Menghitung Korban Pertempuran Pilkada DKI

Oleh: Asyari Usman (Mantan Wartawan Senior BBC)

Eramuslim.com – Ibarat medan perang, pilkada DKI membawa korban cukup banyak di level komandan penting. Bersamaan dengan tersungkurnya Ahok dalam duel dengan Anies Baswedan, banyak pula korban lain yang berjatuhan. Mereka adalah komandan-komandan batalion pasukan Ahok.

Para komandan itu mengalami luka berat atau luka ringan, dan ada yang mengalami kondisi kritis. Mereka babak-belur setelah Ahok, “putra mahkota” yang mereka jagokan untuk terus menduduki “kerajaan Betawi”, kalah telak di tangan Anies.

Dari sekian banyak komandan koalisi pro-Ahok yang berada dalam kondisi kritis, diantaranya adalah kedua ketua umum PPP yang sedang berkonflik, yaitu *Muhammad “Romi” Romahurmuziy dan Djan Faridz.* Kedua pembesar PPP ini ditemukan dalam kondisi luka parah. Romi dan Djan memperkuat barisan Ahok dalam pertempuran pilkada Jakarta.

Romi dan Djan diperkirakan sulit untuk diselamatkan karena luka mereka sangat parah. Mereka tidak bisa ditolong untuk bertahan hidup di PPP. Sebab, kedua orang ini pergi memperkuat kubu Ahok tanpa restu dari rakyat PPP. Sekarang, PPP akan segera mencari pengganti Romi dan Djan. Kabarnya, Abraham Lunggana yang akrab dipanggil Haji Lulung diperkirakan naik menggantikan kedua koleganya yang sekarang tergeletak.

Korban luka parah lainnya adalah *Setya Novanto, ketua umum Golkar*. Selain nyaris lumpuh akibat ditabrak truk e-KTP yang dikemudikan Andi Narogong, keikutsertaan Setnov mendukung Ahok dalam pertempuran Ibukota membuat dia juga cedera berat. Banyak rakyat Golkar yang tidak setuju Setnov membawa partai itu memperkuat Ahok.

Diperkirakan, Setnov pun tidak dapat diselamatkan untuk bertahan hidup di kerajaan Golkar. Kondisi dia sudah parah, sekarat. Para ahli warisnya di Golkar mulai menunjukkan kesiapan mereka untuk mencari pengganti Setnov.

Para korban luka yang tidak begitu berat antara lain adalah *Nusron Purnomo* yang lebih senang dipanggil Nusron “Wahid”. Tetapi, beliau ini kelihatannya akan memerlukan konsultasi psikologis karena sangat terpukul dengan kekalahan Ahok. Nusron adalah orang dekat Ahok yang terkenal dengan “mata melototnya menghardik ulama” ketika berbicara di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne.

Komandan penting lainnya yang ikut cedera bersama kekalahan Ahok adalah *Surya Paloh*, ketua umum Partai NasDem. Tokoh Aceh asal ini jelas sangat kecewa atas kekalahan Ahok. Paloh memberikan dukungan habis-habisan kepada Ahok.

Tokoh spiritual Ahok, *Ahmad Syafii Maarif*, juga ikut terluka walaupun hanya cedera perasaan. Dia sangat mendambakan kemenangan Ahok. Saking kuat dan khusuknya menyokong Ahok, bekas pemimpin tertinggi Muhammadiyah ini sampai-sampai rela berhadapan dengan kaumnya sendiri demi kemenangan petahana.

Salah seorang komandan senior di koalisi Bu Mega untuk Ahok adalah *Luhut Binsar Panjaitan*. Di dalam pertempuran pilkada DKI, Luhut terbilang mengalami luka berat yang bakal sulit disembuhkan, tetapi dia sangat paham cara mengobatinya. Luhut sangat kecewa. Beliau inilah yang melakukan lobi ke segala arah untuk menggolkan Ahok menjadi gubernur DKI. Luhutlah yang bertugas untuk menepu-nepuk bahu para pimpinan parpol supaya ikut kaoalisi Bu Mega untuk memenangkan Ahok. Upaya Luhut untuk Ahok tidak ada duanya, kata banyak orang.

*Wiranto*, Menko Polhukam, ikut terkena sabetan pasukan Anies. Mantan jenderal ini menyerahkan partai Hanura ke koalisi Bu Mega untuk memperkuat kubu Ahok. Tetapi kelihatannya Wiranto hanya mengalami luka ringan sebab dia sejak awal tidak begitu serius mendukung Ahok; hanya bentuk solidaritas saja sekadar menyenangkan Presiden Jokowi yang mengangkatnya menjadi menko.

*Ruhut Sitompul*, salah seorang “penghalau embun” Ahok, juga mengalami luka dalam Pertempuan Jakarta tetapi tidak begitu parah. Mantan anggota DPR Partai Demokrat yang terkenal suka loncat ke mana-mana untuk bisa bertahan hidup, diperkirakan akan kasak-kusuk mencari tempat loncatan baru.

Sebagai penutup, korban perasaan yang paling besar tentunya dialami oleh *Ibu Megawati* yang telah bersusah payah mengasuh dan membesarkan “putra mahkota”. Beliau pasti sangat terpukul dan sekarang kelelahan. (-)

Sebuah catatan : Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan institusi yang pernah penulis berkarya

https://m.eramuslim.com/resensi-buku/resensi-buku-pre-order-eramuslim-digest-edisi-12-bahaya-imperialisme-kuning.htm