free hit counters
 

Surat Terbuka Fahri Hamzah Untuk Rezim dan Pendukungnya

Redaksi – Senin, 4 Jumadil Akhir 1440 H / 11 Februari 2019 11:30 WIB

Eramuslim.com –

Kepada kalian yth.

Ini surat untuk kalian, tapi aku tidak tau siapa persisnya kalian. Kalian seperti antara ada dan tiada, sulit dijelaskan. Maka mungkin ini bukan surat, atau surat tanpa alamat tujuan atau mungkin juga hanya sebuah catatan ringan tentang Negara Hukum kita.

Aku menulis untuk mengingatkan kalian yang sedang mabuk. Mungkin, kalian sudah terlalu lama menganggap bahwa hukum adalah alat dari kepentingan politik dan kekuasaan sehingga mulai gelap mata. Semua tak ada beda. Semua suka-suka.

Pagi ini, aku datang menemui sahabat, Ahmad Dhani yang telah diadili dan dibui, dalam waktu singkat dengan pasal UU yang sedang ramai menjerat pesohor dan politisi. Tapi berbeda dengan orang lain, beliau langsung ditahan. Dan tanpa hak menolak.

Delik kepada Ahmad Dhani memang tidak ada objek-nya. Tapi pasal yang dikenakan padanya adalah pasal penghinaan dan ujaran kebencian. Entah siapa yang dihina dan siapa yang ia benci tidak jelas, yang jelas dia akan dikurung setahun setengah ke depan.

Buat Ahmad Dhani 1,5 tahun bukanlah suatu yang berat. Aku tahu jiwanya kuat, aku tahu nyalinya besar. Dia tidak takut dengan Lapas Cipinang yang overload 400% lebih itu dan ia tidak menyesal tidur dan hidup bersama sesama tahanan dari berbagai kasus dan wilayah.



Yang kita sayangkan dari kasus Ahmad Dhani adalah cara hukum bekerja secara diskriminatif. Dan ini terjadi sejak kasus penistaan agama mencuat. Seolah, pengadilan itu mendendam dan akhirnya menggunakan instrumen penegakan hukum sebagai media balas dendam.

Itulah yang menjelaskan sekelompok lawyer menjadi tukang lapor & rata-rata sangat diperhatikan oleh aparat, sementara laporan sekaliber Wakil Ketua DPR Bidang Polkam (Fadli Zon -red) 8 kali tidak digubris sama sekali. Hukum seperti berpamrih, tajam ke bawah tumpul ke atas dan menyisir musuh penguasa.

Sekarang, seteru ini berlanjut dan telah mencapai titik akhir menjelang pergantian kekuasaan. Sepertinya kita sedang menyaksikan sebuah eskalasi yang berasal dari kutukan zaman perpecahan, persis sejak rezim ini mengambil tampuk kekuasaan.

Maka pintaku pada kalian, jangan hancurkan Negara Hukum kita. Hentikan segala bentuk politisasi hukum dan biarkan hukum bekerja dengan caranya sendiri yang netral. Sebab hukum yang berpihak seperti sekarang akan menabuh kebencian dan perasaan marah. Bisa meledak dan membakar kita.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus