Muliakan Guru, Belajar dari Negeri Sakura Sampai Makkah

gaza sekolah tuna runguOleh: Anastasia
Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung

Seperti biasa pagi itu dia membawa tas dipenuhi buku-buku pelajaran, dengan harapan semoga kelak generasi bangsa ini bisa cerdas, tolong jangan katakan berapa gajinya, itu terlalu menyakitkan tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan, walaupun istana presiden dikepung guru honorer, menjerit meminta honor gaji, tetap tak bergeming, mungkin bagi pemimpin kita urusan mengecilkan speaker masjid lebih menarik perhatian mereka dari pada urusan keringat guru.

Guru pahlawan tanpa jasa menjadi simbol keabadian, jasanya terukir hingga nafas memisahkan raga, yah itulah selayaknya sikap seorang murid mengingat kebaikan gurunya, tapi apa boleh buat zaman telah berubah dulu guru adalah teladan, raja yang harus dihormati kini terbalik guru adalah “mesin” yang harus sabar meihat runtuhnya moralitas kaum muda. Kita patut mengerut dada melihat kasus pengeroyokan guru oleh orangtua murid di Makasar yang mana ini adalah secuil kisah pilunya dunia pendidikan, padahal jauh dari negeri sakura enam hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II (1942-1945), Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali bangsanya yang sudah porak-poranda. Ia memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup. Satu sumber menyebutkan bahwa jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat itu adalah sebanyak 45.000 orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya mendatangi para guru yang tinggal itu dan memberi perintah juga arahan.

Rakyat Jepang sangat menjunjung titah dari Kaisar dan dilaksanakan dengan penuh komitmen dan konsekuen, para guru dikumpulkan dan diberikan tugas berat membangun Jepang menjadi bangsa yang unggul, restorasi Jepang membangkitkan bangsanya menjadi lebih baik, tentu disini ada peran seorang guru, maka wajar di Jepang seorang guru sangat dihormati bahkan kita melihat kebudayaan Jepang melalui serial Doraemon sosok guru sangat ditakuti, seorang siswa dilarang memandang wajah gurunya apabila sedang ditegur, dia akan terus membungkuk sebagai rasa penyesalan.

Lantas bagaimana dengan islam, dalam kitab Ta’lim Muta’allim dijelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya; tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila dihadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya. Murid mestilah mendapatkan ridha dari gurunya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.” Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu’ murid terhadap gurunya, karena keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu, tawadhu’ murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia si murid. Sikap tunduk murid kepada guru justru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.

Perilaku para sahabat, yang memperoleh tarbiyah langsung dari Rasulullah SAW patut dijadikan contoh. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilahkan Zaid Bin Tsabit, untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya. Islam sangat memuliakan guru bukan hanya pada tataran teori, tapi mampu melahirkan pola sikap amaliyah sehari-hari, buah dari ilmu dan ketaqwaannya.

Maka wajar apabila hingga detik ini teladan ulama dan imam mazhab, namanya masih hidup diantara kita, tapi sekarang sebaliknya kita sangat sulit melahirkan genarasi sehebat mereka, mungkinkah karena sikap kita belum mampu seperti mereka yang telah memuliakan gurunya?. Wallahu’Alam