free hit counters
 

Ulama Terdahulu dan Kemerdekaan di Atas Kertas

Eramuslim.com – Jelang perayaan HUT RI ke-72, digelar pertemuan putra putri pahlawan Indonesia. Mereka menilai Indonesia mengalami masalah persatuan, kesejahteraan, dan keamanan. Pun kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan.

Patut kiranya mengenang para pejuang dan pahlawan kemerdekaan. Terutama mengingatkan kembali jasa-jasa ulama terdahulu dan para santrinya.

Sejarah, lambat laun makin dikubur. Bahkan, terus dibelokan. Padahal kemerdekaan Indonesia ditopang perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri.

Kisah perjuangan para kiai dan santri, kian sirna dalam narasi sejarah Indonesia. Sejenak, kita tengok sklumit jejak mereka, dirangkai dari pelbagai sumber: tulisan maupun kisah tutur.

Bangsa ini punya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari. Dua ulama, dari satu guru, kiai besar Indonesia. Pendiri Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama, NU. Bukan saja mencerdaskan masyarakat pribumi ketika itu.

Namun, berdirinya Ormas Islam terbesar itu juga berperan sangat besar dalam melawan penjajah dan arus kristenisasi yang ditopang Belanda. Tapi, itu dulu.

Dulu, bangsa ini juga punya Kiai Subchi Parakan, dikenal dengan Kiai Bambu Runcing. Ada pula KH Abdullah Syafii, dijuluki Singa Betawi. Kiai Abbas Buntet Cirebon, kiai rujukan dalam strategi perang kemerdekaan.

Sejarah juga mencatat, dahsyatnya perjuangan Laskar Hizbullah yakni tentara rintisan para ulama Ahlussunah Wal Jamaah yang juga berandil besar dalam peperangan 10 November 1945.

Tentara Hizbullah kebanyakan para santri, dipimpin langsung KH Hasyim Asyari Jombang. Secara militer dipimpin KH Zainul Arifin Tasikmalaya dan KH Abbas Abdul Jamil dari Buntet Pesantren.

Sebelum Resolusi Jihad, muncul Fatwa Jihad. Lalu, muncul pertempuran 10 November yang ditetapkan Hari Pahlawan.

Di Pesantren Buntet, ada juga yang menyebut Buntet Pesantren, menjadi markas latihan Laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA.

Kiai Abbas membentuk dua regu Laskar Santri bernama Asybal dan Athfal. Cikal bakal militer di Indonesia lahir dari pasukan yang dibentuk para Kiai, begitu kisah tutur yang kerap kita dengar dari para pendahulu.

Sebetulnya agak heran juga. Kenapa para Jenderal militer Indonesia bukan dari kalangan kiai, ya. Barangkali, itulah tawadhu’ dan satu wujud keikhlasan para ulama terdahulu.

Lebih senang berjuang senyap, tak mau woro-woro, apalagi klaim itu ini. Selalu berbuat tanpa pamrih. Padahal sejarah perlawanan dahsyat mengusir penjajah lahir dari komando para Kiai.

Kita ingat sejarah Resolusi Jihad yang ditulis KH Hasyim Asyari: mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk satu kewadjiban bagi tiap-tiap orang Islam.

Cendikiawan Muslim Dr Adian Husaini, dalam satu catatannya menyebut, jauh sebelum Resolusi Jihad, di abad ke 18 telah terbit kitab jihad yang menjadi inspirasi gerakan jihad di Nusantara dalam melawan penjajah. Kitab tersebut, menurut Adian, ditulis Syeikh Abdu Somad al-Palimbani ulama dari Palembang, yang menulis buku Nasihat al-Muslimin wa Tazkirawat al-Mukminin fi Fadhail al-Jihad fi Sabilillah.

Tak hanya menulis kitab, beliau juga mengirimkan surat pada raja-raja Mataram untuk terus berjihad melawan penjajah, tulis Adian Husaini.

Sekarang kita ke Madura. Dalam agresi militer Belanda I 1947 di Madura digelar rapat akbar. Tepatnya di Pamekasan.

Kala itu, para Kiai berkumpul merumuskan perlawanan terhadap penjajah. KH Ahmad Basyir AS mengatakan, “Selama Indonesia dijajah, agama Islam, sulit untuk tegak di Indonesia!”

Dalam pra kemerdekaan, umat Islam Indonesia membentuk badan-badan perjuangan seperti Hizbullah. Pasukan ini juga membela umat, para kiai dan santri ketika Gontor diserang PKI.

Tak cukup lusinan buku menuliskan kiprah para ulama dari pelbagai daerah di Indonesia dalam pengorbanannya untuk kemerdekaan. Tapi bagaimana kondisi usia HUT Kemerdekaan RI ke-72 sekarang? Lagi-lagi tak cukup lusinan buku memaparkan kerusakan bangsa ini, terutama paska reformasi.

Menkeu Sri pernah menyebut, setiap warga negara Indonesia menanggung beban utang Rp 13,7 juta per orang. Merdeka bagaimana?

Sepanjang tahun 2016, dalam catatan ICW, terdapat 482 kasus korupsi dengan 1.011 tersangka dan ditaksir negara mengalami kerugian sebesar Rp 1,45 triliun. Ini setahun.

Itu soal koruptor. Belum lagi soal pencucian uang dan bentuk kejahatan finansial lain. Lalu, tata kelola negara, persatuan, kesejahteraan, keadilan, proses hukum: semakin babak belur.

Belakangan, bendera Merah Putih, berlatar pamer paha, dijejali di jalan raya. Hanya diturunkan begitu saja, tanpa sanksi, dibilang seni. Sedang Ulama dijadikan tersangka, ada yang dipenjara. Merdeka seperti apa?

Persis era PKI. Kemiskinan dipelihara, polarisasi bangsa dijaga, Ulama dan umat Muslim jadi bulan-bulanan ketidakadilan. Bukankah komunis hanya bisa hidup dalam arus kemiskinan dan adu domba?

Hegemoni kaum elit dan penguasaan tanah serta bisnis, dikuasi segelintir orang. Rakyat hanya mendapat tetesan sisa. Itu pun masih dicekik-cekik pajak.

Kemudian, mahasiswa mau diuber pajak, diminta bikin NPWP. Padahal, sejak harga minyak dunia turun, BBM naik. Dalihnya, pencabutan subsidi.

Entah apa makna harfiah dan kenyataan subsidi. Entah pula kemana larinya uang rakyat. Infrastruktur yang digaungkan? Hanya sampai groundbreaking, lalu tenggelam.

Lucunya lagi, pengusaha dibuat kebingungan dengan data makro ekonomi. Data yang tak sesuai kenyataan lapangan. Ada-ada saja cara mengalihkan kejahatan finansial masa lalu.

Lesunya ekonomi diperparah sajian berita yang kerap memantik emosi rakyat. Ketidakadilan terhadap Islam, rakyat kecil, seolah menjadi bumbu memancing kemurkaan masyarakat.

Untung semua sabar. Tak terpengaruh provokasi murahan yang bisa mengarah kerusuhan. Belum selesai dicekik dan diprovokasi, muncul lagi sandiwara pancasilais sejati.

Indonesia makin dijajah dari dalam negeri sendiri. Kemerdekaan seolah hanya di atas kertas. Harga-harga melangit, lalu ada yang mengambil keuntungan dengan kran impor.

Dari sekitar 100 ribu kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “rakyat” dan “umat” menjadi barang seksi. Sesuatu yang cepat untuk dijual jadi keuntungan berlipat-lipat.

Sedang negeri ini dibangun dari jutaan peluru, ribuan liter darah, dan belasan juta nyawa. Mereka berkorban tanpa pamrih. Semata membela agama dan bangsa. Mewariskan untuk generasi.

Lalu, kita berteriak: UUD 1945 dan Pancasila. Kenyataannya, UUD saat ini hasil amandemen satu produk reformasi. Pancasila? Sekadar catatan dan hafalan. Bahkan makin banyak yang tak hafal.

Bukankah rumusan Pancasila diambil dari intisari ayat-ayat Quran? Naif juga, beberapa umat Muslim masih ada yang menolaknya. Kemudian Piagam Jakarta dihapuskan.

Lupa, jika rumusan itu lahir dari panggilan jihad, pekik takbir, rentetan peluru, ledakan bom, ceceran darah, gelimang nyawa anak bangsa. Terutama para santri dan ulama.

Dan yang mengaku penyampai agama, kini, di tengah derita bangsa yang kesulitan ekonomi, terjebak pesona kemewahan. Bahkan dipamerkan.

