Janda Fakir Ini Tak Dapat Daging Kurban, Namun Selalu Dimintai Dana Pembangunan Masjid
Eramuslim.com - Sudah tiga kali, yang berarti tiga tahun, daging kurban tidak pernah mampir ke rumahnya. Rumahnya berada di dalam kompleks menengah, walau demikian fisik rumah janda dua anak ini termasuk yang paling ringkih dan tidak pernah dipoles renovsi karena keterbatasan dana. Beda dengan rumah para tetangganya yang bagus-bagus. Jarak dengan masjid terbesar di kompleksnya hanya terhalang tujuh buah rumah. Dia pun sering sholat dan hadir dalam kajian-kaian yang diadakan di masjid tersebut.
Kemarin para tetangganya terlihat sibuk membuat sate. Asap mengebul di mana-mana menguarkan wangi daging terbakar yang lezat. Para tetangganya mengeluarkan mobil-mobilnya dan memarkir di bahu jalan kompleks agar tidak berdekatan dengan tungku atau api pembakaran. Perempuan janda ini ada di dalam rumah bersama dua anaknya. Mereka bertiga hanya bisa mencium wangi daging dibakar, dan selepas isya tertidur dengan perut hanya diganjal mi instant.
Anaknya yang paling kecil, perempuan dan masih duduk di kelas lima sekolah dasar bertanya, "Mi, kenapa kita tidak pernah dapat daging kurban?"
Si Ibu hanya tersenyum dan bilang jika daging kurban mungkin diberikan hanya kepada yang membutuhkan. "Kita masih ada makanan nak, jadi kasian mereka yang tidak punya makanan, makanya dikasih daging kurban..." Walau tersenyum, namun hati si ibu tersayat pedih. Bagaimana tidak, dia tidak mengerti kenapa para tetangganya yang jauh lebih makmur selalu dapat daging kurban namun dirinya dan anak-anaknya yang seperti itu malah sudah bertahun-tahun tidak pernah kebagian.
Yang selalu datang ke rumahnya, hanya amplop putih berkop masjid yang diselipkan di pengait pagarnya, berisi surat permintaan dana untuk pembangunan masjid yang sedang direnovasi. Ibu itu tidak pernah menyumbang dalam jumlah besar, hanya saja setiap ke masjid untuk ikut kajian dia selalu menyelipkan beberapa ribu rupiah ke kotak infaq pembangunan masjid. Sebagai manusia biasa, hatinya menjadi sedih mengingat hal itu, namun perasaan itu secepatnya ditampik dan menjaga prasangka baik kepada Allah.
"Ah mungkin daging kurbannya sedikit sehingga rumahnya selalu tidak kebagian," hiburnya. Namun bagian hatinya yang lain protes, "Tapi kenapa para tetangganya yang jauh lebih mampu selalu kebagian?"
"Ah mungkin pengurus masjid lupa terhadapnya sehingga bertahun-tahun daging kurban tak pernah mampir mengetuk pintu rumahnya..." Namun lagi-lagi bagian hatinya yang lain protes, "Tapi mengapa surat pemintaan dana pembangunan masjid itu tidak pernah lupa mendatangi rumah ini?"
Tahun lalu, seorang pengantar daging kurban datang ke rumahnya sambil membawa satu bungkus plastik. Dia mengetuk pintu dan kepada si ibu dia berkata, "Bu, pak Fulan sepertinya sedang tidak ada di rumah (Fulan ini tetangga rumah di samping kanannya, rumahnya besar dengan garasi dimuati dua mobil). Ini ada daging kurban untuk Pak Fulan, kami nitip ya bu..."
Si Ibu itu mengangguk dan tetap tersenyum. Padahal dia sendiri tidak kebagian.
Lagi dan lagi, si ibu itu cuma hanya bisa berdoa. Dia yakin seyakin-yakinnya jika rezeki dari Allah tidak pernah tertukar. Namun sebagai manusia biasa, tetap saja ada ribuan tanda tanya kenapa hal itu bisa terjadi.
Dan dia selalu menghibur diri dengan berkata dalam batin, "Mungkin Alllah menyimpan daging-daging kurban untukku dan untuk anak-anakku di sisi-Nya, sehingga kelak akan bisa dinikmati di jannah nantinya. Aamiin..." [end/dari penuturan seorang ibu di Jatiasih, Cibubur]