free hit counters
 

Daud Rashid Menjawab Tuduhan Shamsi Ali (1)

Redaksi – Minggu, 13 Agustus 2017 07:17 WIB

Eramuslim.com – Sejak dihubungi oleh Sdr Amiruddin, anggota pengurus yang disahkan oleh Pengadilan, meminta saya untuk menjadi Imam AlHikmah, saya tidak punya firasat buruk akan konflik dengan Syamsi Ali. Bahkan yang terbayang oleh saya, kami akan bekerja sama membangun peta dakwah di Amerika, karena beliau memiliki pengalaman Amerika sedang saya hanya mengenal masyarakat Amerika yang umum umum saja dan dari jauh.

Barangkali akan ada hal hal yang disinergikan untuk kepentingan dakwah di US. Itulah lintasan dalam pikiran saya pada mulanya.

Tetapi rupanya harapan itu berubah seratus delapan puluh derajat karena sang tokoh tidak dapat menerima kehadiran siapa saja untuk berdakwah di Amerika khususnya di New York. Wallahu Alam apa sebab hakikinya. Hanya Allah yang mengetahui pastinya.

Membalas tulisan-tulisan Syamsi Ali yg berisi pemutar balikan fakta , menyembunyikan kebenaran, bagi saya sebenarnya merupakan perbuatan sia-sia. Masih banyak tugas saya yang lebih bermanfaat ketimbang menjawab tulisan yang kurang bermutu. Apalagi kalau teringat pada hadits Nabi Saw: “Di antara tanda bagusnya keislaman sesorang, meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat.”

Sejak saya di New York, berbagai tulisan SA yang isinya fitnah dan kebohongan, yang dia sebar di facebook al-Hikmah, kadang memakai nama pengikutnya, tidak saya hiraukan kecuali sekali tulisan untuk menjelaskan suatu kejadian. Bagi saya tak banyak manfaat menjawab tulisan dia. Di dalam ajaran Islam perbuatan ini namanya “jidal” yang dilarang. Toh kedustaannya akan terkuak hari demi hari. Masyarakat luas akan tahu siapa dia, tanpa melalui saya. Allah Taala akan membongkar aibnya.

Sepak terjang beliau sudah banyak diketahui masyarakat New York, yang kalau dikumpulkan cerita pengalaman pribadi mereka tentang SA bisa dibuat jadi buku. Wabil khusus oleh para ustaz yang pernah berkunjung ke US, apalagi kalau sudah berkali-kali datang untuk berdakwah. Mereka pada akhirnya akan menemui masalah dengan imigrasi dan tidak bisa masuk US. Di antara mereka ada yang datang hingga mendarat di bandara di US tetapi tidak bisa masuk, lalu dipulangkan. Ada lagi yang bisa masuk setelah berjam-jam diinterogasi oleh Homeland security di bandara. Ada pula yang tidak bisa masuk pesawat ( boarding ) di tempat mereka transit sebelum berangkat ke US, akhirnya pulang ke tanah air. Kejadian ini semua nya pernah menimpa para ustaz itu. Mereka juga faham siapa yang berperan dalam kasus mereka itu. Bahkan salah seorang dari mereka menyampaikan ucapan Syamsi Ali: “Jangan memancing di kolam saya”.

Masjid AlHikmah sudah berdiri lebih dari dua puluh tahun lamanya. Ustaz-ustaz yang pernah menjadi Imam di sana punya kisah masing-masing yang kalau kita dengarkan satu persatu, kita larut dalam keharuan. Kok ada manusia yang tega berbuat seperti itu terhadap saudara seimannya? Masing-masing Imam itu pulang karena terpaksa tidak kuat menghadapi konspirasi kuat.

Seorang Imam bertitel Doktor tamatan US pernah jadi Imam di AlHikmah, masyarakat senang padanya. Mereka merasa tercerahkan oleh Imam dan akhlaknya demikian baik.Tapi ujungnya diberhentikan oleh pengurus padahal kartu hijaunya sebentar lagi akan dikirim oleh imigrasi. Ditambah istrinya yang hamil berat, terpaksa harus pulang segera ke kampung, karena pengurus Masjid memecatnya di tengah perjalanan tugas. Ia pun terpaksa pulang meminjam uang jamaahnya untuk membeli tiket keluarga, karena tak punya dana. Ia pulang karena tak kuat menghadapi konspirasi.

Pada saat sang Imam mulai disukai jamaah, dan akan berpotensi menjadi pesaing, pada saat itu sang Imam harus siap-siap meninggalkan masjid AlHikmah. Kalau tidak mau pulang, tunggu saja akan dipulangkan dengan cara khusus. Inilah yang saya alami.

Sejak saya tiba pertama bulan Ramadan di AlHikmah 2016, saya didatangi oleh Syamsi Ali dengan temannya Aji Jumena setelah tarawih. Saya yakin Syamsi Ali masih ingat kejadian ini. Katanya, kedudukan saya sebagai Imam bermasalah secara imigrasi karena saya datang dengan visa turis. Orang yang bermasalah dengan imigrasi bisa dideportasi. Apakah ucapan ini menunjukkan kepribadian seorang Muslim apalagi seorang da’i? Atau ucapan seorang preman yang mengancam-ancam orang yang tidak disukainya.

Cerita tentang nasib para Imam Alhikmah itu disampaikan ke saya oleh banyak jamaah. Jadi saya bukan orang pertama mengalami penderitaan atau harasment sebagai Imam AlHikmah, hanya saja tingkat ketahanan orang beda-beda. Ada yang digertak, langsung kabur. Ada yang diintimidasi lalu angkat koper. Saya mencoba memilih bertahan sampai titik terakhir. Karena saya tidak merasa ada sesuatu yang salah pada diri saya, baik secara aturan hukum ataupun dalam ajaran yang saya sampaikan kepada jamaah. Semuanya berdasar kepada Dalil dan hujjah. Apa yang saya takuti? Yang salah pada saya hanya satu, tidak mengikuti apa maunya Syamsi Ali. Dia maunya saya tidak ada di situ, maka hendaknya saya pulang. Teringat ucapan Syamsi Ali pada suatu sore di awal kedatangan saya, setelah dia selesai ceramah, apa katanya? “Mengapa Anda kemari? Di sini tidak ada pekerjaan?” Masih kah Syamsi ingat akan ucapan-ucapan yang dilontarkannya? Apakah ucapan ini sebagai ucapan sambutan selamat datang atau ucapan keberatan atas kedatangan saya untuk menjadi Imam. Silakan anda tafsirkan!

Jadi apa yang saya alami terakhir ini bahwa visa saya yang sah sebagai Religious Worker yang dikeluarkan oleh Department of Homeland Security US, baru nanti berakhir pada Januari 2019, kenapa bisa diputus ditengah jalan oleh pengaduan pengurus yang legalitasnya belum disahkan oleh Pengadilan NY?!. Sementara ditetapkan oleh hakim di Supreme Court New York menjadi Imam bertugas memimpin solat jamaah lima waktu.

Pemutusan visa itupun tidak disampaikan kepada saya dengan surat resmi imigrasi. Sungguh aneh bukan?! Bagaimana sebuah lembaga resmi negara maju tidak mengirimkan surat pemutusan visa kepada orang yang sudah memiliki visa resmi? Mustahil. Berarti surat pemberitahuan imigrasi itu sengaja tidak disampaikan kepada saya karena semua surat yang masuk ke alamat Masjid masuknya ke mail box masjid yang kuncinya hanya dipegang oleh pengurus baru pengikut Syamsi Ali. Tidak disampaikannya surat resmi itu pasti punya maksud tertentu yang sudah dipahami orang.

Begitu juga yang dilakukan Syamsi Ali waktu saya menyampaikan khutbah jumat sekitar dua pekan sebelum Ramadan 2017. Dia datang membawa polisi NYPD untuk menurunkan saya dari “mimbar” jumat atau juga meminta polisi itu untuk menangkap saya. Karena menangkapkan orang ke polisi di Masjid sudah dilakukan Syamsi Ali berkali kali terhadap salah seorang pengurus yang tidak sejalan dengan dia. Tiga kali teman tersebut dipenjarakan oleh Syamsi Ali tapi akhirnya tetap keluar karena tak terbukti melakukan kejahatan. Baginilah bagusnya akhlak seorang Syamsi Ali.

Jamaah yang sedang tekun mendengarkan khutbah saya tersentak melihat polisi masuk Masjid dengan memakai sepatu polisi. Bersamaan dengan masuknya Syamsi Ali dari pintu wanita Masjid dari arah belakang. Jamaah spontan berteriak memprotes “shoes” karena semua mengetahui siapapun tak boleh masuk Masjid dengan memakai sepatu. Tapi ini tetap dilakukan oleh Syamsi Ali guna menurunkan saya atau menangkapkan saya. Akhirnya sang polisi mundur dan keluar dari ruangan solat. Saya tetap melanjutkan khutbah hingga selelsai walaupun suasana sempat hingar bingar dan pertengkaran di dalam masjid karena kedatangan Syamsi membawa polisi masuk ke dalam ruangan solat. Video tentang kejadian inipun serta merta meluas secara viral di masyarakat di Indonesia.