Mau diletakan dimana wajah kita pada Ulama-ulama terdahulu? Taruh dimana nurani kita, pada pengorbanan tanpa pamrih mereka?

Kemerdekaan yang diperjuangkan, kita kotori dengan kerusakan. Kita khianati  perpecahan. Nilai-nilai kejujuran kita kubur, diganti kedustaan dan kecurangan. Pengorbanan diubah jadi badut religionomik dan kemewahan.

Bahkan, gaung pecah belah juga datang dari, yang katanya penyampai agama. Seenaknya mengkerdilkan lagu kebangsaan. Mengkerdilkan jasa dan ajaran Ulama-ulama terdahulu.

La haula wala quwatta illa billah. Kita butuh sosok pemersatu. Butuh dakwah-dakwah sejuk tapi tetap tegas, yang menembus jiwa-jiwa. Mampu menahan syahwat popularitas, menjaga jarak dengan penguasa. Mengingatkan kedzaliman yang makin telanjang.

Bukan malah mengusik amaliah sesama umat Muslim yang sudah terkoyak ukhuwahnya. Hentikanlah pancingan opini yang melahirkan saling caci antar umat.

Melempar provokasi murahan dengan menjual dalil. Menebar pecah belah dalam tausiah. Kalian bidah. Kamilah yang benar, kami ahli surga. Malaikat dianggap tak ada.

Sedang sang penjaja, terkenal bukan dari kiprah dan pengorbanan. Tapi muncul tiba-tiba, tenar dadakan, dari polesan media. Persis pola pencitraan politisi.

Apa iya didukung pula beasiswa dan sponsor ini dan itu? Sedang ulama terdahulu sampai menjual barang-barangnya, hanya tuk menuntut​ ilmu. Berlelah-lelah, bersusah-susah. Saat namanya besar pun tetap jaga tirakat dalam hidupnya.

Saat ini hubbud dunya, sesuai nubuah, menjamur di hadapan kita. Tak terkecuali penyampai agama. Kepincut kepopuleran dan kemewahan. Era Kalabendu, gelombang fitnah akhir zaman. Masa yang terbolak balik.

Tanpa malu kita menumpuk harta di tengah jerit tangis umat yang makin kesusahan hidupnya. Dimana mau diletakan qalbu atas Qs. al Maun?

Kita rindu sosok pemberi ketauladanan akhlak, berbuat tanpa pamrih, menebar kesejukan. Jika pun kaya raya tapi hidupnya tetap seadanya, hartanya diberikan untuk umat, menghindari kepopuleran, rela berkorban laiknya jejak para ulama terdahulu.

Tak perlu kita berkhayal mengikuti jejak Nabi. Cukup sadar diri. Itu terlalu melangit. Mustahil. Baru mampu menyulap tampilan dan ibadah fisik serasa sudah mengikuti Nabi dengan ciamik.

Ketika kita mengaku ahli sunah seperti klaim konyol bagi diri, yang cuma produk akhir zaman. Malu sekali pada hewan dan tumbuhan yang selalu berdzikir dengan senyap. Sedang kita, mengikuti pengorbanan Ulama-ulama terdahulu saja tak mau dan tak mampu.

Hari-hari seperti ini rasanya perlu membuka lagi kisah Rasul, sahabat, ulama, pahlawan, leluhur, dan pejuang-pejuang bangsa Indonesia.

Sudah beberapa tahun ke belakang, kita kehilangan identitas sebagai umat yang rahmatan lil alamiin, bangsa ramah, santun, mementingkan orang lain, berbudaya malu.

Kita mudah melupakan perjuangan dan pengorbanan pejuang meraih kemerdekaan bangsa ini. Lalai mempelajari. Dan HUT RI selalu dilewati varian seremoni. Hanya itu.

Lantas masih malas berupaya keras mempraktikkan warisan nilai-nilai luhur Ulama terdahulu. Seperti anak ayam yang kehilangan induk. Atau bisa jadi: kita tak kenal lagi jati diri bangsa.

Bahkan, seolah merdeka hanya di atas kertas. Shalaallahu alaa Muhammad.

Penulis: Rudi Agung



*) Pemerhati masalah sosial, tinggal di Jakarta

(kl/republikaonline)

Resensi Buku : Telah Terbit, Digest 10, Untold History 2 , Penggelapan Sejarah Indonesia Hingga Reformasi

loading...

Suara Pembaca Terbaru