikuti dan tunduki

Perlu diingat juga, pemimpin sebagai yang diikuti kan akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Nah, rakyat yang mengikuti akan di mintai pertanggung jawaban atas dasar apa ia mengikuti pemimpin tersebut. Jika salah jalan, maka mereka akan saling berbantah-bantahan di hadapanNya kelak.Oleh karena itu musti hati-hati ya dalam mencurahkan kesetiaan dan mengikut kepemimpinan. (Q.S AlAhzab : 66-68).

Sebagai calon generasi penerus bangsa. Ada suatu hal yang tentu patut kita renungkan. Jika ingin Indonesia makmur, sejahtera di alam yang fana ini tapi dalam naungan murka Allah terlebih di kehidupan sebenarnya nanti kita bisa memperjuangkan jalan dan pandangan hidup selain Islam. Jika hanya kemakmuran dan kesentausaan semu yang menjadi orientasi, lihatlah kaum-kaum terdahulu. Bangsa Tsamud, Kaum A’ad, Dinasti Fir’aun, penduduk Pompeii dsb. Bukankah mereka peradaban makmur sentausa tak tertandingi di zamannya ? Lalu lihatlah bagaimana kesudahannya ? Sesungguhnya dari mereka terdapat pelajaran.

Tapi jika Indonesia ingin makmur, sejahtera dan sentausa dalam naungan keridhoan Allah S.W.T terlebih untuk keselamatan masyarakatnya di kehidupan sebenarnya nanti Allah telah menunjukkan jalannya. Maka pilih dan perjuangkanlah Dien Islam ini. Tentunya utk kebaikan dan kemaslahatan kita semua sekaligus sebagai bentuk ibadah kita kepadaNya. Ingatlah, alam sekarang yang kita rasakan adalah alam kehidupan semu dan hanya secuplik perjalanan manusia untuk menyongsong alam kehidupan sebenar-benarnya nanti. Disana hanya ada 2 muara kehidupan yaitu bahagia atau sengsara. Begitu !

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al Israa: 9)

Wallahua’lam bisshawab

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada