Filosofi Hidup Gus Baha yang Jarang Diketahui Orang

Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja.”

Hidup ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet, asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup.”

Biografi Gus Baha
Gus Baha lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Ayah Gus Baha (KH Nursalim) merupakan murid dari KH Arwani al-Hafidz Kudus dan KH Abdullah Salam al-Hafidz Kajen Pati, yang nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Dari silsilah keluarga ibu, Gus Baha menjadi bagian dari keluarga besar ulama Lasem, dari Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sarang, Gus Baha menikah dengan seorang putri Kiyai yang bernama Ning Winda pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Setelah menikah, Gus Baha hidup mandiri dengan keluarga barunya dan menetap di Yogyakarta. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya.

Semenjak Gus Baha menetap di Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan. Hingga akhirnya mereka menyusul Gus Baha ke Yogya dan patungan menyewa rumah di dekat rumah beliau. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar rumah Gus Baha ikut ngaji kepada beliau.

Keilmuan
Gus Baha kecil dididik belajar dan menghafalkan Al-Qur’an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan guru ayahnya yaitu KH Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha di usianya yang masih muda, mampu menghafal Al-Qur’an 30 Juz beserta Qiro’ahnya.

Menginjak remaja, ayahnya menitipkan Gus Baha untuk mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Pondok Al-Anwar tepat berada sekitar 10 KM arah timur dari rumahnya.