Kejadian ini berlangsung sekitar 2 pekan jelang Ramadan dan penangkapan saya terjadi pada bulan Ramadan. Silakan pembaca tafsirkan sendiri apakah penangkapan saya ada kaitannya dengan Syamsi Ali atau karena visa saya sudah habis?!

Belum lagi cerita penderitaan jamaah saya untuk melaksanakan solat tarawih di Masjid alHikmah dengan arah kiblat menuju ka’bah, yang tidak diizinkan oleh pengurus yang notabene belum disahkan oleh pengadilan dan statusnya masih dalam perkara. Karena jamaah tidak mau mengikuti arah kiblat yang tidak benar berdasarkan standar ilmiah baik Fiqh dan teknologi.

Kami tarawih malam pertama di lantai basement Masjid, sementara pengurus dan pengikut Syamsi Ali bertarawih di dalam ruangan Masjid. Jamaah saya memilih untuk mencari alternatif tempat solat yang lain untuk menghindari pertengkaran di dalam Masjid apalagi di dalam bulan suci Ramadhan. Jamaah saya senantiasa memilih jalan untuk mengalah dan menghindari konflik selama tidak mengorbankan kebenaran.

Karena melihat pelaksanaan tarawih, kami bersama jamaah internasional dari berbagai asal kebangsaan berlangsung sukses dan khusyuk sekalipun di basement. Lalu pada malam berikutnya Pengurus yang belum sah itu mengunci pintu basement supaya kami tidak bisa solat tarawih lagi. Akhirnya jamaah yang tetap solat dengan arah kiblat yang benar, memilih untuk solat di halamam parkir Masjid sepanjang bulan Ramadan hingga saya ditahan oleh imigrasi. Yang hebat bahwa semangat mereka tidak surut walau sedikitpun untuk solat di belakang saya sekalipun solatnya di bawah tenda dan pernah sekali disirami oleh pihak tertentu supaya lembab dan basah. Akhirnya jamaah saya mengalasinya dengan meja plastik. Namun jumlah mereka alhamdulillah lebih banyak dari jamaah yang mengikuti arah kiblat yang salah. Karena mereka hidup di negara maju dengan perangkat alat teknologi canggih. Niat mereka hanya mencari ridho Allah tidak gengsi gengsian. Kenapa masih ngotot dengan arah yang salah padahal Anda hidup di negara dan zaman yang teknologinya tercanggih. Masjid-masjid se New York pun sejauh yng saya ketahui semuanya mengarahkan arah kiblatnya ke North East sedangkan jamaah Syamsi dan Pengurus mengarahnya ke South East? Separah itu jarak perbedaannya. Pernah melalui pengurus kepada saya disampaikan kalo saya mau saja kembali ke arah South East yang salah itu, maka semua kegiatan saya yang selama ini dilarang oleh pengurus pro Syamsi Ali akan diperbolehkan kembali. Tapi apakah saya menyerah kepada kemauan yang jelas jelas batil hanya untuk mengharapkan agar kegiatan taklim saya di Masjid itu kembali diperbolehkan oleh pengurus setelah mereka paksa untuk dibatalkan? Saya pasti memilih kebenaran. Pantang mundur dari kebenaran. Begitulah ajaran sunnah Nabi yang benar.

Sungguh miris sepanjang bulan Ramadan pelaksanaan solat wajib, khususnya Magrib dan Isya berlangsung dua kali. Pertama jamaah yang saya jadi Imamnya menghadap ke arah Kabah yang benar. Setelah kami selesai, belum sempat berzikir, mereka iqomah, kami dipaksa keluar oleh pengurus karena mereka mau solat ke arah South East (zimbabwe). Merekapun iqomat dan Syamsi Ali maju jadi Imam. Namun Jemaah yang ikut dengan saya alhamdulillah jumlahnya jauh lebih banyak, ketika melihat arah kiblat jamaah yang kedua, mereka, semua pada kebingungan. Kenapa dalam satu masjid ada dua jamaah solat wajib dengan arah yang berbeda. Mereka terheran heran dan mengatakan ini fitnah alias membingungkan. Padahal semua orang memiliki aplikasi penunjuk arah kiblat di HP masing masing. Kenapa jamaah mereka begitu saja mengikuti apa yang menjadi kemauan Syamsi Ali walau itu jelas jelas salah. Di rumah nya masing masing mereka pastilah mengikuti petunjuk kompas dan GPS ketika mereka mau solat. Dan apa yang membuat Syamsi tidak mau mengikuti arah kiblat yang benar padahal dia kalo solat di masjid Jamaica yang merupakan tempat bekerjanya sebagai Direktur di situ, arah kiblatnya ke North East. Di alHikmah dia mengarah ke Tenggara sedang di Jamaica, dia solat mengarah ke North East (Timur Laut). Karena arah Kiblat Masjid Jamaica itu sama dengan Masjid masjid lainnya, ke arah Timur Laut. Apakah karena mempertahankan gengsi (hawa nafsu) di depan jamaah pengikutnya?

