eramuslim

Taubatnya Sya'labah bin Abdul Rahman

Erauslim.com - Tsalabah bin Abdul Rahman ra adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau berasal

dari kalangan Anshar, dan selalu setia melayani Rasulullah Saw sejak beliau ra masuk

Islam.

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan untuk menunaikan sebuah urusan, secara tidak

sengaja Tsalabah ra melihat seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Rasa takutnya

akan Allah Swt muncul seketika, ia takut jika Allah Swt akan menurunkan wahyu atas

apa yang telah terjadi. Maka ia lari hingga mencapai pegunungan, tinggal disana dan

senantiasa bertaubat dan menangis kepada Allah Swt selama 40 hari.

Malaikat Jibril as menyampaikan perihal ini kpd Rasul Saw, shg Rasulullah Saw

meminta kepada beberapa sahabat Anshar untuk menjemputnya. Ketika sampai Madinah,

Rasulullah Saw sedang memimpin shalat berjamaah. Maka shalatlah mereka, namun

Tsalabah ra masih dengan rasa berdosanya, memilih shaf paling belakang. Ketika ia

mendengar ayat Qur'an yg sdg dibaca Rasul Saw, ia seketika pingsan. Selesai shalat,

Rasulullah Saw membangunkannya dan menanyakan perihal dirinya.

"Apa yg menyebabkan kau pergi dariku?," tanya Rasul.

"Dosaku, ya Rasulullah," jawabnya.

"Bukankah aku pernah menunjukkan ayat yg dpt menghapus dosa dan kesalahan (QS.

2:201)?," tanya Rasul.

"Betul, akan tetapi dosaku teramat besar, ya Rasulullah," jawabnya.

"Akan tetapi, Kalam Allah itu lebih besar lagi," jawab Rasulullah Saw.

Setelah itu, Rasulullah Saw memerintahkan agar Tsalabah dibawa kerumahnya. Namun

setelah sampai dirumah, Tsalabah ra jatuh sakit, hingga akhirnya Rasulullah Saw yang

mendengar kabar sakitnya Tsalabah ra menjenguknya. Tsalabah ra masih malu karena

rasa bersalahnya selalu menggeser kepalanya dari pangkuan Rasulullah Saw.

"Mengapa kamu geser kepalamu dari pangkuanku?," tanya Rasulullah Saw.

"Karena kepala ini penuh dosa," jawab Tsalabah ra.

"Apa yg kamu keluhkan?," tanya Nabi Saw kepadanya.

"Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulangku, dagingku, dan kulitku," jawab

Tsalabah ra.

"Apa yang kamu inginkan?," tanya Nabi Saw.

"Ampunan Rabbku," jawabnya.

Kemudian turunlah Jibril as kpd Nabi Saw dengan membawa wahyu dr Allah Swt,

"Andaikata hamba-Ku ini meghadap-Ku dengan kesalahannya sepenuh bumi, Aku akan

menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula."

Nabi Saw menyampaikan wahyu tersebut kepada Tsalabah ra, dan seketika ia terpekik

dan meninggal. Maka Rasulullah Saw memerintahkan agar ia segera dimandikan dan

dikafani. Ketika selesai menyalatinya, beliau Saw berjalan sambil berjingkat.

Salah seorang sahabat menanyakan mengapa Rasulullah Saw berjalan sambil berjingkat

seperti itu. "Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku

tidak mampu meletakkan kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat

Tsalabah sangatlah banyak," jawab Rasulullah Saw.

Kisah Tsalabah ra, seorang sahabat yang mulia, memberikan kita beberapa hikmah. Ada

keagungan dalam sikap Tsalabah ra dalam menyikapi rasa bersalahnya. Kesalahan

Tsalabah ra mungkin merupakan sebuah kesalahan yang sepele untuk kita, namun tidak

untuk seorang Tsalabah ra.

Yang dianggap sebagai dosa besar bagi Tsalabah adalah SECARA TIDAK SENGAJA melihat

seorang wanita yang sedang mandi. Ketidaksengajaan inilah yang memicu penyesalan dan taubat dari Tsalabah ra. Sedemikian mulia akhlakmu, hai Tsalabah!

Dan coba kita renungkan perjalanan taubatnya Tsalabah ra. Langkah pertama adalah

ketakutan akan kuasa Allh Swt. Rasa takut akan kuasa Allah Swt mencerminkan betapa

Tsalabah ra adalah manusia yang ihsan, dimana ia tahu dan yakin walaupun tidak ada

seorang pun yang bersamanya saat itu, namun Allah Swt ada dan mengetahui apa yang

dilakukannya. Takutnya Tsalabah ra akan azab Allah Swt atasnya segera menuntunnya ke langkah selanjutnya, yaitu penyesalan.

Penyesalan yang penuh dengan sujud dan tangis selama 40 hari. Hingga Allah Swt

menunjukkan Kasih-Nya dengan mengirim Jibril as untuk mengabarkan mengenai Tsalabah ra yang berada di atas pegunungan, ditempatnya sedang bertobat. Bahkan setelah dijemput, Tsalabah ra masih dalam nuansa penyesalan dan takut yang membuatnya pingsan ketika mendengar ayat Allah yang dibacakan oleh Rasulullah Saw dalam shalatnya. Penyesalan yang kemudian menyebabkan sakitnya Tsalabah ra, hingga Allah Swt menegaskan keagungan-Nya dan ampunan-Nya kepada Tsalabah ra.

Tahap terakhir adalah ampunan Allah Swt atas Tsalabah ra. Sangat terlihat betapa

Allah Swt mencintai hamba-hamba-Nya yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Jika

seorang hamba sudah bertobat dan datang kepada Allah membawa kesalahan seisi dunia, maka akan disambut-Nya dengan ampunan seisi dunia pula. Yaa Allah, subhanaka yaa Ghofururrahim.

Taubat adalah rezeki setiap manusia yang seringkali dilupakan. Allah Swt membuka

pintu taubat selapang-lapangnya bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Selama hamba-Nya tidak mempersekutukan Allah Swt, maka nikmat taubat itu ada untuknya.

Sungguh merugi manusia yang lalai menikmati rezeki taubat ini, taubat ini gratis

dari Allah Swt dan tanpa tedeng aling-aling. Sebuah kehinaan jika memohon ampunan

atau maaf dari sesama manusia, namun adalah sebuah kemuliaan untuk memohon ampun dari Allah Swt dengan sebaik-baiknya permohonan.[]

Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah Al-Anshari, dikutip dr mukhatashar Kitabit-Tawwabiin yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.