Soal deportasi, dalam aturan keimigrasian dibedakan antara “deported” dengan “voluntary departure”. Yang pertama paspornya distempel deported dan tidak bisa masuk US selama 10 tahun. Berbeda dengan “voluntary departure” pulang sukarela. Paspornya tidak distempel dan dapat kembali setelah 3 tahun. Kepulangan saya melalui model yang terakhir ini. Paspor saya bersih dari stempel deported. Ini adalah hasil putusan hakim pada sidang imigrasi kasus saya setelah bertarung antara jaksa dan pengacara saya selama 2 jam. Jaksa menuntut supaya saya deported. Sementara pengacara saya membantah, dan meminta hakim untuk memutuskan saya pulang sukarela. Hakim memenangkan permintaan pengacara saya. Sungguh ajaib sang jaksa mengajukan daftar 300 nama yang menolak saya sebagai Imam. Dari mana jaksa mendapatkan daftar nama itu? Pastilah dari pengurus baru yang belum sah tadi. Lalu apakah daftar nama orang tak setuju itu memang dari awal menanda tangani untuk penolakan saya sebagai Imam. Rasanya kurang diterima akal karena waktunya sangat pendek. Dugaan kuat bahwa daftar tanda tangan itu dibuat sudah lama untuk tujuan lain, yaitu daftar nama pemilih waktu pihak mereka melaksanakan pemilihan formatur pengurus baru. Jadi tinggal copy paste dan mengganti judul saja lalu difoto kopi. Aslinya tidak diketahui di mana.
Bagaimana mungkin Syamsi mendakwa kehadiran saya karena desakan salah satu pihak dari pengurus yang bertikai. Ini yang benar-benar menggelikan.

Perlu diketahui bahwa surat permohonan untuk jadi Imam Masjid alHikmah selama 3 tahun, dikirim ke saya dan ke UIN Syarif Hidayatullah tempat saya bekerja. Yang menanda tangani surat itu adalah sdr Amiruddin Syumaila sebagai anggota interim board yang ditunjuk oleh pengadilan New York. Board Masjid alHikmah terdiri dari dua pihak, jumlah seluruh empat orang. Jadi setiap pihak beranggotakan dua orang. Penunjukan ini dilakukan oleh pengadilan karena Board sebelumnya yang diketuai oleh Syamsi Ali dibubarkan oleh Pengadilan karena dalam kepengurusan itu telah terjadi penyelewengan dana Masjid sehingga board Masjid itu dibubarkan dan ditunjuklah sebagai penggantinya empat orang dari dua pihak; yang pro dsn kontra Syamsi Ali. Amiruddin sendiri berada di pihak yang pro Syamsi. Pihak yang kontra terdiri dari dua orang juga dan belakangan menjadi pendukung keberadaan saya. Amir ketika mengundang saya tidak pernah didesak oleh pihak yang satunya yang kontra Syamsi. Bahkan Amir ketika mengundang saya aslinya tanpa sepengetahuan pihak yang kontra tadi. Di sini terlihat ketidak jujuran Syamsi.
Tidak diketahui jamaah? Amir menyampaikan rencana mengundang saya itu di depan jamaah yang besar jumlahnya dan mereka meresponnya dengan persetujuan dalam forum itu. Dan Syamsi Ali ada di situ. Syamsi juga mengatakan kepada Amir kalo dengan gaji 50.000 sampai-60 000 dollar pertahun, dirinya juga mau. Begitu penjelasan Amir dan sejumlah besar jamaah yang hadir kepada saya.
Perlu disebutkan di sini bahwa gaji saya sebagai Imam resmi sudah diputus oleh pengurus sejak Desember 2016 hingga hari saya meninggalkan Masjid alHikmah bulan juni 2017.
Hingga hari ini belum ada kabar tentang pembayaran gaji saya yang diputus padahal semua orang mengetahui bahwa soal gaji adalah soal sensitif… (bersambung).

Daud Rashid

(dz/wa)

Tulisan ini merespon dari berita sebelumnya  :

Klarifikasi Ust. Shamsi Ali Soal Keterangan Ust. Daud Rasyid dan Masjid Al-Hikmah NY

loading...

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus